1. Like A Tree

Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.

“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.

“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.

“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.

“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.

“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.**

Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas yang datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing yang curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.

“Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.”

...

"Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” Siapapun Anda, bagaimanapun Anda, dan Dimanapun anda... tatap dan ikutilah cahaya lurus kebenaran... karena bila tidak anda akan tersesat dalam kegelapan. Dan Bila terperangkap dalam gelap, jangan mengutuki kegelapan, tapi nyalakan lah cahaya walaupun dengan Lilin..":)

2. Like An Eagle

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.

Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal,sehingga sangat menyulitkan waktu terbang.

Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan - suatuproses transformasi yang panjang selama 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang keatas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.

Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru.

Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang barusudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!

...

 " Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan.

 

Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatanuntuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan.

 

Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri kita. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita.Karena Anda adalah elang-elang itu."

3. Hanya Segelas Es Teh

uatu hari di sebuah warung makan, ada 2 orang suami istri dengan anak2 mereka yang masih kecil-kecil, dan ada juga sekelompok pemuda baru masuk ke warung untuk makan lalu memesan sepiring nasi gogeng dan es teh.

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya makanan yang dipesan pun sampai. Tetapi karena makanan yang di pesan oleh sekelompok pemuda itu banyak, maka si penjual menyuruh anak nya yang masih kecil untuk membawakan es teh.Sebelum si anak membawakan es teh tersebut, si ibu terlebih dahulu bertanya kepada anaknya.

Ibu : Nak, apa kuat membawa minuman ini,? Minuman ini berat lo.??Dan tanpa berbasa-basi si anak langsung menjawab, "Kuat bu, ini gamoang kok.!!"

Mungkin karena si anak maih kecil, si ibu pun mewanti-wanti si anak yang membawakan es teh tersebut.Meskipun dengan jalan yang tertatih-tatih, akhirnya si anak berhasil membawakan es yeh tadi kepada sekelompok pemuda itu.Pertanyaan nya.

Apa kamu kuat mengangkat segelas es teh seperti yang di lakukan si anak??jika di pikir-pikir pasti jawabannya akan sangat beragam aneh-aneh dan nggak sedikit yang sepele jika pertanyaan ini kita tujukan ke orang yang sudah dewasa. Ada yang bilang “Ini pasti lelucon”,ada yang bilang “Ini pertanyaan jebakan ya”,ada juga yang malah balik tanya “ini teka-tekikah??”. Ada juga lho yang agak ekstrim bilang “jangan-jangan yang tanya ini kurang waras ya orang cuma ngangkat segelas teh aja pakai tanya kuat nggak,hahahaha dasar ..........”.dan karena asyiknya menjawab pada akhirnya mereka semua nggak ada yang benar-benar membuktikan bahwa mereka bisa mengangkat segelas es teh yang saya tanyakan tadi karena sibuk dengan berbagai persepsi tentang pertannyaan saya tadi.

 

Teman,apa jawabanmu mirip dengan mereka.??

Kenapa pertanyaan yang sesederhana ini menghasilkan jawaban yang tidak sederhana?? ya,itu semua terjadi karena munculnya persepsi dan pola pikir di otak kita. Semakin dewasa kita semakin keritis kita menyikapi segala hal yang ada. Sampai-sampai mengangkat segelas es teh yang cukup di jawab ya nggak aja bisa jadi jawaban yang panjang dan nggak berujung pada solusi.

 

Sama seperti dalam kehidupan, sering kita di hadapkan pada persoalan yang sebenarnya sederhana tapi karena muncul persepsi dan pola pikir yang bermacam-macam akhirnya persoalan yang sederhana ini menjadi rumit dan susah di tuntaskan.

Coba bayangkan, yang seharusnya kita mendapatkan nasehat yang baik akhirnya kita mengabaikannya hanya karena persepsi kita yang mengatakan “anak kecil tau apa sih” walaupun sebenarnya itu nasehat yang baik. yang seharusnya kita menjadi anak yang pemaaf akhirnya kita merasa sulit untuk memaafkan hanya kaerna persepsi dan pola pikir kita melihat pengalaman masa lalu yang pernah di tipu,di rendahkan, di cap jelek,di musuhi oleh dia. yang seharusnya kita menjadi seorang pekerja keras akhirnya kita menjadi malas hanya karena persepsi kita “walaupun kerja keras toh gaji nggak bakalan bisa naik,kan saya hanya seorang buruh”misalnya.dan banyak lagi persepsi-persepsi yang membuat kita melewatkan sesuatu yang sangat bermanfaat yang seharusnya kita dapat.

4. Kisal Sebatang Pensil

Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”

Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”

Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.

“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”

“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”

Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.

Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.

Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.

Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.

5. Diam = Emas

Saat kita tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup mudah untuk mengetahui kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan kita harus diam adalah hal yang jauh berbeda.

Salah satu fungsi bibir adalah untuk dikatupkan. Bagaimana kita bisa memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang berkata-kata. Diamlah demi kejernihan pandangan kita.

Orang yang mampu diam di tengah keinginan untuk berbicara mampu menemukan kesadaran dirinya. Sekali kita membuka mulut, kita akan temui betapa banyak kalimat-kalimat meluncur tanpa disadari.

Mungkin sebagian kecil kata-kata itu tidak kita kehendaki. Seringkali orang tergelincir oleh kerikil kecil, bukan batu besar.

Butiran mutiara indah hanya bisa tercipta bila kerang mutiara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya, maka pasir dan kotoran laut akan segera memenuhi mulutnya.

Inilah ibarat, kekuatan kita untuk diam. Kebijakan seringkali tersimpan rapat dalam diam para bijak.

Untuk itu kita perlu berusaha membukanya sekuat tenaga. Bukankah pepatah mengatakan: “Diam adalah emas“.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya