#CatatanAkhirTahun – Untuk 2022 Penuh Manfaat. Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Optimis!

Terus terang, ini adalah kali pertama aku menulis tentang sebuah catatan berisi rangkuman perjalanan selama setahun terkahir. Tulisan yang seharusnya sudah harus rampung menjelang detik-detik pergantian tahun lalu telah memberikan kesempatan pada diri ini untuk merenung barang sejenak. Ini kemudian kujadikan sebagai momentum untuk melihat ke dalam diri sendiri dan menggali ingatan tentang apa saja yang telah dihadapi serta pembelajaran apa yang pernah aku dapatkan sepanjang tahun 2021.

Advertisement

1. Apa pencapaian terbesarku tahun ini ?

arti sebuah penghargaan (dokumentasi pribadi)

arti sebuah penghargaan (dokumentasi pribadi) via https://www.instagram.com

Tahun 2021 menjadi tahun yang banyak menoreh pengalaman dan pembelajaran bagiku. Tahun ini juga yang telah memantik semangatku untuk keluar dari zona nyaman dan hiruk pikuk kehidupan ibu rumah tangga. Aku memutuskan untuk kembali berkarya.

Tepatnya menghasilkan karya dari apa yang telah Tuhan anugerahkan kepadaku sejak lahir. Sebab aku mulai sadar bahwa eksistensi seorang manusia di dunia ditentukan oleh karya yang di tinggalkan.

Advertisement

Aku mulai bersemangat untuk menulis lagi. Meski belum menerbitkan buku solo, namun setidaknya dalam rentang setahun ini aku sudah menorehkan karyaku yang diterbitkan di 5 buku antologi bersama penulis-penulis terbaik se-Indonesia yakni Agroforestry, Sebuah Pesan Dari Kenangan, Kelana, Mendekap Lara dan Surat Cinta Untuk Palestina.

Suatu pencapaian yang makin membanggakan diri ini adalah ketika aku terpilih menjadi pemenang challenge artikel hipwee bertemakan Berani wujudkan mimpi dengan reward 10 gr emas murni.

Advertisement

Kebanggaan tersebut menjadikan diri ini mulai diperkuda ambisi yang tiada arti hingga merasa besar dan tinggi hati. Aku semakin senang menulis hanya untuk sebuah kompetisi dan tentu saja juga dilatarbelakangi oleh reward yang dijanjikan.

Di sinilah kemudian aku melupakan tentang esensi dari sebuah tulisan. Aku kehilangan karakter dalam menulis. Aku telah menjadi manusia yang haus akan apresiasi. Namun ketika kekalahan datang menyapa, kepercayaan diri ku mulai jatuh dan hancur.

Pada akhirnya, rasa bosan dan kebuntuan melunturkan semangatku untuk menulis. Aku merasa seperti tidak kemajuan. Ditambah lagi raga yang seakan tak terima ketika tulisanku dikritik.

Satu tamparan keras ketika terjangan pandemi yang kian merajai dipertengahan tahun memunculkan fenomena yang cukup mengoyak bathin. Bukan hanya tentang bencana kesehatan yang dihadapi, namun lebih kepada perjuangan sebagian besar keluarga untuk tetap bisa makan serta mempertahankan pendidikan anak-anak mereka. Kondisi ini merupakan dampak dari hilangnya satu-satunya sumber penghidupan keluarga akibat kebijakan yang diambil guna mengatasi penyebaran wabah Covid-19 yang rupanya malah mengacaukan perekonomian masing-masing keluarga.

Di saat yang tepat, seseorang yang sangat aku hormati dan kagumi datang berkata,

Lihatlah sekitarmu, apakah batin mu tak terketuk? Bantulah mereka dengan apa yang kau punya. Jika dengan tulisanmu dapat meringankan beban mereka, maka menulislah. Ingat, janganlah kau menulis hanya untuk sebuah penghargaan apalagi pengakuan. Tapi menulislah, dengan tulisan tersebut engkau mampu memberi manfaat bagi orang sekitar juga memberi arti bagi dirimu sendiri.

Kata-kata yang keluar dari mulut suami ku tersebut menghentak mentalku cukup dalam.

Singkat cerita, aku mulai menyusun beberapa draft narasi singkat tentang fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarku untuk diajukan ke lembaga-lembaga sosial yang ada di daerahku. Berharap mendapat sedikit bantuan dan dukungan guna meringankan beban-beban yang ada di pundak mereka.

Dan taukah kalian? Ternyata tulisanku berhasil menggugah nurani anggota-anggota di dua lembaga sosial yang mana mereka langsung menyambangi kediaman keluarga yang membutuhkan tersebut. Terlihat gurat haru terpatri di wajah keriput seorang ibu yang sebelumnya hampir putus asa oleh kondisi yang ada. Ribuan terimakasih mereka ucapkan, tak lupa berbagai doa juga mereka panjatkan sebagai ungkapan syukur atas apa yang telah diberikan.

Tanpa sadar air mataku menetes dengan perasaan yang tak tergambarkan. Aku benar-benar tak menyangka bahwa tulisan ku mampu memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Dan aku pun merasakan sensasi aneh yang sangat menusuk kalbu, lebih dari saat aku menang kompetisi dahulu.

Jadi, jika kalian bertanya Apa pencapaian terbesarku tahun ini? Jawabannya adalah saat tulisan ku mampu berkontribusi untuk membantu mereka yang membutuhkan, suatu kebanggaan yang tak pernah kurasakan sepanjang hidup.

Dan aku berjanji ini akan menjadi alasan aku menulis selanjutnya.

2. Apa kegagalan terbesar ku tahun ini ?

Fail oleh Pete Linforth

Fail oleh Pete Linforth via http://GambarolehPeteLinforthdariPixabay

Hidup di,tengah-tengah lingkup masyarakat yang menyajikan berbagai potret kehidupan menjadikan aku semakin bertekat untuk mengambil peran yang ada didalamnya. Namun, apalah daya, aku adalah manusia dengan seribu kelemahan. Dan aku baru sadar bahwa ambisius adalah kelemahan yang paling menghancurkanku.

Ketika bergerak aku begitu bersemangat dan berapi-api tanpa memperhitungkan segala sisi resiko yang ada. Dan ketika terbentur oleh sesuatu, aku kehilangan kendali dan ujung-ujungnya malah mengumpat diri. Belum lagi ketika otak dan batin yang harus berperang melawan stigma-stigma negatif lingkungan sekitar yang menguras energi hingga pada akhirnya mengacaukan tatanan rencana yang sudah dibulatkan.

Lebih lucunya lagi ketika mereka bertanya kenapa kamu mau bersusah payah untuk membantu kami? Aku hanya terdiam. Bukan karena aku tersinggung dengan pertanyaan tersebut, tapi memang sejujurnya aku tak tau harus menjawab apa yang pada akhirnya aku pun menyerah. Lagi dan lagi.

Namun kembali aku disadarkan tentang hakikat dan tujuan awal dari sebuah tekad yang bulat. Aku pun mulai memahami bahwa Rasa PUTUS ASA adalah bentuk kewajaran yang rasional, MENYERAH adalah bentuk ketidakmampuan yang palsu. Dan gagal adalah sebuah PROSES.

Bukankah kita hanya perlu membenahi kembali prosesnya atau mulai dari nol lagi misalnya ? Yah, aku hanya perlu mengubah rute jalan tanpa harus mengganti arah haluan yang melawan arah mata angin.

So, aku belum gagal kok, 2022 akan kulanjutkan kembali perjuangan ini dengan strategi dan rencana yang tepat tentunya.

3. Bagaimana aku bertumbuh tahun ini ?

Dokumentasi pribadi

Dokumentasi pribadi via https://www.instagram.com

Mungkin jika diibaratkan tanaman, aku adalah sebuah biji yang sedang mekar berkecambah. Butuh kerja keras yang tidak main-main demi membuktikan bahwa biji tersebut layak menjadi pohon yang besar serta berbuah lebat.

Kini ada tujuan yang hendak ku raih dengan target yang tidak main-main. Oleh karenanya aku mulai melepas segala kebiaasaan buruk dan mencoba mengatasi segala kelemahan yang ada. Aku berusaha untuk mengandalkan kekuatan pikiran agar menjadi sebuah energi dahsyat untuk berusaha dan fokus pada apa yang telah aku tekadkan. Fokus, itulah yang akan menjadi sebuah kekuatan untuk mewujudkan apa yang aku cita-citakan.

Hari demi hari mental ku kian ditempa. Aku yang notabene adalah orang yang tidak percaya diri, insecure dan sulit berbicara di depan umum, hari ini menjadi semakin bersemangat untuk menjadi pribadi yang berbeda ke arah yang lebih baik.

Dan satu dari sekian hal yang aku syukuri adalah saat menuju penghujung tahun 2021 aku telah menemukan rasa dalam menulis dan jiwa dalam tulisan ku serta alasan untuk menulis. Ibarat kata, aku sudah menemukan jati diri ku yang lama terpendam.

4. Menyelami kemuliaan dan kebesaran Allah di tahun yang penuh air mata

(dokumentasi pribadi)

(dokumentasi pribadi) via https://www.instagram.com

Tahun 2021 merupakan tahun yang luar biasa melelahkan dengan beragam peristiwa dan ujian yang terjadi di sepanjang tahun. Bahkan Tepat 1 Januari 2022 lalu, aku dan keluarga besar ku mengalami duka yang teramat dalam atas kepergian sosok paling yang paling berjasa besar dalam hidup kami.

Nenek, orang yang telah mendidik kami dengan ilmu agama dan nilai-nilai kehidupan. Beliau juga mengajarkan kami tentang bagaimana seharusnya bersahabat dengan Bumi agar mendapat berkat dari-Nya.

Beliau juga yang telah mengenalkan tentang pentingnya berempati terhadap sekitar dan mendorong kami untuk terus berbuat kebajikan kepada semesta beserta isinya sebagai wujud rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta pemilik alam semesta.

Aku malu kepada nenek atas arogansiku selama ini, begitupun kepada Allah SWT. Aku juga malu saat dianggap baik padahal rupanya aku adalah pendosa yang hebat hanya saja Allah sedang menutup aibku, bukti bahwa Allah sangat menyayangi umat-Nya. Aku sangat yakin bahwa Allah SWT akan selalu dekat dengan hamba-Nya, bahkan jauh lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Mungkin Aku tak pernah tau tentang rencana Allah selanjutnya atas diri ini, namun aku terus berharap semoga Allah selalu membantu aku untuk memantaskan diri menjadi pribadi yang bermanfaat bagi segala ciptaan-Nya.

5. Menyongsong 2022, susun rencana bulatkan tekad

Menyusun resolusi 2022 (dokumentasi pribadi)

Menyusun resolusi 2022 (dokumentasi pribadi) via https://www.instagram.com

Bagiku, 2021 adalah tahun yang memberikan kesadaran bahwa jika aku tidak mencapai sebuah target maka ada yang salah dalam prosesnya. Sehingga tahun baru 2022 adalah waktu yang tepat untuk menyusun kembali rencana dan menilik kembali bagian-bagian yang tidak sesuai untuk mendapat tujuan yang ingin dicapai demi hidup yang lebih baik, lebih bermanfaat dan penuh keberkahan.

Aku akan berusaha mewujudkannya dengan kerja keras, kepercayaan diri, konsistensi dan tentu saja lebih mendekatkan diri kepada sang Illahi.

Aku harus berhenti untuk kagum dengan orang lain, karena kagum tak membuat ku menjadi apapun.

Aku juga harus mengatasi rasa malu dan minder demi mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta hal positif lainnya ketika berkenalan dengan orang-orang baru.

Lebih rajin berolahraga, tidur lebih cepat dan berhenti menunda pekerjaan.

Membaca lebih banyak buku agar dapat ‘membuka’ cara berpikir menjadi lebih luas serta memandang sesuatu dengan lebih bijak.

Intinya adalah aku harus terus belajar untuk terus memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih berarti bagi alam dan semesta-Nya.

Demikianlah #CatatanAkhirTahun ku yang lebih dari sekedar refleksi dan evaluasi diri namun berharap catatan ini juga mampu menjadi pengingat diri untuk 2022 yang penuh manfaat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Terlahir di Pekanbaru Kota Bertuah, 28 tahun silam| Seorang ibu muda-berwajah flat, selalu terkesan cuek dan anti sosial padahal Si melankolis yang kadang sanguinis| Punya hobi bermain gitar, menulis, mengumpulkan sampah dan barang bekas| Pemerhati lingkungan hidup dan penggiat daur ulang limbah organic dan anorganik|Tercatat sebagai Alumni Biologi Universitas Riau Angkatan 2009| Jejaknya bisa dilacak melalui akun Instagram @namakuade. Kicauannya kadang terselip di akun Facebook Ade Rahmayanti. Tulisannya yang masih seumur jagung bisa dilihat di tintalusuhkemudian.blogspot.com.|

CLOSE