Tahun 2010, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempelopori program Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Miskin Beprestasi (Bidikmisi). Berkat program tersebut, anak-anak miskin dari pelosok negeri berkesempatan mengenyam bangku kuliah. Seluruh biaya kuliah mereka digratiskan, dan setiap bulannya menerima living cost sekitar Rp. 600.000,- (namun, ada beberapa kampus yang memberlakukan dana lebih). Kelihatannya enak sekali bukan? Tidak semudah itu sebelum kamu tahu 10 dramatikal kehidupan mahasiswa Bidikmisi berikut ini.

1. Bermula dari mengurus seabrek berkas pendaftaran

Portal pendaftaran Bidikmisi via http://2.bp.blogspot.com

Memperoleh beasiswa Bidikmisi tidaklah instant. Bolak balik ke kantor kelurahan untuk mengurus surat miskin, surat tanah, rekening listrik, tagihan air, slip gaji, meminta tanda tangan, dsb. Lalu ke warnet mendaftarkan diri, mengunggah berkas-berkas akademik, surat ini dan itu, foto diri, foto rumah, foto sertifikat, dll. Setelah berbulan-bulan penantian, hingga akhirnya muncul pengumuman ‘diterima’ di salah satu perguruan tinggi, calon mahasiswa Bidikmisi belumlah tenang. Mereka masih was-was dengan kedatangan surveyor dari kampus yang akan meninjau dan wawancara langsung. Dan mereka pun kembali dalam penantian panjang, “Mungkinkah Bidikmisinya diterima?” Di beberapa kampus bahkan menerapkan “pencabutan penerimaan studi” jika Bidikmisinya ditolak. Malang sekali bukan?

2. Tiga bulan pertama hidup dalam lilitan hutang

Hidup dalam lilitan hutang via https://1.bp.blogspot.com

Advertisement

Mahasiswa baru Bidikmisi harus hidup terkatung-katung selama kurang lebih 3 bulan pertama. Pasalnya, dana Bidikmisi tidak dicairkan di bulan pertama studi. Padahal, kebutuhan kuliah amatlah banyak. Mulai dari sewa kos, kebutuhan ospek, membeli buku, iuran kelompok, hingga kebutuhan makan, minum, mandi dan mencuci sehari-hari. Untung kalau ada tabungan yang bisa diandalkan. Kalau tidak, orangtua hanya bisa hutang atau menggadaikan barang.

3. Kalau sudah cair, ATM di kampus tak ubahnya antrean sembako

Ngerumpi dulu sambil antri di ATM via http://3.bp.blogspot.com

Antrean panjang nggak cuma berlaku kalau ada pembagian sembako gratis. Tepat pada hari pertama Bidikmisi dicairkan, ATM di dalam maupun sekitar kampus pasti penuh dengan antrean mahasiswa. Tak jarang, ada juga yang bela-belain ke ATM tengah malam cuma buat ngecek dana Bidikmisi sudah cair atau belum.

4. Uang Bidikmisi hanya berputar-putar untuk bayar hutang, mentraktir teman, dan membeli kebutuhan sehari-hari

Sisa tanggal tua via http://3.bp.blogspot.com

Mahasiswa non-Bidikmisi pasti mengira living cost per bulan akan sangat menguntungkan. Tak jarang, merekaminta traktiran tiap kali Bidikmisi dicairkan. Saatnya kalian tahu perputaran uang Bidikmisi: sebelum living cost dicairkan, terpaksa hutang untuk memenuhi kebutuhan. Kalau sudah dicairkan, uangnya langsung dipakai bayar hutang, dikasih ke ibu kos, membeli sabun, beras, dan sekali-kali makan makanan enak dan menyehatkan. Sisanya buat transportasi pulang kampung dan jaga-jaga kalau ada iuran kelompok atau nge-print tugas. Kalau sisanya cukup banyak, dikasih ke orangtua di rumah atau beli baju biar ada yang dibuat ganti. Hingga akhirnya, uang pun raib, dan menunggu pencairan living cost berikutnya.

5. Ada perasaan “senasib-sepenanggungan” ketika tiba-tiba bertemu dengan sesama penerima bidikmisi

Temu mahasiswa Bidikmisi via http://www.pancabudi.ac.id

Advertisement

Kadang, berawal dari obrolan, “Kamu anak BM? Aku juga. Kapan ya BM-nya cair? Lagi bokek nih, banyak hutang,” mampu menciptakan keakraban tersendiri. Memang menyenangkan bertemu orang-orang yang mampu memahami kehidupan kita.

6. Tiap kali shoping atau nge-mall, selalu di-judge uang Bidikmisi buat foya-foya

Shopping time! via https://google.com

Padahal, masuk ke mall belum tentu shopping dan menghambur-hamburkan uang. Jadi, mengapa kamu beranggapan miring ketika mahasiswa Bidikmisi ke mall atau pusat-pusat hiburan? Mereka hanya mencari kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Kalau pun mereka beli 1-2 barang, itulah cara mereka memanfaatkan living cost yang didapatnya. (Kamu tidak tahu mengapa dia memilih beli buku, baju, atau mungkin tas dan sepatu).

7. Tapi, kadang benci juga melihat mereka yang Bidikmisi bergaya hidup hedon. Sepertinya mereka salah sasaran

Tak dipungkiri, ada mahasiswa Bidikmisi yang bergaya hidup hedonis. Uang living cost dibuat gonta-ganti HP, pergi ke salon kecantikan, beli baju-baju branded, nongkrong di kafe-kafe mewah, dan uang sehari-hari minta kiriman orangtua. Biarpun prestasinya bagus, kalau yang kayak gini berarti “salah sasaran”. Kepada Dikti dan para surveyor, lihatlah prilaku mahasiswamu!

8. Setelah berkutat dengan berbagai persoalan finansial, mahasiswa Bidikmisi dituntut memperoleh IPK 2, 75, ikut PKM, dan lulus tepat waktu

Belajar! Belajar! Belajar! via http://www.jejeblog.net

Maka jangan heran, mengapa Bidikmisi nggak berlaku buat mahasiswa yang ‘miskin’ saja? Dikti sudah menerapkan kebijakan dengan tegas, syarat penerima Bidikmisi harus berprestasi—di samping dari keluarga miskin. Indikator prestasi ditentukan lewat perolehan IPK minimal 2,75; IPS 3,00, dan keikutsertaan dalam ajang PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Ditambah lagi kewajiban lulus tepat waktu. Kalau tidak mampu, terpaksa kuliah dengan biaya sendiri (yang artinya bukan lagi mahasiswa Bidikmisi).

9. Ada kalanya seorang dosen menegur, “Nggak usah ikut gerakan, belajar aja yang rajin,”

Kuliah vs Organisasi via http://4.bp.blogspot.com

Tuntutan IPK dan lulus tepat waktu kadang membuat beberapa dosen sangsi jika mahasiswa Bidikmisi aktif berorganisasi. Kalau alasannya supaya mahasiswa lebih fokus belajar tak masalah. Tapi, bagaimana jika sang dosen justru bermaksud merendahkan? Kejadian ini pernah dialami mahasiswi penerima Bidikmisi di salah satu kampus negeri di Jember. Dia adalah salah satu anggot Pers Mahasiswa di kampusnya. Hingga suatu ketika, dia menulis berita tentang penyimpangan yang dilakukan seorang PD III. Bukannya merasa bersalah, PD III justru menegur mahasiswi tersebut dengan kasar, “Kamu belajar saja yang rajin. Kuliah dari beasiswa saja memberitakan yang aneh-aneh,”

10. Namun, pertanyaan paling menohok bagi anak Bidikmisi adalah: Apa kontribusimu buat negara yang telah membiayaimu kuliah?

Apa kontribusimu? via http://google.com

Kadang, tiba-tiba berpikir: Program Bidikmisi bukan serta merta kebaikan pemerintah demi pemerataan pendidikan tinggi. Setelah berhasil memperoleh IPK 2,75; ikut PKM; dan lulus tepat waktu, kewajiban mahasiswa Bidikmisi belumlah usai. Hati dan pikiran mereka masih dipenuhi tanya: “bagaimana cara membalas budi?”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya