Manusia adalah makhluk yang bersifat individual yang berarti bahwa antara orang yang satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan baik itu perbedaan karakter, kemampuan, tujuan, kebiasaan, dan bahkan cara pandang. Segala perbedaan tersebut mengakibatkan pada perbedaan pencapaian hidup antara orang yang satu dengan lainnya. Pencapaian atau prestasi yang diraih tidak diperoleh dengan cuma-cuma, melainkan melalui serangkaian proses yang rumit dan cukup panjang sehingga mengorbankan beberapa hal. Karena pengorbanan dan jerih payah yang telah dilakukan tersebut terkadang orang yang berhasil akan suatu tujuan merasa terlalu bangga terhadap dirinya sendiri. Berikut adalah hal-hal yang bisa menjadi bahan refleksi diri bagi kita yang terlalu bangga atas diri dan pencapaian.

1. Siapa Saya?

Saya bukan malaikat, saya tidak mau jadi jin. Lalu, siapa saya? via http://pastormattrichard.com

Siapa saya? Dimana saya? Kenapa saya pakai perban?

Ups! Pertanyaan di atas bukan seperti pertanyaan kebingungan yang ditanyakan seseorang yang amnesia karena baru kecelakaan seperti di film-film. Pertanyaan “Siapa saya?” secara sempit sangat mudah untuk dijawab, tinggal sebutkan nama, misalnya saya Robert, Helen, Asep, Juleha, atau siapapun nama kita. Tetapi secara luas dan mendalam, pertanyaan ini menuntut kita untuk berkaca diri tentang siapa sih diri kita sebenarnya di dunia ini hingga hampir setiap hari membanggakan diri sendiri. Kedudukan kita hanyalah manusia biasa, makhluk lemah dengan segala keterbatasan dan kekurangan.

Advertisement

Lantas, masih pantaskah kita untuk berbangga diri?

2. Untuk Apa Saya Hidup?

Saya melakukan ini, pergi ke sana, mengejar itu, tapi apa tujuan hidup saya? via http://travelbrochures.org

Kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk menumpang makan, tidur, dan merepotkan orangtua loh! Hakikatnya setiap orang mempunyai tujuan untuk apa hidup di dunia yang semakin canggih ini. Tapi apa tujuan itu? Ada pertanyaan: “Hidup untuk makan, atau makan untuk hidup?” kemudian pertanyaan “Gimana nanti, atau nanti gimana?” dan sejumlah pertanyaan membingungkan lainnya, jangan sampai pilih “atau” ya!

Kita harus betul-betul tahu untuk apa kita hidup, jikapun sudah tahu, maka harus sering-sering bertanya begini kepada diri sendiri: “Jika tujuan hidup saya bukan untuk berbangga diri, kenapa saya masih melakukannya?”

3. Orang Baikkah Saya?

Baik dan buruk mencakup hati, pikiran, dan perbuatan. via http://harpcolumn.com

Advertisement

Pertanyaan ini mempunyai dua jawaban, yaitu: “Ya” dan “Tidak” serta punya dua alasan pula yang beranak-pinak menjadi puluhan alasan lain yang intinya sama saja. Alasan orang yang menganggap dirinya baik adalah karena perbuatan dan kebiasaan yang sering dia lakukan lebih banyak hal baik dan positifnya sehingga tanpa terasa malah meremehkan dan menganggap orang lain tidak atau kurang baik. Demikian karena ukuran baik dan buruknya bukan ukuran dari nilai-nilai di masyarakat, tetapi ukuran kebiasaan dan perbuatan yang dia lakukan sendiri. Sedangkan orang yang menganggap dirinya buruk adalah karena minder dan merasa diri tidak mampu melakukan perbuatan atau kebiasaan baik, sehingga sering bilang “Aku mah apa atuh?” Dan dari keminderan tersebut, malah orang yang bersangkutan jadi terlalu memaklumi diri sendiri sehingga menutup diri terhadap perubahan ke arah lebih baik.

Tapi, yang perlu kita ingat kembali, orang baik itu tidak berbangga diri, kan? Dan orang buruk tidak punya waktu untuk berbangga diri sebab hidupnya penuh usaha untuk membuat diri menjadi “baik.” Betul?

4. Apa yang Saya Bisa?

Kemampuan manusia itu terbatas. via http://blog.transtutors.com

Aku bisa menyelami seluruh samudera, aku bisa menghijaukan langit hanya jika kau yang meminta. Demi dirimu, aku bisa melakukan apapun.

Eeeeaaaakkk! Yakin bisa? Kalau bisa, buktikan! Perlu waktu selamanya jikapun bisa dibuktikan, itu juga kalau sang kekasih belum menyatu dengan tanah. Kadang kita merasa bahwa kita bisa melakukan hal ini, kita bisa menguasai hal itu, segalanya bisa kita lakukan. Misal kita mengaku jago menulis novel, dan untuk menulis novel itu perlu banyak ilmu loh! Yakin menguasai? Kalau begitu, paham seluruh majas? Diksi? Peribahasa? Ungkapan? EYD? Pola kalimat? Mari kita tanyakan kembali pada diri kita, apa sih yang kita bisa? Sehingga kita dengan percaya dirinya selalu meninggikan diri dengan kemampuan yang terbatas.

5. Bermanfaatkah Saya?

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya. via http://hiring.workopolis.com

Okelah! Misalnya kita memang betul-betul menguasai suatu hal secara mendalam, tapi apa kemampuan kita tersebut bermanfaat bagi sesama? Apa orang lain terbantu dengan kemampuan kita tersebut? Apa masyarakat sekitar kita akan lebih maju? Yuk mari kita renungi diri, sudahkah kita memberikan manfaat untuk orang lain? Jika belum, apa terlalu berbangga diri masih penting? Jika sudah, pantaskah kita yang telah menjadi “superhero” bagi sesama malah mengagungkan diri dengan kemampuan yang tidak banyak? Nanti malah dikatai: “Superhero dengan harga diri superzero.” Kita perlu ingat bahwa terlalu berbangga diri tidak akan membuat martabat semakin tinggi, malah harga diri yang merosot.

6. Apa yang Saya Punya?

Semuanya hanya titipan dari Tuhan. via http://aniview.eu

Pertanyaan ini mempunyai ragam jawaban, di antaranya: “Saya punya mobil mewah, hp canggih, tabungan banyak” atau “Saya punya cinta yang tulus untuk kamu, saya punya hati yang suci.” Preettt! Yakin punya itu semua? Jika kata “punya” kita soroti sebagai harta kebendaan, yakin itu murni milik kita? Terus, belinya pakai uang siapa? Dapatnya darimana? Dan terutama, dibalik uang itu adakah orang yang terlukai? Kita tidak bisa menjamin, guys! Semua hanyalah titipan belaka. Kita garis bawahi, tebalkan, kapitalkan: TITIPAN! Jadi, dengan segala titipan ini, tidak malukah untuk berbangga diri?

7. Bagaimana Orang Memandang Saya?

Pandangan mata orang bisa kita ketahui, tapi pandangan hati orang tidak ada yang tahu pasti. via http://theodysseyonline.com

Yup! Pertanyaan refleksi yang satu ini memiliki jawaban simpel, yaitu: “Orang memandang saya dengan kedua matanya, dengan membuka kedua kelopak mata.” Jawabannya betul, tapi tidak tepat. Kadang kita merasa orang lain bersikap baik karena memang orang tersebut memandang kita baik. Tapi, apa betul kita dipandang demikian? Untuk memandang orang lain dengan tepat, tidak hanya mata yang dilibatkan, loh! Tetapi hati dan pikiran. Yakin hati orang lain memandang kita sebaik pandangan matanya? Bukankah hati orang tidak dapat ditebak? Kita juga harus berpikir, apabila terlalu membanggakan diri, lalu bagaimana orang akan memandang kita? Akankah kita dipandang sebagai orang yang betul-betul berkualitas, ataukah orang yang “mengaku” berkualitas? Mari renungkan!

8. Sadarkah Saya?

Yuk mikir! Yuk sadar! via http://plus.google.com

Pamungkas, nih! Ketika kita berbangga diri, apakah kita betul-betul sadar melakukannya? Ataukah sedang kerasukan ‘sesuatu’ yang sedang jahil? Kemudian kita juga perlu merasa-rasa, karakter bangga diri tersebut merupakan bagian dari diri kita yang sebetulnya atau sebaliknya. Jika pun bukan, lekaslah lenyapkan sikap bangga diri tersebut karena sangat berbahaya! Pertanyaan ini menuntut kita untuk merangkum jawaban dari ketujuh pertanyaan di atas. Intinya, kita harus berulang kali berpikir dan merasa apakah kita pantas untuk selalu membanggakan diri dan segala pencapaian? Terutama, mari kita sadar dengan menampar diri sendiri untuk melihat kenyataan melalui ‘mata’ yang benar-benar terbuka.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya