Siapa bilang psikopat nggak doyan nyakitin hati kamu? Justru mereka yang suka menyakiti hati bisa berpotensi untuk menjadi seorang psikopat. Secara sederhana, psikopat sering didefinisikan sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan beberapa ciri. Di antaranya perilaku antisosial, tidak memiliki empati dan tindakannya berani sampai tak terkendali. Ciri psikopat lainnya adalah tiadanya rasa sesal jika melakukan kesalahan, termasuk melakukan tindakan kriminal. Seiring perkembangan zaman, definisi psikopat kian luas dan kadang saling bertentangan satu sama lain.

Dan sini, Hipwee akan menjelaskan tentang psikopat hati. Jangan diremehkan! Kalau hati saja mereka tidak mampu menjaga apalagi kamu.

1. Ini bukan perkara siapa yang salah

Siapa yang salah? via http://data3.whicdn.com

Suatu hubungan itu membutuhkan rasa saling percaya dan mengerti. Saat hubungan tersebut sedang dalam masalah, seharusnya kita bisa mendiskusikan bersama dan memfokuskan untuk menjari jalan keluar dari masalah tersebut bukannya malah sibuk untuk mencari siapa yang salah. Siapa yang salah? Itu pertanyaan yang sangat tidak penting dan hanya seseorang yang butuh pembenaran karena hanya akan berujung pada masalah (lagi). Cobalah untuk mendinginkan emosi dan mendiskusikannya bersama.

2. Meminta maaflah pada saat yang tepat

Untuk kalian yang selalu sungkan jika sedikit saja melakukan kesalahan, tolong, minta maaflah pada saat yang tepat saja. Kebanyakan orang meminta maaf hanya agar masalah yang mereka hadapi selesai, terutama dalam sebuah hubungan asmara. Biasanya seseorang akan meminta maaf kepada pasangan agar tidak memicu pertengkaran yang lebih hebat, tanpa tahu akar masalah sebenarnya. Ini tidak ada gunanya. Kalian tidak akan dapat merumuskan permintaan maaf jika tidak mengetahui akar masalahnya apa.

3. Air mata bukan jawaban dari masalah

Advertisement

Jika kalian tidak bisa membuat pasangan kalian bahagia, setidaknya jangan pernah buat mereka menderita. Tangisan bukanlah jalan keluar bagi semua masalah. Kalian perlu berdiskusi bersama dengan hati dan pikiran yang tenang, bukannya malah menangis dan masalah selesai. Masalah tidak akan selesai jika kamu terus-terusan menangis, kalian pikir pasangan kalian bahagia melihat kalian meneteskan air mata? Tentu saja tidak.

4. Sampai mana tingkat kejujuranmu

Seseorang yang jujur adalah orang yang berani. Sampai mana tingkat kejujuranmu? Jika kalian bingung coba saja untuk iseng menghitungnya, berapa kali dalam sehari kalian berbohong. Jika dalam hal simpel atau hal sehari-hari saja kalian tidak pernah jujur, bagaimana dengan hal besar lainnya? Tidak akan menutup kemungkinan kalian akan membuat kebohongan yang lebih besar pula.

5. Meluapkan amarah itu sah-sah saja kok

Meluapkan amarah itu tetap sah-sah saja, jika dalam porsi yang wajar. Tidak sampai membanting-banting segala peralatan rumah tangga, teriak-teriak keliling kampung, membakar rumah, tidak perlulaah.

6. Ancaman itu bukan pilihan terakhir

Sangat salah jika ancaman menjadi pilihan terakhir. Ancaman sendiri saja sudah salah apalagi menjadi pilihan terakhir.

Jika tidak boleh ini mengancam akan melakukan hal konyol ini itu yang justru anehnya berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Sangat tidak logis dan terkesan sangat kekanak-kanakan. Tidak semua hal harus dilakukan dengan ancaman, justru dengan cara yang baik yang membuat kita terkesan akan menimbulkan rasa yang lebih mendalam.

7. Berkata jorok

Apa yang keluar dari mulut kita mengartikan dari mana kita berasal dan bagaimana kita dibesarkan.

8. Hingga kekerasan fisik

Kekerasan fisik via http://shayarix.com

Yang ini sudah tidak ditanyakan lagi, jika pasanganmu sudah berani menyakiti secara fisik lebih baik tinggalkan sebelum terlambat. Hati disakiti, tubuhmupun disakiti, pasti tidak maukan?