Salah satu hal yang dianggap tabu di negara kita +62 adalah ketika wanita usia di atas 25 tahun, atau di bawah 30 tahun, atau bahkan lebih dari 30 tahun belum menikah. Di mana para tetangga, teman-teman bahkan orangtua mulai mempertanyakan: Kapan saya menikah? Apalagi ditambah bulan ini-bulan Agustus, di daerah saya-entah kalau sama dengan daerah kalian, satu malam bahkan bisa kondangan 2, 3 sampai 4 kali. Kocaknya ada yang membuat meme dari singkatan huruf bulan Agustus dalam bahasa Jawa: Aduh Gusti Uleman Terus. Yang artinya: Aduh Tuhan Kondangan Terus.

Bukan bersikap apatis atau tak peduli tentang pernikahan. Saya toh juga terkadang merasakan kegelisahan karena usia yang semakin bertambah belum juga mendapatkan pasangan, namun masih biasa saja. Wajar saja, karena Inilah risiko dari kita sebagai seorang wanita yang selow-selow saja tentang pernikahan.

1. Meski terkadang merasa kesepian, tapi itu adalah sebuah proses dari penantian

Sendiri Vs Kesepian

Sendiri Vs Kesepian via http://www.pixabay.com

Advertisement

Perihal untuk sendiri memang adalah keputusan. Bukan karena tidak mau atau susah jatuh cinta. Hanya saja lelah harus memulai dari awal lalu dipatahkan begitu saja. Yang namanya masih sendiri tak lekang kita selalu dihampiri rasa kesepian. Kita tidak bisa menghindar karena itu adalah sebuah proses penantian. Kesendirian adalah proses mematangkan diri sendiri untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

2. Yang ada dalam pikiran adalah fokus mengejar impian, bukan berarti tak ingin memiliki pasangan

Fokus masa depan baru pasangan

Fokus masa depan baru pasangan via http://www.pixabay.com

Untuk hal sepele saja yang bersifat sementara Tuhan pikirkan bahkan kerjakan juga wujudkan. Masakan untuk urusan pasangan yang bersifat kekal tak Tuhan pikirkan? Hal itu yang selalu saya gemakan dalam diri sendiri, ketika tak adanya pasangan atau seseorang yang spesial mendukung perjuangan saya dalam mengejar impian.

Mengejar impian atau karir saat ini bukan berarti tak memikirkan tentang pasangan. Hanya saja untuk menjadi pendamping kita juga harus punya kesiapan matang untuk bekal anak-anak kita nanti.

3. ketika menghadiri sebuah pernikahan, selalu jadi sasaran empuk pertanyaan: kapan nyusul?

Nyusul kapan?

Nyusul kapan? via http://www.pixabay.com

Advertisement

Sewaktu menghadiri sebuah pernikahan, yang sering ditanyakan pastinya adalah: Nyusul kapan? Sendiri atau dengan pasangan? Jujur saja saya heran kenapa pertanyaan itu seperti menjadi budaya di zaman sekarang. Tanpa ditanya sekalipun, sebenarnya kita juga memikirkannya.

Memang sudah risikonya karena secara nyata kita memang masih sendiri. Pikir positif saja. Siapa tahu ada kenalan baru atau ketemu jodoh tak sengaja di pesta kondangan. Amin-nin saja, ya. Hehhehe..

4. Karena untuk berpura-pura bahagia adalah kita juaranya. Namun ada saja hal yang bisa kita ciptakan, tak melulu soal pasangan

Ciptakan bahagia dengan cara sendiri

Ciptakan bahagia dengan cara sendiri via http://www.pexels.com

Bukan berarti tak memiliki pasangan membuat kita tak bisa bahagia. Justru ini adalah waktu untuk kita menciptakan kebahagiaan dengan versi kita sendiri. Ketika pasangan lain mungkin sibuk bertengkar atau tak bisa kemana-maa karena efek bucin, kita justru sebaliknya. Kita bisa memaksimalkan potensi kita-dalam bidang apa saja-ketemu relasi dari mana saja. Dan kebahagiaan lagi-lagi tak melulu soal pasangan.

Meski pura-pura bahagia terkadang melelahkan, namun ini sebuah perjalanan yang tak harus dilewatkan.

5. Suka sedih dan bingung di saat tak mampu menjelaskan pada orangtua tentang keputusan kita saat ini masih sendiri

Penjelasan yang tak membantah

Penjelasan yang tak membantah via http://www.pexels.com

Jujur sedih rasanya ketika bingung menjelaskan dengan cara seperti apa supaya orangtua mengerti keputusan kita saat ini masih sendiri. Berkali-kali ketika pertanyaan itu datang, saya berusaha menjelaskan kepada beliau: bahwa sebenarnya saya pun juga berjuang-tidak tinggal diam-tidak berhenti berusaha.

Dan akhirnya saya justru pergi ke kamar menenangkan diri.  Bahkan tak jarang akhrinya beliau juga diam. Dan suatu hari ketika ada teman atau saudara menikah pertanyaan itu datang lagi. Yah, risiko masih sendiri.

6. Memilih menghindar dari tempat berbau pasangan. Tolong jaga perasaan kami di sini!

Woi? Tolong hargai kami!

Woi? Tolong hargai kami! via http://www.pexels.com

Bagi kita yang sudah lama sendiri-ke mana-mana sendiri, jelas terkadang merasa terganggu dengan suatu waktu berpapasan dengan mereka yang memiliki pasangan. Apalagi jika tak sengaja kita melihat mereka sedang mengumbar kemesraan di tempat umum.

Yah, itu hak setiap masing-masing orang. Sudah risikonya kita menelan efek kecemburuan ingin mendapatkan perlakuan yang sama. Dari pada kepikiran, mending menjauh saja ke tempat lain yang membuat hati lebih nyaman.

7. Bukannya Tuhan tak mendengar atau usaha kita yang kurang. Hanya saja kita perlu terus menguatkan kesabaran

Waktu Tuhan pasti yang terbaik

Waktu Tuhan pasti yang terbaik via http://www.pixabay.com

Pertanyaan yang sering menggelayuti mata kita dalam tidur malam, dan kepenuhan orang lain yang selalu terjadi mulus begitu saja, membuat kita berpikir: Kenapa saya yang giat ibadah, rajin beramal, baik, tidak sombong dan suka menabung tetap saja tak kunjung mendapatkan pasangan? Apa karena kurang cantik atau karena kasta, sehingga rasanya dijauhkan dari adanya pasangan? Kita tidak sendiri. Saya juga merasakan hal yang sama.

Meskipun keadaan itu membuat kita putus asa. Jangan sampai membuat kesabaran kita menyerah begitu saja. Kita perlu menguatkan diri serta usaha kita, dan selebihnya biar Tuhan yang bekerja. Sudah risikonya kita menelan komentar negatif tentang masih sendirinya kita.

Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita dalam keadaan terburuk dan terpuruk sekalipun. Dalam waktu terbaik yang sudah Tuhan tetapkan, kita pasti akan menikah. Jika bukan tahun ini ya tahun depan. Hawa diciptakan untuk Adam. Kita pasti juga diciptakan untuk bersama seseorang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya