Kata orang cemburu itu tandanya sayang. Tapi aku sudah tak butuh tanda-tanda lagi untuk meyakinkanku bahwa aku menyayangimu. Aku kira kamu sudah melepaskan kepergiannya dan berbalik ke arahku. Aku kira kamu sudah mantap memilihku. Aku kira hak milikku sudah penuh atas hatimu. Aku kira... Sekarang aku kira semua perkiraanku salah.

1. Aku mengerti bahwa melupakan bukanlah perkara mudah.

Aku tahu sakitnya. via http://www.smartchoice.sg

Awalnya aku maklum, karena manusia memang tak bisa langsung amnesia setelah putus cinta. Aku tahu persis bagaimana dulu kamu begitu tulus mencintainya. Aku juga tahu persis bagaimana dia akhirnya membuat hatimu lara. Aku merasa tugaskulah nantinya untuk membuatmu benar-benar sembuh dari luka. Kini sudah bertahun-tahun kita bersama dan masih saja kamu mengarah padanya.

Aku kira serpihan-serpihan hatimu, yang sudah berhasil aku rangkai ini, bisa dengan senang hati kamu beri untuk sepenuhnya aku miliki. Aku tak menyangka kamu mengambilnya kembali dan berharap dia akan meraihnya lagi. Setelah kuperbaiki, aku masih yakin akan tetap bisa mendampingimu walau hati itu tak sepenuhnya bersamaku.

Tapi aku tak tahu bahwa akan selama ini, sepedih ini.

2. Ketika sedikit demi sedikit aku tahu, aku tak seterkejut itu

Advertisement

Dia masih menghiasi ponselmu. via http://www.womenshealthmag.com

Aku bisa dengan mudah membuka sandi ponsel barumu dengan mengguratkan nama kekasihmu yang dulu. Gambar-gambarnya masih berserakkan di galerimu. Di kontaknya masih tertulis panggilan kesayanganmu, tak lupa dihiasi tanda bintang, tepat di bawah nama kontakku. Semua orang yang melihatnya pun akan tahu bahwa dia masih menjadi favoritmu, yang kabarnya begitu kamu tunggu setiap waktu. Yang aku herankan, aku tak seterkejut itu. Entahlah, mungkin aku seperti sudah menduganya. Atau mungkin sudah mulai terbiasa. Rasa nyeri yang dulunya menusuk sekali, kini sudah mulai terdesensitisasi. Saat pertama aku mengenalmu, toh kamu memang sudah bersamanya.

Yang terlalu naif ya aku, sempat berpikir bisa dengan mudah memenangkan hatimu.

3. Mungkin bukan sepenuhnya salahmu. Kuakui, dia memang pantas untuk dikagumi.

Aku pun ingin tahu mengapa dia bisa begitu melekat di hatimu. Aku pun mencari tahu, berbekal jejak-jejak interaksi kalian di media sosialmu, yang masih begitu runtut tersusun. Kamu pasti tak punya waktu untuk menghapusnya satu per satu. Mungkin lebih tepatnya kamu tak akan tega, memang terlalu berharga untuk dihapus.

Aku amati foto-fotonya dengan teliti. Parasnya cantik, penampilannya juga sederhana; tipikal gadis baik-baik. Coba ceritakan padaku, bagian mana darinya yang paling kamu rindukan? Apakah rambut panjangnya yang sering kamu belai lembut tanpa pernah bosan? Atau mata indahnya yang jika kamu pandang bisa melunturkan segala kecemasan? Oh, pasti senyumnya! Senyum manisnya pasti tidak mudah untuk dilupakan. Dengan pribadi semacam itu, pasti mudah baginya untuk sekedar mengambil hatimu. Mungkin juga hati orangtuamu, dan teman-temanmu.

Kamu tak salah, jika jadi kamu, aku pun pasti akan menaruh hati padanya. Aku hanya tak menyangka kamu masih betah untuk jatuh hati padanya, lagi dan lagi. Tanpa mengingat apa yang sudah dia lakukan padamu selama ini. Kini kamu sudah denganku. Sejujurnya aku tak berharap banyak. Aku hanya ingin menemukan diriku dalam sorot matamu. Seperti dia yang selalu ada di sana ketika kamu menatapnya.

Sesulit itukah untuk sedikit saja berusaha?

4. Sebenarnya apa yang masih kamu pikirkan? Ketidak-ikhlasan? Atau penyesalan?

Sayang, sebenarnya apa yang belum kamu relakan? Apakah ketidak-ikhlasan bahwa kini dia telah menemukan kebahagiaan? Ataukah penyesalan karena merasa belum mampu membahagiakan? Apapun alasanmu, bukankah dia sudah memilih meninggalkanmu? Aku percaya kamu sudah cukup keras memperjuangkan. Aku juga tahu kamu sudah mati-matian untuk bertahan. Tidak bosankah kamu kini hanya bisa memandangi punggungnya yang berjalan menjauh darimu? Bagaimana mungkin jarak sejauh itu masih tampak jelas bagimu?

Atau bagian mana dariku yang masih membuatmu ragu?

5. Sesulit itukah bagimu untuk hanya mencintaiku?

Tersingkirkan. via http://www.thlady.com

Katamu kamu beruntung bisa menemukan aku, yang tanpa kamu sangka bisa mengobati hatimu. Yang aku sadari, seberapapun luasnya hatimu bisa aku taklukan, tetap ada ruang di sana yang kamu sisakan untuknya. Walau mungkin sempit, ruangan itu letaknya begitu dalam dan sangat terjaga. Sampai aku pun tak akan mampu untuk menjamahnya. Atau mungkin benar kata orang, bahwa hati seorang pria terlalu besar untuk hanya diisi oleh seorang wanita.

Berapa harga sewa di ruangan istimewa itu? Sepertinya aku harus bekerja seumur hidup untuk bisa sekedar singgah di dalamnya.

6. Katamu cemburu dan iri hati sama saja; sama-sama kekanak-kanakkan.

Childish via http://imgur.com

Katakan padaku, anak-anak macam apa yang rela menunggu sesuatu yang selalu membikin kelu? Bukankah anak-anak saja tahu bahwa api itu harus dijauhi, karena lama-lama panasnya bisa membakarmu? Mungkin aku akan jadi anak-anak paling keras kepala yang pernah ada di hidupmu.

Dan setelah aku pikir-pikir, aku setuju kalau aku mungkin kekanak-kanakan. Seperti seorang anak-anak yang tidak suka melihat temannya memiliki mainan yang lebih bagus dari miliknya; aku iri.

Aku iri karena dia mengenalmu lebih dulu dibanding aku.

Aku iri karena dia pernah lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu daripada aku.

Aku iri karena kenangan tentang dia lebih banyak mengisi memorimu dibanding tentang aku.

Aku iri karena dia lebih banyak mengenal dan dikenal teman-temanmu daripada aku.

Aku iri karena dia tampak lebih dekat dengan keluargamu.

Aku iri karena mungkin namanyalah yang lebih sering kamu sebut dalam doa-doamu.

Aku juga iri karena kamu tampak lebih bahagia saat bersama dia, dibanding saat bersamaku.

7. Katamu cemburu itu artinya kita tidak percaya diri. Kamu benar, saat ini aku memang tidak percaya diri.

Tak percaya diri. via http://freephotos.atguru.in

Mungkin akunya saja yang terlalu tebal muka. Sudah jelas-jelas tak sebanding dengannya, tapi masih saja nekat menerobos hatimu.

Dengan lugunya, bahkan dungunya, aku berharap bisa mendapat kesempatan.

Haruskah kita bertaruh? Mengetahui siapa yang lebih dulu lelah dan menyerah? Akankah kamu yang lebih dulu lelah dan akhirnya berbalik padaku? Merengkuhku yang masih berlari di belakangmu lalu dengan berani meraih mantap tangan ini. Atau aku yang akan lebih dulu kehabisan energi lalu jatuh dan mati? Atau jika beruntung masih bisa berjalan pergi dan mencari teman perjalanan baru yang mau menggendongku yang sudah tertatih.

Aku tak tahu bisa bertahan sampai kapan. Kantung kesabaranku bisa kuisi ulang setiap saat, tanpa batas, hingga mungkin membludak. Tapi untuk kepercayaan diri, aku belum tahu darimana bisa mendapatkannya lagi.