Meski Pernah Disakiti, Begini Caranya Biar Kamu Bisa Membuka Diri Sekaligus Hati

Cara mudah membuka diri dan hati

Menutup diri bukan hal yang buruk, terutama buat kamu yang merasa lebih nyaman dan aman dengan cara itu dalam menjalani hidup. Namun pada satu titik, menutup diri justru dapat berpengaruh buruk pada dirimu sendiri. Kamu perlu tahu batasnya. Membuka diri tidak harus menceritakan semuanya dan menerima segalanya, kok. Kamu hanya perlu bersikap terbuka dan lebih jujur dalam mengungkapkan diri.

Berikut ada beberapa tips yang bisa membantumu untuk lebih terbuka.

Advertisement

1. Ekspresikan dirimu secara jujur

Foto oleh Ana Francisconi

Foto oleh Ana Francisconi via https://www.pexels.com

Mulailah berani mengekspresikan diri. Orang-orang yang menutup diri biasanya punya media tertentu untuk ini. Kamu bisa mulai menuliskan perasaanmu, menggambar, mengambil foto, atau apapun yang menurutmu nyaman. Karya seni selalu jadi pilihan mengekspresikan diri.

Selain itu, belajarlah mengekspresikan dirimu secara langsung juga. Kalau kamu merasakan tarikan di sudut-sudut bibirmu, biarkan mereka membentuk senyuman di wajahmu. Kalau kamu merasakan sesak di dadamu, biarkan air matamu mengalir. Jangan takut mengekspresikan apa yang kamu rasakan.

Advertisement

Kita biasa bersikap menyesuaikan dengan apa yang orang ingin lihat dan dengar. Pada situasi tertentu, hal itu memang perlu dan sangat bijak dilakukan. Namun, hal ini juga bisa membuat kita tidak biasa untuk mengekspresikan diri secara jujur. Kenali dan mulai belajar mengamati situasi. Jangan ragu mengekspresikan diri secara jujur selama itu tidak merendahkan atau menyakiti orang lain.

2. Biarkan orang lain mengetahui isi hati dan pikiranmu

Foto oleh Bewakoof

Foto oleh Bewakoof via https://unsplash.com

Jangan takut mengungkapkan apa yang menjadi rasa takut atau kegelisahanmu akhir-akhir ini. Ceritakan ke teman-teman dekat, atau anggota keluarga yang bisa kamu ajak mengobrol. Hindari menahan-nahan perasaanmu. Mulai secara perlahan. Biarkan orang lain mengerti bagaimana perasaanmu, bagaimana pendapatmu pada hal-hal tertentu. Ini juga akan membuat perasaanmu menjadi lapang dan lega.

3. Jadilah diri sendiri

Foto oleh Radu Florin

Foto oleh Radu Florin via https://www.pexels.com

Menjadi diri sendiri adalah kunci dalam membuka diri. Ini akan terdengar agak egois, tapi cobalah bicara tentang dirimu sendiri. Tidak dalam artian menyombongkan diri atau semacamnya, tapi mulailah berani menceritakan dirimu apa adanya.

Ceritakan pada orang-orang terdekatmu apa saja yang kamu lakukan hari ini. Berceritalah tentang buku-buku favoritmu, biarpun buku tersebut bukan favorit banyak orang. Ceritakan apa yang membuat buku itu spesial buatmu. Jangan ragu memesan makanan yang benar-benar kamu suka. Jangan takut berpendapat mengenai suatu hal secara jujur.

Setiap orang memiliki kualitas dan keunikan tersendiri. Jangan biarkan hal-hal ini terkubur dan tersimpan karena kamu menutup diri. Diri kamu yang sebenarnya berhak dikenali dan dipahami.

4. Pahami bahwa membuka diri butuh waktu dan rasa percaya

Foto oleh Alexander Shustov

Foto oleh Alexander Shustov via https://unsplash.com

Tentu saja yang kamu usahakan ini akan membutuhkan waktu, terutama kalau kamu belum terbiasa. Pahamilah bahwa kamu perlu waktu dan kesabaran. Mulai secara perlahan-lahan, dan jangan lupa untuk percaya pada dirimu sendiri dan orang lain yang biasa menjadi teman bicaramu.

5. Ketahui siapa yang bisa kamu percaya dan tidak

Foto oleh Priscilla Du Preez

Foto oleh Priscilla Du Preez via https://unsplash.com

Sebagai orang yang berkepribadian tertutup, biasanya kamu lebih mengenal siapa-siapa saja yang bisa kamu percayai karena kecenderunganmu sebagai pengamat. Memang benar, tak semua orang yang kamu kenal, termasuk teman dan keluarga, bisa cukup nyaman atau sesuai untuk menjadi teman cerita. Tapi bukan berarti mereka orang yang buruk dan tak bisa dipercaya. Mungkin saja mereka tidak begitu 'nyambung' dengan topik pembicaraanmu, biarpun mereka biasanya akan tetap mendengarkanmu bagaimana pun juga.

Pilihlah orang yang benar-benar membuatmu merasa nyaman untuk berbicara, dan pastikan mereka bersedia mendengarkanmu. Kamu juga perlu berhati-hati dengan apa yang kamu ungkapkan dan siapa yang akan mendengarnya. Berusaha terbuka bukan berarti kamu menjadi gegabah dan tidak selektif. Kamu tetap harus memilah apa saja yang ingin kamu ungkapkan, sesuai dengan situasi dan siapa yang mendengarnya.

6. Berpikiran terbuka dengan keluar dari zona nyaman

Foto oleh Quân Nguyễn

Foto oleh Quân Nguyễn via https://unsplash.com

Keluar dari zona nyaman terkadang terdengar mainstream, tapi ini memang perlu. Keluar dari zona nyaman bukan berarti kamu harus meninggalkannya selamanya. Kamu bisa keluar secara perlahan. Terbukalah pada ide-ide dan pengalaman-pengalaman baru, biarpun awalnya kamu tidak begitu menyukainya. Kamu yang paling mengenal dirimu sendiri, sejauh apa kamu bisa melangkah keluar dari zona nyaman, dan kapan untuk beristirahat.

7. Pikirkan kembali apa yang membuatmu menjadi tertutup

Foto oleh Leon Biss

Foto oleh Leon Biss via https://unsplash.com

Kira-kira apa yang membuatmu mulai menutup diri waktu itu? Kapan sebenarnya kamu mulai menutup diri? Apakah ini memang kepribadianmu atau ada peristiwa yang membuatmu terguncang dan akhirnya menutup diri?

Kamu bisa mendiskusikan hal ini dengan orang-orang yang bisa kamu percaya. Bahkan ada baiknya juga kamu berkonsultasi langsung dengan psikolog atau psikiater, terutama bila kamu memiliki trauma tertentu yang membuatmu demikian. Mereka bisa membantumu akan hal ini.

Itu tadi merupakan beberapa tips bagi kamu untuk mulai membuka diri. Tidak perlu takut dan ragu. Mulailah perlahan. Berbicara dan bersikap jujur adalah salah satu cara terbaik untuk menerima diri kamu apa adanya dan membuka diri. Semoga berhasil!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis. Pencinta kucing. Pasifis.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE