"nanti anak aku namanya Jingga"

"kamu Jingga, anakku Birunya gimana? Siapa tau anak kita jodoh. Hahaha"

"Hahahahhaa. Jadi nanti anak siapa yang dipanggil kakak nih?"

Pembicaraan singkat di pagi hari yang cukup menggelitik. Walaupun sebenarnya juga cukup 'gila'. Bagaimana tidak gila, sepagi ini kami sudah membayangkan nama anak-anak kami, sementara calon ayah dari merekapun masih belum kami temukan. Mungkin kami sedang mengalami sindrom? sindrom yang sudah lumrah dirasakan oleh gadis usia duapuluh-an. Dan anggap saja pembicaraan tadi sebagai upaya untuk menghibur diri dari jengahnya mendapat pertanyaan "kapan nikah?". Dan tentu saja, di balik semua kejengahan kami, ada beberapa hal yang menguatkan kami untuk tidak terpengaruh dengan pertanyaan itu. Dan bersabar menunggu ketetapan Tuhan adalah hal yang selalu kami syukuri.

 

1. Menikah bukan hanya ajang pamer semata

Bagi kami, menikah bukan sekedar status. Bukan pula sekedar ajang memamerkan kemampuan kami. Kemampuan? Ya, kemampuan dalam banyak hal. Kemampuan memilih calon suami, kemampuan menyatukan dua keluarga, kemampuan mengadakan resepsi cantik nan megah, serta kemampuan-kemampuan sejenis lainnya. Bukankah bagi sebagian orang menikah merupakan ajang bergengsi yang ingin mereka pamerkan?

2. Hidup bahagia setelah menikah merupakan harga mati!

happy family

happy family via https://www.google.co.id

Terlepas dari semua itu, menikah merupakan momen sakral yang tidak akan sembarangan kami lakukan. Kami tentu akan memilih calon suami dengan amat hati-hati. Karena kami tidak ingin menghabiskan sepanjang hidup kami dengan menyesali apa yang telah kami pilih. Menikah bukan lagi hanya sekedar masalah cinta bagi kami. Banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum kami memutuskan akan menikah. Kami ingin pernikahan kami menjadi awal kehidupan baru yang membahagiakan. Hidup bahagia dengan suami dan anak-anak kami kelak adalah harga mati.

3. Memantaskan diri menuju hari bahagia

Di saat satu per satu teman kami melepas masa lajang, kami masih sibuk dengan petualangan kami. Kami masih asyik memperluas jaring pertemanan kami, menikmati akhir pekan kami ke tempat-tempat baru, dan mencoba hal-hal baru. Yang tidak jarang hal ini membuat orang-orang di sekitar kami nyinyir, dan berkali-kali mempertanyakan kapan kami akan menikah. Oh, tenang saja.

Mungkin di mata kalian kami sedang bersenang-senang sekarang, tapi percayalah, kami juga sedang menyiapkan diri untuk menuju hari bahagia itu. Semua kegiatan kami bukan hanya kesenangan semata, semua ini juga merupakan salah satu cara kami untuk memantaskan diri. Kami tidak mau suami kami kelak merasa terganggu karena sikap kami yang masih ingin berpetualang.

Biarlah saat ini kami menikmati petualangan kami, agar kelak kami benar-benar bisa memfokuskan diri mengurus keluarga kami tanpa tergiur keinginan berpetualang lagi bersama teman-teman kami.

4. Berhati-hati dalam memilih calon pendamping

Begitu sering kami mendengar pertanyaan kapan akan menikah. Beragam jawaban sudah kami lontarkan tanpa lupa dengan memberikan senyuman manis. Satu, dua kali, kami tidak terlalu peduli dengan pertanyaan itu. Tapi semakin seringnya pertanyaan itu muncul cukup membuat kami jengkel dan malas untuk menanggapi. Dan lihat, orangtua kami pun mulai tidak sabar untuk segera melihat putri kecilnya duduk di pelaminan.

Selain semakin sering mempertanyakan mengenai calon menantu, semakin sering pula mereka mengajukan nama-nama yang mereka anggap cocok menjadi pendamping kami. Yang mereka tidak tahu, kami disini juga sedang berusaha. Kami tidak menikah bukan berarti tidak ada pria yang bersedia menikahi kami. Hanya saja kami sedang berhati-hati dalam menentukan kepada siapa kami akan menjatuhkan hati.

Karena kami tentu tidak mau menyesal seumur hidup karena salah dalam memilih calon imam. Setidaknya kami harus terlebih dulu yakin bahwa pria pilihan kami dapat menjadi imam yang baik, juga menantu yang baik bagi kalian kelak, Ayah dan Ibuku tersayang. 

5. Maka kumohon bersabarlah, Ayah dan Ibuku tersayang :)

parents and daughter

parents and daughter via https://www.google.co.id

Wahai Ayah dan Ibu tersayang, percayalah! Suatu saat nanti, kami pasti akan menikah. Entah tahun depan, dua tahun lagi, atau bahkan bisa saja bulan depan. Bisa saja besok tiba-tiba ada sesosok pria yang mengetuk rumah kami dengan membawa kedua orangtuanya, dan meminta kami menjadi teman hidupnya. Bukankah kita tidak pernah tahu kemana takdir akan membawa kita? Jadi kami mohon bersabarlah. Doakan saja semoga segera ada lelaki sholeh yang akan mengetuk rumah dan hati putri kecilmu ini, yang membuat kami menghentikan penantian dan pencarian kami selama ini. Dan sebelum itu terjadi, izinkan kami tetap menjadi putri kecilmu dengan semua sifat kekanak-kanakan kami, yang selalu menggelayut manja di sisi kalian.  

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya