Tahun 2018 sudah berlalu, meninggalkan rencana-rencana dan resolusi yang belum terealisasi. Tapi, kesempatan selalu ada untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi di tahun sebelumnya. Sebelum membuat daftar resolusi baru di tahun baru nanti, kali ini aku akan mencoba flashback, apa saja resolusi yang belum terealisasi di tahun 2018.  

 

Mungkin akan terlihat sederhana dan bagi yang membaca tulisan ini mari kita saling mengoreksi serta mensyukuri apa yang telah di miliki dan tercapai. Aku sendiri sudah lupa, apa saja Resolusi di tahun sebelumnya. Karena hanya aku catat di secarik kertas dan entah terselip di mana. Secara sekilas aku bisa mengingatnya, karena apa yang di inginkan dan belum terwujudkan akan selalu terngiang di pikiran.

1. Awal Tahun Baru, Selesai Pendidikanku. Resolusi dapat pekerjaan idaman adalah yang utama

make planning

make planning via http://https

Bagi kaum pelajar atau mahasiswa yang baru saja lulus, resolusi mendapat pekerjaan akan jadi daftar resolusi yang pertama. Saat itu aku baru saja di wisuda, tepatnya di awal bulan desember 2017.

Advertisement

 

Sehingga di awal tahun akau sudah tak lagi menyandang status mahasiswa dan mendapat gelar S1. Perjalanan baru pun dimulai, menyebar lamaran sana-sini, dengan kriteria pekerjaan yang sudah tersusun.

 

Advertisement

Tak suka menunggu terlalu lama dan berlam-lama di rumah, panggilan pertama wawancara kerjapun aku datangi. Pada bulan februari tepatya, dapat kesempatan magang di salah satu media media cetak yang cukup terkemuka dan berpusat di Surabaya untuk menempati posisi sebagai wartawan.

 

Namun tak disangka, aku tak mampu menjalaninya, dengan bekerja setiap hari tanpa libur, berangkat pagi dan pulang larut malam. Hal tersebut membuat hidup seakan hanya untuk kerja dan mengabaikan yang lainnya.

 

Dari situ kupetik pelajaran, bahwa apa yang kita inginkan dan harapkan seharusnya kita pahami terlebih dahulu. Benarkah hal itu yang kita inginkan, sanggupkah kita menekuninya di setiap kemungkinan, dan benar-benar memperjuangkannya.

 

Hanya bertahan 1 bulan, aku pun memutuskan untuk berhenti meski belum mendapat pekerjaan pengganti. Hingga hampir 1bulan aku menganngur kembali.

Sesuatu yang di paksakan hanya akan berdampak pada kesedihan tak berujung

Jadi aku memilih untuk membebaskan diri (resign) dan meyakinkan diri akan mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi dan sesuai harapan.

2. Kuartal pertama, Syukurlah dapat pekerjaan yang di inginkan. Resolusi Selanjutnya membeli barang impian

memanjakan mata

memanjakan mata via https://www.google.com

Pada akhir bulan maret aku kembali mendapat panggilan wawancara kerja di luar kota, jika perjalanan dengan sepedah motor hanya memerlukan waktu kurang dari 1,5 jam.

 

Cukup menunggu 1x24jam mendapatkan bahwa aku di terima di pekerjaan tersebut. Apalagi di pekerjaan tersebut membuat aku antusias adalah di tempatkan sesuai yang aku harapkan selama ini.

 

Libur seminggu sekali, bekerja di depan komputer dan bisa memanfaatkan waktu senggangu untuk menekuni passionku. Jika sudah menjadi pekerja, otomatis dapat penghasilkan setiap bulannya, hal tersebut seakan memberi peluang untuk bersenang-senang.

Bulan pertama kerja untuk membayar hutang dan tanggungan, bulan kedua untuk liburan, bulan ketiga untuk belanja, dan begitu seterusnya hingga aku lupa akan pentingnya menabung. Barang-barang yang di impikanpun juga tak sepenuhnya termiliki, karena kebutuhan remeh-temeh yang secara tak sadar mengikis saldo ATM.

Hingga saat ini memasuki bulan ke-9 masih banyak barang impian yang belum terwujudkan untuk di miliki. Apalagi kebutuhan orang tua demi untuk membahagiannya pun masih terabaikan. Setiap perencanaan keuangan yang di atur sendiri setiap bulannya seringnya gagal dan tak mengahasilkan.

3. Pertengahan tahun. Mulai serius menjalin hubungan, tapi sayang kandas di tengah jalan

jangan menyerah dulu

jangan menyerah dulu via http://www.google.com

Pendidikan terselesaikan, pekerjaan di dapatkan, jadi hubungan yang ada saatnya untuk diseriuskan mau di bawa kemana. Rencana memang seperti itu, mulai menyusun rencana untuk masa depan.

 

Namun apa yang diinginkan manusia memang tak sepenuhnya baik untuk manusia itu sendiri, karena Tuhan sudah punya rencana untuk hambanya.

Aku dan diapun memutuskan untuk lagi bersama, karena memang kita tak lagi sejalan, aku rasa aku sendiri yang memang salah dari awal.

 

Saat usia beranjak kepala dua, memang sudah tak saatnya untuk sekedar untuk bersenang-senang atau hanya untuk membahagiakan hati sesaat. Jangan gampang terbawa perasaan, sudah cukup kisah-kisah lama yang berkhir luka.

 

Jika sudah beranjak dewasa, harusnya berfikir jangka panjang dan tak hanya memikirkan ego sendiri. Ada orang tua, saudara, dan pertimbangan lainnya yang juga berpengaruh setiap keputusan yang kita ambil.

4. Kuartal ketiga, kesendirian membuatku fokus untuk memperbaiki diri, meski belum konsisten sampai saat ini

fokuslah pada tujuan

fokuslah pada tujuan via https://www.google.com

Menjalani status single memang bukan sebuah masalah besar, tak ada lagi kegitan telfonan setiap malam, tak ada lagi yang sering menanyakan kabar atau sekedar tanya sedang apa. 

 

Sebulan berlalu juga akan terbiasa akan terbiasa akan hal tersebut, dan dengan aktivitas kenangan-kenangan yang ada juga bisa teralihkan. Olahraga setiap pagi, kerja dari siang sampai malam, ngopi bersama rekan kerja dan kegiatan lainnya untuk menghindari waktu senggang dan sendirian. Cukup efektif dan efisien agar tak ada lagi terpikirkan tentangnya yang telah membuat kenangan di hati.

 

Sepintar apapun kita, setangguh apapun anda dan secuek apapun kita, saat sedang patah hati semuanya seakan melemah. Terasa sangat malas melakukan apa-apa, setiap waktu memutar lagu melow, dan tak ada yang menarik lagi di sekitarnya.

 

Itulah bahayanya saat sudah menjatuhkan hati pada orang lain, terlalu berharap pada manusia, dan mengabaikan kuasa tuhan yang berkehendak atas segalanya.

 

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk introspeksi diri, mendekatkan diri pada illahi dan kembali memantaskan diri untuk tidak lagi bermain hati.

5. Merasa belum sesuai rencana. Akhir tahun terasa dilema, mengingat Resolusi banyak yang belum terealisasi

teruskan perjuanganmu

teruskan perjuanganmu via https://www.google.com

Sekian dari daftar resolusi yang pernah tersusun di awal tahun dulu, hanya beberapa saja yang tersentuh untuk di wujudkan, perlu di koreksi lagi apa yang salah sehingga masih banyak yang terlewatkan dan gagal terealisasi.

 

Pekerjaan, hubungan, perbaikan diri, dan segala hal yang menyangkut kehidupan pribadi adalah bagian dari resolusi di tahun lalu yang perlu di perbaiki lagi di tahun ini.

 

Perlu direnungi apa yang sebenanrnya berpengaruh dalam meuwujudkan sebuah resolusi, tercapainya resolusi dalah bagian dari kesuksesan yang tak terlepas dari kontribusi orang lain atau apapun yang di sekitar kita.

 

Dengan begini kamu telah mengetahui apa saja bagian dari resolusiku di tahun lalu dan tahun ini. Mungkin jika kamu sudah berhasil mewujudkannya, bolehlah untuk berbagi tips di kolom komentar. Ataupun kamu juga bisa cerita tentang resolusimu di tahun ini, silahkan di sampaikan, aku menunggu ceritamu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya