Jakarta memang penuh kontradiksi, di satu sisi ibukota negara ini seringkali dipuja sebagai kota tujuan utama para pencari kerja tapi di sisi lain digambarkan sebagai momok kehidupan yang chaos, keras, berbahaya dan sarat akan ancaman. Orang bilang Jakarta macet, memang iya. Orang bilang Jakarta adalah kota yang hawanya panas, tidak salah lagi, bahkan bakal nggak bisa bertahan hidup tanpa AC atau minimal ada fan. Namun Jakarta tetap menjadi kota yang memorable, segala macam rupa cerita perjuangan hidup orang seolah nampak di depan mata. Semua itu dibalut oleh sudut-sudut kota yang menjulang yang menampilkan keperkasaan serta kemegahan.

1. Macet, Telat Ngantor dan Bentrok

Kejadian ini aku alami sekaligus dalam satu waktu. Ceritanya itu adalah hari pertama masuk kantor saat masa magang di Jakarta. Karena belum mendapat kost, aku pun menginap di rumah saudara di kawasan Jakarta Timur, sementara kantor tempatku magang berada di wilayah Jakarta Selatan. Akhirnya perjalanan ke kantor hari itu kutempuh dengan naik kopaja. Sebenarnya memang tidak begitu jauh jaraknya tapi barangkali aku agak kesiangan sehingga tidak dapat terhindar dari kemacetan. Kemacetan parah justru terjadi di kawasan yang sangat dekat dengan kantor dan itu momen dimana rasanya ingin turun saja dari kopaja lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Apalagi waktu mengisyaratkan bahwa aku sudah terlambat sepuluh menit dari jam masuk yang ditetapkan kantor.

Sesaat setelah perasaan gundahku, muncul lah kejadian dimana pengendara sepeda motor memukul kaca jendela kopaja yang kutumpangi hingga pecah, posisinya tepat di bangku depanku. Meski dibalut perasaan shock, aku bersyukur karena bangku tersebut tidak jadi kududuki. Kurang jelas apa yang menjadi duduk masalahnya sebab yang dapat kudengar hanyalah kejadian saling maki antara pengendara sepeda motor dengan kondektur kopaja. Seketika, kuurungkan niat untuk turun dari kopaja sebelum diantarkan sampai tujuan.

2. Kecopetan di Kopaja

Advertisement

Sadar atau tidak sadar, bahaya dapat mengancam seseorang dimana pun orang itu berada, terutama di kendaraan umum dimana orang saling berdesakan dan tidak saling notice dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Kecopetan di kendaraan umum, ini bisa jadi terjadi tidak hanya di Jakarta namun saat itu memang sialnya aku mengalaminya di tempat tersebut. Masih bercerita tentang kopaja–aku memang pelanggan setia kopaja selama berada di Jakarta. Walaupun sempat naik busway beberapa kali dan juga sempat naik Go-Jek namun entah kenapa kopaja terasa efektif untuk ditumpangi saat berangkat ke kantor.

So far, aku masih percaya bahwa kopaja cukup aman untuk ditumpangi sampai pada suatu kejadian kecopetan menimpaku yang akhirnya mulai menggeser keyakinan itu. Kejadiannya terjadi sepersekian detik, bahkan sampai aku tidak menyadari bahwa dompetku telah hilang pada saat di kopaja. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kejahatan, apalagi saat itu penumpangnya juga tidak ramai sehingga sangat memungkinkan jika berulah di dalam kopaja tersebut bakal ketahuan lalu menjadi sasaran massa. Namun rupanya pencopetnya cukup lihai, sampai-sampai tidak meninggalkan jejak pada tas yang berisi dompetku itu, ia mengambilnya dengan sangat rapi.

3. Tetangga Kos Ditemukan Tewas di Kamar

Hidup penuh dengan kejutan selama berada di Jakarta. Kabar duka tiba-tiba menyelinap sore itu, ketika senja mulai menggelap dan tepatnya sesaat setelah aku pulang dari kantor. Jalan gang kostan telah dipenuhi warga kampung yang menyaksikan evakuasi jenazah seorang pria yang ditemukan tewas di dalam kamar kostnya. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan tapi tetap mencurigakan.

Advertisement

Aku merasa bahwa kematian begitu dekat dengan hidup seseorang saat berada di kota ini. Kematian tidak hanya disebabkan oleh ulah jahat orang lain tapi juga karena depresi atau penyakit yang diderita orang tersebut. Bagaimana tidak, tuntutan hidup yang tinggi terkadang tidak diimbangi dengan pola hidup yang tinggi pula. Terutama kaum urban yang rela hidup di rumah-rumah, kost atau kontrakan yang ala kadarnya, tanpa memedulikan keamanan dan kesehatan dirinya.

4. Hidup Hemat dengan Makanan Warteg

Pedagang Warteg via http://tempo.co

Sebagian tempat makan di Jakarta menetapkan harga yang kurang realistis kalau kubandingkan dengan harga makanan di daerah lain di Pulau Jawa. Satu-satunya tempat andalan yang dapat mengisi perut dengan kenyang namun harganya rasional adalah warteg. Untungnya tempat makan ini menjamur di ibukota, terutama di gang-gang kostan. Momok harga makanan yang konon katanya bisa dua hingga tiga kali lipat dari daerah asal pun terpatahkan oleh warteg-warteg ini. Jujur, kehadiran warteg sangat membantu para kaum urban yang mau berhemat soal makan. Meski begitu, harus tetap cermat memilih makanan di warteg, alih-alih mau berhemat malah bisa sakit perut jika masakan yang dimakan kurang higenis.

5. Berkesempatan Menyaksikan ‘Jakarta Fashion Week’

Jakarta Fashion Week via http://m.looks.co.id

Sebagai kaum urban yang tidak bakal menetap lama di Jakarta, menyaksikan event-event seru di ibukota akan menjadi kesenangan tersendiri. Aku pun juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berjalan-jalan, mengunjungi tempat berbeda-beda tiap minggunya, ya literally tiap akhir pekan sebab cuma dua bulan di kota ini. Hidup produktif selama hari kerja membuatku butuh melepas penat di hari Sabtu atau Minggu.

Jakarta memang menawarkan banyak pilihan untuk cuci mata, apalagi bagi yang berkantong tebal. Namun menyaksikan hiburan gratis juga tidak kalah asyik. Lalu perhatianku pun terpusat pada event Jakarta Fashion Week. Awalnya aku sempat berpikir ini adalah pertunjukan yang bisa ditonton free oleh siapa pun tapi rupanya tidak. Yaaaa, at least sudah merasakan euforia perhelatan fashion terbesar ibukota itu dari luar saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya