Ya, namanya juga hidup, kan? Ada aja hal yang bisa bikin perasaan kita melompat-lompat. Bukan artinya mood swinging yang akut, tapi, perasaan-perasaan yang lumrah semisal kesal, senang, marah, sedih, dan kagum akan mudah sekali timbul. Kapan saja di mana saja.

Anomali perasaan itu juga tidak melulu muncul karena hal-hal yang masif terjadi di sekitar kita, bahkan seringkali saat berada di keramaian, kita bisa mengalami perubahan perasaan terhadap orang asing sekalipun.

Dari sekian banyak perubahan perasaan yang sehari-hari kita alami, semuanya bermuara pada konsep trust and distrust. Karena mereka yang layak kita percayai adalah mereka yang secara tidak sadar, dan kita juga tidak menyadarinya, telah dan selalu bersikap positif.

Sikap positif ini saya terjemahkan sebagai kebaikan. Sebuah sifat general yang mampu membuat orang lain nyaman saat merasakannya. Bentuknya pun beragam, bisa berwujud sikap, penuturan, tindakan, atau bahkan dalam diam.

Karena orang-orang baik akan selalu ada.

Beberapa sinyal baik dari orang-orang baik dapat dilihat dari beberapa hal remeh-temeh di bawah ini (these might be wrong, these might be not). You choose)

 

1. Nggak Pernah Ganti Nomer Handphone.

Untuk yang pertama ini, mari kita batasi angkanya. Anggap saja, kata “tidak pernah” yang saya maksud merepresentasikan usian sepuluh tahun atau lebhi. Jadi, jika kamu adalah orang yang selama sepuluh tahun terakhir masih menggunakan nomor ponsel yang sama, silakan tersenyum 😉

Advertisement

Mengapa ini menjadi indikasi untuk orang-orang baik dan yang layak dipercaya? Mari kita memanjangkan logika. Mereka yang setia menggunakan satu nomor, adalah mereka yang senantiasa stand by dengan nomornya, mereka yang lapang dada, yang (biasanya) tidak punya ketakutan akan hutang dan sebagai-bagainya, yang tidak ingin membuat orang lain merasa kesulitan saat menghubunginya, yang ringan hati saat membantu.

Haha! Kebanyakan yaa alasannya? Intinya itu deh pokoknya 😀

2. Selalu Tersenyum.

tersenyum meringankan kamu via https://zanfadli.wordpress.com

Untuk yang satu ini, mari kita menjajal seberapa picik pikiran kita. Ayo, Siapa yang pertama kali membaca poin nomor dua ini langsung bergumam “masa iya dah?” 😉

Advertisement

Memang tidak ada bukti empiris yang mendukung asumsi ini. Bahwa mereka yang gemar tersenyum adalah mereka yang lebih baik daripada mereka yang selalu bermuka masam.

Tapi, pikirkanlah, untuk dapat tersenyum apalagi kepada mereka yang tidak sama sekali kita kenal dibutuhkan lebih dari tarikan otot di muka, tapi juga keberaninan dan niat untuk bersikap rramah. Bukankah itu adalah hal yang baik? Lagipula, sudah lama sekali sterotipe yang mengatakan bahwa mimik muka orang baik adalah mereka yang tengah tersenyum, toh?

3. Berpikiran Positif.

susah-susah gampang lho buat selalu husnuzon 🙂 via https://zanfadli.wordpress.com

Sungguh, jangan remehkan poin yang nomor tiga ini. Coba sejenak perhatikan sekeliling kamu. Pasti akan selalu ada beberapa orang yang gemar sekali berkomentar negatif, atau memikirkan hal yang sama sekali di luar nalar kalian. Mereka yang dengan senang hati mengumbar aura negatif itu biasanya punya banyak referensi berita dan punya perhatian yang berlebihan terhadap sesama.

Kalau begitu, mereka yang punya aura dan pikiran positif adalah sebaliknya?

Umm, bisa juga dibilang begitu. Tapi saya lebih senang menggambarkan mereka yang punya level positif tinggi adalah mereka yang sedikit cuek dengan sekitar, berpikiran terbuka, tidak punya musuh, dan menjalani hidup apa adanya. Mereka adalah orang yang baik dan tidak akan terusik dengan apa saja yang bukan urusan mereka.

4. Menyembunyikan Ibadah.

hubungan dengan Tuhan adalah hubungan yang paling personal, kan? via https://zanfadli.wordpress.com

Menjadi tidak sombong adalah salah satu hal paling sulit di dunia ini. Maka saya menaruh hormat yang paling dalam kepada mereka yang jauh dari sifat sombong.

Jika menyombongkan hal-hal yang nampak dan duniawi sudah lumrah, saya akan menaruh hormat lebih dalam lagi kepada mereka yang jauh dari sifat sombong atas kualitas dan kuantitas ibadah mereka. Tenang mereka yang dengan rendah diri menyembunyikan betapa mereka menghamba kepada Tuhan dan ajaranNya.

Sungguh bukan hal yang mudah, untuk bersikap demikian. Untuk itu, mereka yang dengan segala kepasrahan diri tidak mengumbar bagaimana hubungan mereka dengan Tuhan adalah orang-orang yang baik.

5. Memulai Percakapan.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang menuliskan tentang orang-orang yang punya intelektualitas tinggi. Salah satu ciri mereka adalah mereka yang menyapa terlebih dulu. Mereka yang menanyakan “apa kabar” terlebih dahulu.

Dari situ, saya yakin, mereka yang dianggap pintar itu pun punya sisi kindness yang tebal. Mereka cenderung akan punya sikap yang lebih mannered. Karena saya yakin, tidak smeua orang bisa membuka percakapan.

Tolong jangan remehkan kemampuan yang satu itu. Untuk beberapa orang, membuka percakapan adalah hal yang mudah, namun bagi banyak orang, mereka akan lebih memilih untuk menunggu atau bungkam.

Sekali lagi, mereka yang terbiasa memulai percakapan adalah salah satu ciri orang baik 😉

6. Meminta Maaf, Tolong, dan Berterimakasih.

good manners 😉 via https://zanfadli.wordpress.com

Satu hal yang selalu saya katakan kepada adik bungsu saya yang tengah bersekolah di Pesantren adalah: Ingat selalu, ‘maaf’, ‘tolong’, dan ‘terimakasih’!

Karena tiga ungkapan itu yang saya rasa mulai terdengar antik di masyarakat kita. Mereka yang terbiasa dengan sopan mengungkapkan tiga kata itu saya rasa adalah mereka yang punya integritas dan menaruh hormat kepada lawan bicaranya.

Memintaa maaf, tolong, dan berterimakasih memang sepintas terdengar ringan. Tapi jika telah dilakukan setiap hari, hal ini bukan saja menimbulkan aura positif dan kindness dari mereka yang melakukannya, tapi juga melahirkan rasa kepercayaan.

7. Mem-posting Hal-Hal yang Layak Baca.

Meet the Internet. via https://zanfadli.wordpress.com

Dunia maya seringkali menjadi alter ego bagi mereka yang tidak nyaman dengan dunia nyata. Terlepas dari jutaan manfaatnya, dunia maya melalui situs-situs populer di dalamnya hadir menjadi wakil diri kita dalam tatanan dunia lapis kedua itu.

Penyebaran beritan dan informasi lewat maya akan dengans egera dapat diakses oleh siapa saja. Pernah ada satu ungkapan:

… once you post it, you’d never possess it

Artinya, saat kamu memutuskan untuk memposkan sesuatu ke dunia maya, apapun itu, saat itu juga kepemilikan kamu atas hal tersebut akan hilang. Untuk itu dibutuhkan lebih dari sekadar kesadaran moral dan tanggungjawab atas komunitas dalam mengakses internet.

Dan mereka yang secara apik menyaring postingan mereka di dunia maya termasuk orang-orang yang baik. Karena mereka peduli.

8. Pengendali Emosi.

Poin terakhir (versi saya) ini juga salah satu yang paling sulit. Dan pada saat yang sama juga salah satu hal yang paling mencirikan kebaikan seseorang.

Secara alami, kita diciptakan memang sudah komplit dengan emosi. Sebuah anugerah yang punya dua sisi. Baik dan buruk, Tergantung bagaimana kita menciptakannya. Karena saya yakin, emosi itu selalu bisa dikendalikan.

Entah emosi yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Saat kita bisa dengan matang mengendalikan luapan emosi, saat itu kita akan merasa sebuah kemerdekaan dan kelegaan mental. Merasa memiliki diri sendiri seutuhnya dan menuju kebaikan yang lebih besar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya