Perkembangan globalisasi telah mendorong terciptanya teknologi yang begitu canggih hingga melahirkan new world era dalam tatanan sosial dengan bentuk dunia virtual. Keberadaan internet dan sosial media menjadi salah satu contoh dari adanya new world era industry 4.0. Kemudahan akses yang ditawarkan pada era industri 4.0 dalam kehidupan sehari-hari telah menciptakan waktu yang efisien bagi masyarakat dalam hal transportasi, berbelanja, pemesanan makanan, pembayaran, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan semuanya sudah tersedia dalam bentuk online, di mana para pengguna smartphone dapat menikmati kemudahan yang ada.
1. Tantangan Perkembangan Budaya Indonesia
Photo by Binus University on Website Binus University via https://student-activity.binus.ac.id
Photo by Binus University on Website Binus University via https://student-activity.binus.ac.id
Dengan adanya smartphone, setiap orang dapat terhubung dengan mudah walaupun terbentang oleh jarak dan waktu. Penyebaran informasi menjadi sangat cepat dan mudah untuk didapatkan hanya dengan waktu sepersekian detik melalui smartphone. Dengan adanya perkembangan teknologi yang canggih dapat juga dimanfaatkan sebagai upaya untuk diplomasi. Berdiplomasi menggunakan media sosial merupakan bentuk dari nano power diplomacy yang sekarang ini banyak digunakan oleh negara-negara di dunia.
Keunikan yang dimiliki oleh setiap kebudayaan telah menjadi ciri khas tersendiri dari sebuah negara dimana kebudayaan itu berasal. Namun, kini kebudayaan menjadi salah satu isu internasional yang sering diperdebatkan oleh masyarakat dunia. Hal ini disebabkan karena banyaknya aksi klaim terhadap suatu kebudayaan antar negara yang dipicu oleh sikap apatis masyarakat terhadap kebudayaan akibat dari adanya arus globalisasi yang mendunia. Masuknya budaya asing ke Indonesia menjadi salah satu tantangan yang harus diperangi agar keberadaan budaya lokal tidak hilang termakan oleh perkembangan zaman.
Kurangnya memahami dan rasa memiliki budaya lokal di masyarakat juga menjadi salah satu faktor pendorong hilangnya nilai kelestarian budaya Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi karena banyaknya masyarakat yang lebih bangga dengan keberadaan budaya barat yang ada di Indonesia ketimbang budaya mereka sendiri. Pengenalan budaya Indonesia di lingkungan masyarakat, rumah, dan sekolah telah menjadikan anak-anak bangsa kurang mengetahui apa saja budaya-budaya yang dimiliki oleh indonesia. Tentunya hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah, kurangnya dukungan pemerintah dalam pengembangan budaya juga menjadi pemicu lunturnya semangat nasionalisme dalam diri masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, diperlukan adanya aksi atau upaya untuk tetap menjaga eksistensi dari keberadaan kebudayaan itu sendiri.
2. Kondisi Perkembangan Budaya Indonesia
Photo by @compediart on Instagram via https://www.instagram.com
Photo by @compediart on Instagram via https://www.instagram.com
Indonesia merupakan sebuah negara di kawasan Asia Tenggara yang kaya akan sumber daya alam dan budaya. Keragaman budaya di Indonesia terbentuk karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang melahirkan berbagai macam suku sehingga membentuk kebudayaan yang berbeda-beda. Cultural diversity yang dimiliki Indonesia yang khas seperti seni lukis, tarian-tarian, lagu daerah, bahasa daerah, pakian adat, rumah adat, dan lain sebagainya telah membentuk karakter dalam diri Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki rasa toleransi begitu tinggi.
Seperti penjelasan di atas bahwa dengan adanya arus globalisasi telah membuat semakin banyak masyarakat yang apatis terhadap budayanya sendiri hingga menimbulkan aksi klaim terhadap suatu kebudayaan antar negara. Keragaman budaya yang ada di Indonesia jika tidak dikelola dan dilestarikan dengan baik, akan ada kemungkinan untuk diklaim oleh negara lain. Warisan budaya Indonesia telah beberapa kali diklaim oleh negara tetangga sebagai salah satu budayanya seperti wayang kulit, reog, batik, dan lain sebagainya. Terjadinya peristiwa ini telah menunjukkan bahwa pengelolaan budaya yang ada di Indonesia belum dikembangkan dengan baik.
Berdasarkan data yang diambil dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang menyatakan bahwa masih terdapat ribuan kebudayaan milik Indonesia yang belum sepenuhnya terdaftar di UNESCO. Dengan adanya keadaan ini memungkinkan untuk mencetak peluang bagi negara lain mengambil warisan kebudayaan Indonesia. Dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin canggih, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai peduli dan memperkenalkan budaya milik Indonesia melalui nano power diplomacy.
3. Apa Itu Nano Power Diplomacy?
Photo by Markus Winkler on Pexels via https://www.pexels.com
Photo by Markus Winkler on Pexels via https://www.pexels.com
Nano power diplomacy adalah sebuah cara yang digunakan untuk berdiplomasi dalam corak micro yang dilakukan oleh unit atau aktor terkecil dalam hubungan internasional. Nano power diplomacy menggunakan hubungan interpersonal yang memperlihatkan hubungan antar individu dengan individu, individu dengan kelompok kecil atau publik yang di dalamnya tidak ada proses negosiasi atau tawar menawar (Andrik Purwasito, 2018). Pada dasarnya nano power diplomacy menggunakan sosial media sebagai sarana untuk melakukan diplomasi dengan tujuan menciptakan pengaruh atau perubahan.
Istilah nano power diplomacy tidak dapat dilepaskan dari multitrack diplomacy karena keduanya saling berhubungan satu sama lain. Kehadiran nano power diplomacy telah memperkuat keberadaan Multitrack diplomacy pada track kesembilan yang dikembangkan oleh Dr. Louise Diamond dan Ambassador John McDonald dalam Buku Multi Track Diplomasi Nya. Track kesembilan yang dimaksud adalah “Communications And The Media (Peace Making Through Information)”. Dengan adanya peran media di abad ke-21 ini, telah menjadikan media sebagai salah satu aktor pemain global yang memiliki jangkauan lebih luas.
4. Relevansi Nano Power Diplomacy terhadap Perkembangan Budaya Indonesia
Photo by Pixabay on Pexels via https://www.pexels.com
Photo by Pixabay on Pexels via https://www.pexels.com
Sebagai contoh penggunaan nano power diplomacy melalui media adalah semakin banyaknya content creator yang mengusung tema budaya Indonesia di setiap konten dengan tujuan untuk menunjukkan rasa bangganya terhadap Indonesia. Ketika memperingati hari-hari besar bangsa Indonesia seperti Hari Kartini, Hari Kemerdekaan RI, dan Hari Pahlawan, para beauty content creator berlomba-lomba untuk membuat karya melalui tata rias wajah maupun busana dengan mengusung tema budaya Indonesia. Kehadiran media sosial seperti Tiktok dan instagram telah menyebar luaskan karya-karya tersebut hingga dapat dilihat oleh pengguna sosial media dari seluruh dunia. Tak jarang konten-konten tersebut menuai perhatian dari masyarakat internasional, banyak netizen mancanegara yang berkomentar karena takjub melihat budaya Indonesia yang diperkenalkan melalui sebuah konsep yang dikemas berbeda di sosial media.
Selain itu, ada sebuah stasiun televisi yang menayangkan program hiburan keindahan alam di Indonesia seperti My Trip My Adventure (MTMA). Dalam acara ini, selain menonjolkan sisi keindahan alam Indonesia, acara ini juga menayangkan berbagai macam kuliner dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Percepatan penyebaran melalui sosial media akan membuat Indonesia terutama dalam hal kebudayaannya akan jauh lebih dikenal oleh masyarakat internasional.
Semakin banyaknya masyarakat internasional yang tertarik untuk mengunjungi Indonesia entah itu untuk melihat budayanya, keindahan alamnya, atau kulinernya maka hal ini akan berdampak baik bagi perekonomian bangsa Indonesia. menurut Kominfo, pariwisata Indonesia menjadi penyumbang pemasukan devisa negara terbesar kedua setelah perkebunan kelapa sawit. Namun, kehadiran sosial media bagaikan sebuah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda dimana terdapat sisi baik dan sisi buruk. Jika kita tidak memanfaatkan sosial media dengan bijak maka akan timbul sisi buruk yang dapat merendahkan nama Indonesia dikemudian hari. Sudah sepatutnya sebagai warga negara Indonesia yang baik dan bijak untuk memanfaatkan sosial media sebagai sebuah wadah untuk memperkenalkan budaya Indonesia hingga ke internasional melalui nano power diplomacy.
5. Upaya Meningkatkan Pengembangan Budaya Indonesia
Photo by Pixabay on Pexels via https://www.pexels.com
Photo by Pixabay on Pexels via https://www.pexels.com
Untuk mengembangkan budaya di Indonesia dapat dikelola secara bersama dengan menggunakan nano power diplomacy melalui sosial media agar tetap terjaga dan tidak hilang akibat adanya pengaruh globalisasi. Dengan mempromosikan berbagai budaya Indonesia melalui sosial media dinilai akan lebih cepat dan efisien untuk dikenal hingga ke mancanegara sekaligus dapat melestarikan warisan budaya. Diharapkan seluruh masyarakat Indonesia dapat berperan aktif dalam melestarikan budaya lokal melalui sosial media dengan cara yang kreatif seperti story telling, podcast, fun video, atau sesuai dengan ide masing-masing. Keberadaan sosial media seperti tiktok, instagram, youtube, facebook dimana sosial media ini sedang digandrungi oleh seluruh masyarakat akan mempercepat penyebaran pengenalan budaya melalui video. Jika seluruh masyarakat Indonesia bersatu untuk melestarikan budaya lokal, maka akan sedikit kemungkinan bagi Indonesia untuk kehilangan karakternya sebagai sebuah negara yang memiliki cultural diversity.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”
”