“Merdeka”

Sebuah kata yang mampu membuat raut wajah ini memerah, membuat mulut terbuka lebar, tali suara melengking, tangan mengepak,  kaki tak tahan dalam diam dan harus berlari. Wah...... Itu kemenangan !!! Ya, benar itu kemenangan.

Ungkapan bahagia ini tak bisa tertuliskan. Hanya perasaan salah yang muncul dibenak, terpaksa menyiksa kertas, dan harus menghabiskan kuota *hum curhat.

Bagaimana tidak ? Aku sudah merasakan kemerdekaan sejak aku lahir ! Ketika kedua insan di atasku masih belum bertemu, kemerdekaan itu sudah terjadi. Wajar kan kalau aku bebas ? Sangat wajar.

Ibu Pertiwi..... ! Anggaplah aku sedang bergurau dan merenung seperti remaja yang sedang mencari jati diri. Ini kejujuranku,  aku tak tahan lagi. Aku harus minta maaf. Biarlah di umurmu yang sudah panjang ini, engkau bisa bahagia.

1. Maafkan Aku Atas Egoku yang Tak Tertandingi

Maaf, jika doa yang kupanjatkan tak pernah sempurna. Ku berusaha melakukannya. via http://youtube.com

Aku sangat menyadari, kalau aku lahir dan besar di tanah ini. Aku melakukan banyak hal, termasuk tempatku bermain. Aku menikmati alammu yang sangat menyejukkan hati dan membuat mata tak berkedip. Tapi, kupikir… Aku egois ! Aku egois karena aku jarang memanjatkan doa untukmu. Aku tidak pernah bersyukur kepada Sang Kuasa atas keadaanmu. Doa-doa yang kupanjatkan lebih banyak untuk diriku sendiri tanpa mengingat engkau. Yah… terus meminta untuk membesarkan namaku dan mengejar angin yang tak pernah henti, angin dunia ! Memang terkadang dalam doaku air mata ini harus meleleh, tapi itu hanya terjadi jika ada orang menyakitiku atau karena aku terlalu bahagia.

Bukankah aku harus berhenti dari rasa ego yang tak pernah kelar ini ? Semoga doa-doa yang kupanjatkan di sepanjang jalanku, bisa didengar oleh Sang Kuasa. Aku sangat percaya doa terus mengalir untukmu. Karena bukan cuma aku, sangat banyak temanku di luar sana yang mau peka untukmu. Ia kan, teman?

2. Maafkan Aku Tidak Pernah Menerimamu Apa Adanya

Kesempurnaan yang kau miliki. Begitu Indah. via http://instagram.com

Advertisement

Engkau sangat terbuka menerimaku lahir di dunia. Entah apa yang salah? Di kala aku tumbuh besar, mataku melebar melihat dunia. Aku mulai bosan atas hadirku. Aku berlari ke sana kemari, mencari negeri orang ! Bukan sekedar mencari, aku pengen betah di sana. Aku mengagumi negeri mereka, tanpa mengingat engkau. Seharusnya negerimu yang mereka kagumi ! Tapi aku tidak peduli itu, aku semakin benci keadaan ini.

Percuma kepalaku diisi ilmu berkepanjangan. Tak jarang aku melakukan hal semena-mena, yang membuatmu semakin terluka. Seandainya kau bisa menangis, mungkin isak tangismu belum berhenti hingga kini. Sangat mudah bagiku merusak tamanmu yang penuh dengan bunga-bunga. Percikkan api sangat nekat menghancurkan hutanmu yang subur. Sungaimu menguning ! Bahkan, budayamu yang penuh hormat dan santun, itu tinggal kenangan.

Ibu Pertiwi, semoga semua yang indah-indah yang pernah kau miliki jangan tinggal cerita. Ada banyak temanku yang mau membangkitkanmu kembali. Kami mau bersamamu.

3. Maafkan Aku yang Hanya Biasa-Biasa Saja

Sang Kuasa, dengar aku. Kumau melakukan yang terbaik. via http://influencegenerationjogja.com

Maafkan aku yang terlahir sebagai orang biasa. Aku sangat mengakui kalau kelemahanku lebih besar dari yang kupikirkan. Aku pengen melakukan ini dan itu tapi kakiku sangat terbatas. Sangat banyak yang membuatku semakin lemah.

Seandainya kau bisa mendengar, aku curhat banyak. Maafkan aku belum melakukan yang terbaik untukmu di hari kebahagianmu. Aku berusaha, suatu hari engkau bisa tersenyum.

4. Maafkan Aku Karena Sering Menyia-Nyiakan Anugerah yang Ada Padamu

Dari yang kau miliki, memang tidak ada yang pantas disia-siakan. via http://instagram.com

Tanahmu sangat kaya. Tiap pagi, beribu pulau menyapa samudera. Gemuruh ombak penuh ikan-ikan. Alammu menyimpan segalanya. Namamu bergema dan diakui dunia.

Hangatnya negeri ini, setiap yang kau miliki selalu saja menjadi wacana yang sering dibahas dan membuat debat berkepanjangan. Tidak heran jika kau banyak menemukan kalangan penyayat hati. Semua merasa buta! Tanpa kontribusi berarti. Sia-sia !!!

5. Maafkan Aku Karena Kau Seperti Hari Ini

Haloo…. Mimpi-mimpi indah ! Kumenggapaimu. Bangkit Indonesiaku !!! via http://facebook.com

Engkau hadir sebagai bangsa yang besar, rasa banggaku pun mengebu-ngebu. Kuberjuang dan terus berjuang walau sering menyakiti hatimu. Engkau sangat mengerti jika bangsa ini kadang-kadang ngawur. Matamu terpaksa terpejam menahan kesedihan, melihat orang-orang yang jauh dari gedung-gedung tinggi yang tak pernah mengenal bola lampu, mulusnya aspal, dan serunya nonton di bioskop.

Juga hatimu terasa “nyut-nyut” karena masih banyak anak-anakmu yang belum mengenal buku, mereka harus menyeberangi sungai panjang demi melihat pelita yang pernah kau janjikan, dan kau menangis lebih keras ketika mereka dirusak ! Ditolak !! Dan di buang jauh. Padahal, mereka sangat mampu mengangkat namamu.

Apa gerangan yang terjadi ? Maaf aku tidak bisa menjawab sendiri. Mulutku mengatup.