Adimas Immanuel adalah seorang penulis puisi muda. Lahir di Solo, Jawa Tengah, 8 Juli 1991. Mahasiswa Fakultas Ekonomi yang menyukai buku sastra dan filsafat ini, membuat puisi yang pernah dimuat di antologi puisi bersama Empat Cangkir Kenangan. Antologi puisinya Pelesir Mimpi terpilih menjadi 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-14 untuk kategori puisi. Saat ini, antologi puisi terbarunya yang berjudul "Di Hadapan Rahasia" telah terbit dan bisa dicari di toko buku. Berikut beberapa quote yang penulis ambil dari akun Twitter dan Instagramnya.

1. Hidup akan selalu soal perayaan jatuh-bangkit seorang diri

@suarasunyi

@suarasunyi via https://www.google.co.id


Toh sebanyak apapun temanmu, semewah apapun tafsiranmu, hidup akan selalu soal perayaan jatuh-bangkit seorang diri.


Ya, mereka hanya warna yang tak mengubah bentuk kita.

2. Rindu adalah lalu lintas yang sibuk

Advertisement


Dua percakapan bertemu di simpang malam, bergabung dengan banyak percakapan lain. Rindu adalah lalu lintas yang sibuk.


Pembicaraan kita tetap sama, dan itu masih saja menyibukkan.

3. Pikiran yang bertuhan tak memerilaku


Tuhan menciptakan pikiran. Pikiran menciptakan Tuhan. Dua klaim yang sama tak bergunanya apabila pikiran yang bertuhan tak memerilaku.


Advertisement

Pikiran adalah peranak Tuhan yang menghendaki dan menjauh dengan ikhlasnya sendiri.

4. Hidup ini keniscayaan yang tak terwakili


Tak ada yang bisa menyelamatkanmu selain dirimu sendiri. Duka, kecewa, sakit, putus asa mesti kaujalani seorang diri. Hidup ini keniscayaan yang tak terwakili.


Sederhana, belajarlah berbagi pada dirimu sendiri.

5. Lembah ini mencatat setiap getarnya

ilustrasi puisi

ilustrasi puisi via https://www.google.co.id


Rindu lebih sejuk ketika yang jauh melintas. Mengangin-anginkan pikiran, mengusik tanpa berlebihan. Lembah ini mencatat setiap getarnya.


Rindu adalah keberdosaan yang tak mampu kutebus dengan pertemuan.

6. Semua orang berhak untuk pulang

renggonesia

renggonesia via https://www.google.co.id


Tidak semua orang bisa punya rumah, tapi semua orang berhak untuk pulang


Tempat di mana aku pulang adalah di mana aku menangis.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya