Kegundahan seakan tak pernah lepas dari diri kita. Hampir setiap hari kita mengalaminya. Sudah banyak cara yang kita lakukan demi mengusir perasaan tidak enak itu, namun kita lebih sering gagal. Misal, bepergian atau rekreasi ke sebuah tempat yang nyaman dengan suguhan pemandangan yang maha indah, tapi justru hal itu tidak membuahkan hasil. Bukannya rasa gundah itu hilang setelah rekreasi, justru malah tambah betah singgah di dalam diri kita. Pasti ada di antara kita yang pernah mengalami hal seperti itu. Ada apa dengan diri kita? Lalu pertanyaan seperti itu muncul dengan sendirinya.  Mungkin ada hal-hal yang sering kita lalaikan, sehingga tanpa kita sadari berefek pada pikiran kita yang melahirkan kegundahan, kegalauan dan perasaan tak enak lainnya. Nah, mungkin semua karena kita sering melalaikan hal-hal seperti ini:

1. Kurangnya Bersyukur

Saking padatnya aktivitas seseorang di setiap harinya, membuatnya lalai akan hal-hal kecil. Salah satunya bersyukur. Iya, bersyukur adalah perihal yang sering kita abaikan. Nikmat-nikmat dari Tuhan yang setiap hari kita rasakan adalah anugerah yang tak ada tandingannya. Tapi sayang, kadang kita lalai untuk berucap syukur kepada Tuhan sebagai sumber segala nikmat yang dibagi kepada kita. Bersyukur adalah wujud di mana ‘kecukupan hidup’ dapat direalisasikan. Bila kita sering bersyukur maka kita akan selalu merasa ‘cukup’ tidak kekurangan. Dan sebaliknya, bila kita melalaikan perkara bersyukur, maka kita tak akan merasa puas atas apa yang Tuhan berikan pada kita, dan itulah sebab yang membuat hati kita tak tenang dan selalu gundah gulana.

2. Lalai akan Tuhan

Setiap orang yang beragama pasti memiliki Tuhan, maka sebagai makhluk atau ciptaannya kita harus mengingat-ingat-Nya di mana pun dan kapan pun. Karena setiap kejadian di dunia yang menentukan adalah Dia, maka ingatlah Dia agar kita tidak kenapa-napa dan selalu dalam lindunagn-Nya. Sudah banyak orang yang sukses secara materi, banyak uang, rumah mewah dan sederet perihal kemewahan duniawi lainnya. Berhubung ia lalai akan Tuhannya, tak pernah mengingat-Nya, maka wajar saja bila hari-harinya tak pernah tenang sekalipun ia memiliki segala-galanya.

3. Jarang Ibadah

Advertisement

Satu lagi, ihwal yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan orang, ialah soal ibadah. Kebanyakan dari mereka menganggap ibadah sebagai tugas yang dinomorduakan setelah urusan duniawi. Padahal ibadah itu adalah perkara yang dapat menentukan keberlangsunagn hidup kita. Bahagia atau tidak bahagia hidup kita, bergantung pada ibadah yang kita kerjakan. Masuk surga atau tidaknya juga bergantung padanya. Jika kita menyadari posisi kita sebagai hamba yang lemah, maka taatlah pada Tuhan dengan cara beribadah dan berbuat baik terhadap sesama. Jika itu sudah benar-benar kita lakukan, kita tidak hanya merasakan kebahagiaan di dunia, tapi juga kebahagiaan abadi di surga kelak. Amin.

4. Lupa Sama Orang yang Sedang Kesusahan

Semakin tinggi derajat seseorang, kadang semakin lupa untuk melihat ke bawah. Ia semakin asyik dengan dunianya sendiri, tanpa menengok orang lain yang hidupnya tak semapan dan tak sesukses dirinya. Tak ada salahnya kita memerhatikan orang sekitar kita yang kurang mampu. Membantu mereka adalah cara kita membahagiakan hidupnya. Setidaknya, jika kita tak punya uang, kita bisa membantu dengan yang lainnya, dengan tenaga ataupun ilmu yang kita punya dan sebgainya. Karena membantu orang itu tak melulu dengan uang. Sebanarnya, kebaikan yang kita curahkan terhadap orang lain, itu akan kembali pada diri kita sendiri. Jadi, membantu orang lain itu tak akan membuat kita miskin ataupun kesusahan. Itu salah. Di samping kebaikan itu akan kembali pada diri kita sendiri, kita juga bakal merasa bahagia, karena bisa membahagiakan orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Jadi, bantulah orang lain, niscaya banyak kejutan indah dalam hidup kita.

5. Tidak Pernah Berbakti terhadap Kedua Orang Tua

mom and dad via https://www.google.co.id

Jika tak ada peran orang tua di balik kehidupan kita, mungkin kita tak akan pernah ada dan tak akan pernah menjadi seperti sekarang ini. Atas capaian-capaian yang kita raih saat ini, tak lain berkat pengorbanan mereka. Rasa-rasanya tidak dapat kita lukiskan pengorbanan orang tua kita, yang siang dan malam harinya tak pernah istirahat demi keberlangsungan hidup keluarganya, termasuk kita sebagai anaknya. Tapi sayang, kadang perjuangan mereka lebih sering diabaikan seiring kita tumbuh dewasa, apalagi setelah menikah. Meskipun tak semua anak seperti itu, tapi kebanyakan mereka lupa terhadap orang tuanya, bahkan ada yang durhaka.

Percayalah salah satu kebahagiaan hidup adalah bagaimana cara kita menghargai orang tua kita dengan cara berbakti terhadap kedunya. Yakinlah, mereka tak butuh balasan berupa materi dari anak-anaknya. Mereka hanya ingin, agar kita tidak durhaka terhadapnya. Selalu berbakti kepadanya selama hidup maupun sesudah meninggal. Dengan berbakti terhadap kedua orang tua, niscaya kita akan selalu dinaungi kebahagiaan lahir dan batin dan dijauhkan dari hati yang tidak tenang