Ketika kehilangan seseorang terasa seperti tenggelamnya sebagian daratan di bumi.

1. Saat kehilangan memilih jalan ikhlas untuk mengenangnya

Kehilangan via http://google.com

“Terkadang kita harus berusaha untuk ikhlas melepaskan setiap orang yang paling berharga dalam hidup kita, pergi dan tak kembali. Kita harus percaya, di balik sebuah kehilangan akan ada cerita baru yang lebih indah. Akan ada hati yang baru di balik patahannya.”

Advertisement

Bukankah kalimat itu yang kau ucapkan di saat tangisanku meledak tepat di malam setelah kepergiannya ? sekarang aku akan mengembalikan kalimat itu padamu, Bun. Kalimat itu berhasil membuatku mempercayai hidup, dan mungkin dengan caraku mengembalikan kalimat itu juga bisa membuatmu benar-benar ikhlas. Aku mengerti bagaimana sulitnya ikhlas untukmu, Bun. Tapi aku tidak akan pernah mau mengerti jika ikhlas itu enggan untuk kau lakukan, dan justru membuatmu terbenam dalam air mata kehilangan.

2. Air mata Bunda seperti musim hujan tanpa henti

Jangan menangis, Bunda via http://google.com

Jangan menangis lagi, Bunda. Melihat air matamu seperti seakan bumi tak bermusim kemarau, seperti hujan yang merendam seluruh bumi. Aku tidak tau bagaimana caranya membuatmu benar-benar tersenyum tanpa ada sedikitpun goresan kesedihan, karena aku tau menangis adalah cerminan hati seorang perempuan. Aku memang tidak akan pernah bisa mengembalikan sosok suami yang teramat kau cintai itu, tapi setidaknya aku akan berusaha membantumu melewati masa sulit itu bersama.

Jika hujan tanpa henti adalah sebuah bencana bagi semua orang, maka air matamu adalah badai bagi hatiku, Bunda.

3. Janjiku adalah senyuman nyata di tengah kesedihanmu

Senyuman Bunda via http://google.com

Advertisement

Kau rindu pada Ayah ? aku pun sangat merindukannya. Kita sama-sama orang yang ditinggalkan sosok “Malaikat” itu, Bun. Aku sama sepertimu, ingin menangis dan meneriakkan namanya setiap saat. Sayangnya aku tidak mungkin melakukannya. Jika aku ikut larut dalam kehilangan lalu siapa yang akan menjadi sandaran kesedihanmu disaat akulah satu-satunya sandaran yang kau miliki ? siapa yang akan menggenggam tanganmu untuk menemanimu memulai lembaran baru disaat satu-satunya pendamping seumur hidupmu telah pergi ?

Sejak awal aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk selalu menjadi salah satu alasanmu tersenyum.

4. Cinta kita untuknya tidak seberapa dibandingkan cinta sang Ilahi padanya

Kenangan via http://google.com

Seandainya aku bisa membawa cinta sejatimu itu kembali, saat ini juga aku akan menjemputnya dengan cara apapun. Hanya untukmu, Bunda. Namun saat ini kondisinya berbeda. Lelaki yang teramat kau cintai itu bukan hanya sekedar pergi untuk bekerja seperti hari-hari sebelumnya, bukan hanya sedang mengunjungi keluarga ataupun kerabat terdekatnya. Tapi dia sudah menetap di rumah sang Pencipta. Kita sama-sama tau kalau kita hanya kuman kecil di bawah Kuasa-Nya. Apa yang sudah diambil-Nya tidak akan pernah bisa kita minta kembali, dengan menukarkan nyawa sekalipun.

Kau memang sangat mencintainya, Bun. Akupun begitu. Namun dia dicintai oleh-Nya jauh lebih besar daripada kita.

5. Masih ada aku yang akan menemanimu hingga akhir

Ada aku, Bunda via http://google.com

Jangan pernah sekalipun berfikir kau sendiri. Masih ada aku, Bun. Lihat aku. Aku anak yang kuat. Sekalipun aku tidak akan pernah bisa mengembalikan sosok pendamping hidupmu, tapi aku berjanji akan menempatkan selalu kebahagiaan itu di tanganmu. Aku yang akan menjadi pelindung baja terdepan jika suatu hari nanti ada orang yang menyakitimu. Aku yang akan menjadi payung ketika hujan menyerang tubuhmu. Aku yang akan menggantikan peran Ayah, membantumu untuk menafkahi keluarga kecil kita. Aku akan berusaha melakukan apapun yang tidak bisa kau lakukan.

Kehilangan sosoknya bukan berarti kehidupan kita berhenti kan, Bun ?

6. Orang yang kau sebut suami adalah pengantar masa depanku

Jika bagimu dia adalah pemimpin masa depanmu, bagiku dia adalah pengantar masa depanku. Dialah lelaki yang cintanya paling sejati untukku. Dialah yang akan berfoto di sampingku dengan senyuman pelitnya, bersamamu dan mendampingiku di hari wisuda ku. Dialah satu-satunya orang yang akan menyerahkan tanganku kepada seseorang yang dihalalkan untukku suatu hari nanti. Dia juga sosok lelaki yang akan dipanggil dengan sebutan “kakek” oleh malaikat kecilku suatu saat nanti. Itu semua adalah peta masa depanku, dan sekarang sudah hancur bersama kepergiannya.

Jika kau kehilangan sosok pendamping seumur hidupmu, maka aku kehilangan lelaki yang paling sejati cintanya di sepanjang hidupku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya