Kita semua pernah jadi anak-anak, jadi jiwa anak-anak akan tetap menjadi bagian dalam diri kita. Saat masih anak-anak punya banyak teman bermain itu kebahagiaan, karena lebih banyak variasi permainan yang bisa dilakukan jika memiliki banyak teman. Semakin dewasa kita lebih selektif dalam berteman, karena kepribadian seseorang sudah terbentuk, dan tidak setiap kepribadian bisa cocok dengan kepribadian yang lain.

Kepribadian teman kita yang kita anggap cocok dengan kita pun belum tentu menjamin keakuran. Perbedaan cara pandang dan jalan pikiran itu wajar, namun terkadang kita sangat ngotot mempertahankan opini kita hingga menimbulkan perseteruan, bahkan dengan teman dekat sekalipun. Dulu saat masih anak-anak wajar kalau bertengkar dengan teman sampai nangis dan ngadu ke guru atau orang tua. Tapi ketika sudah dewasa lucu rasanya kalau bertengkar sampai nangis di tempat umum dan ngadu ke orang tua. Kita sudah tidak sekekanak-kanakan itu, tapi tetap saja ada tingkah kita yang tidak bisa dibilang dewasa.

1. Saling mendiamkan

Kalo kata Charlie Puth sih, “We don’t talk anymore…” via http://girlslife.com

Ini yang paling umum terjadi Iini adalah sifat yang paling kekanak-kanakan. Nggak ada yang mau memulai bicara dan nggak bakal ada yang punya inisiatif untuk segera menemukan solusi. Kalau sudah seperti ini mau sampai gajah bisa main loncat tali pun, nggak akan ada kata ‘baikkan’. Jadi, cobalah untuk memulai berbicara dan mengeluarkan unek-unek kalian. Nggak akan ada yang selesai kalo nggak ada yang memulai.

2. Mencari teman baru

Ada yang baru, yang lama dilupain via http://thinkpynk.com

Well, kita bebas berteman dengan siapa pun, tapi…. jangan sampai melupakan teman yang lama. Ingat masa-masa susah dan senang yang pernah kalian alami. Tindakan seperti ini seolah kita berkata “Lihat! Aku masih bisa punya teman lain!”. Ini nggak baik, karena akan menyakiti teman lama, dan mungkin membuatnya merasa dibuang. Jujur saja kalian juga akan sakit hati jika teman kalian punya teman baru yang bisa diajak bercanda dan tertawa akrab. Di sisi lain juga akan membuat teman barumu salah paham dan menganggapmu hanya menjadikan si teman baru ini pelarian semata. Malah ruwet kan jadinya?

3. Saling menghindari

Advertisement

kucing-kucingan deh via http://footage.framefull.com

Ini sih ujungnya bakal memutus tali silaturahmi. Ingin makan di kantin tapi pas mau sampai kantin lihat si teman yang juga lagi di sana, terus kamu putar balik karena males ketemu dia. Yaiyalah, siapa yang nggak males kalau ketemu orang yang bikin kamu kesel, mending kelaparan. Ini kamu seperti menyiksa dirimu dua kali. Kelaparan dan semakin merenggangkan tali silaturahmi. Laparnya sih nanti kalau pulang ke rumah terus makan juga bakal ilang, tapi gimana sama tali silaturahmi yang nyaris putus? Bisa-bisa kamu dimarahin Tuhan.

4. Buang barang-barang pemberian

Ini marahan sama temen apa putus cinta sih? via http://prillylatuconsina.net

Saling ngasih hadiah sesama teman itu kan hal yang lumrah. Bukan cuma pacar yang bisa saling kasih hadiah. Tapi kalau lagi musuhan gini barang-barang pemberiannya jadi bikin kamu keinget masalah kalian dan bikin kamu badmood. Terus barangnya mau kamu kemanain? Dibuang? Duh, udah kayak habis putus sama pacar aja. Tapi emang kalau udah temenan lama dan deket kadang rasanya udah kayak punya belahan jiwa.

Jangan dibuanglah. Jadikan itu sebagai media untuk mengingat masa-masa bahagia kalian bersama.

5. Curhat sana sini

Bochooorr… Bochooorr…. via http://kaskus.com

Ini biasanya dilakuin sama cewek. Ketika orang-orang tiap hari lihat kalian bersama dan tiba-tiba pisah dan jarang sama-sama lagi pasti banyak yang bertanya-tanya. Kadang secara naluriah kamu emang butuh teman curhat. Alhasil siapa aja yang nanya “Kamu sama si anu kok jarang bareng, sih?”, mulut kamu langsung kayak keran bocor. Nyeritain semua unek-unek kamu tentang si dia. Masalahnya, kamu bercerita dari sudut pandang kamu. Jadi, kamu bercerita seolah-olah kamu yang paling benar dan si temanmu inilah antagonisnya.

Bakal lebih buruk lagi kalau orang yang kamu curhatin ini juga jadi tempat curhat teman yang sedang war denganmu. Karena cerita yang dia kasih bakal beda versi dari ceritamu. Jangan sampai nanti malah membuat orang-orang berfikir: “Kok gini banget ya temenan sama kamu. Nanti jangan-jangan kalau aku marahan sama kamu, aku juga bakal diomongin sana-sini.”

Curhat boleh, tapi sama orang yang tepat. Satu-dua orang aja yang dicurhatin, jangan se-RT. Masalah kamu itu bukan konsumsi publik.

6. Jalan keluarnya? Nggak ada!

Dewasalah… via http://gurl.com

Nggak akan ada kalau tingkah kalian masih seperti poin-poin di atas.

Seperti yang sudah dijelaskan di poin pertama, bicara. Teman kalian tidak akan tahu isi hati kalian kalau kalian tidak mengatakannya. Kalian sudah lama berteman dan kalian pasti saling tahu bahwa kalian cuma manusia biasa bukan dukun yang bisa menerawang isi hati orang.

Mungkin awalnya kalian akan canggung berbicara setelah semua pertengkaran kalian ditambah aksi saling mendiamkan dan aksi lainnya. Tapi, percayalah, tali persahabatan diantara kalian lebih kuat daripada masalah yang mencoba memutus tali itu. Sekian lama kalian berteman, berarti sekian lama sudah kalian belajar saling memahami.

Apa salahnya mencoba saling terbuka dan saling memahami satu sama lain sekali lagi. Mungkin memang gengsi untuk memulai lebih dulu. Tapi tidak akan ada akhir jika tidak pernah ada kata mulai. Pertengkaran kalian tidak akan ada akhirnya apalagi bagi yang suka mendendam.

Bicarakan masalah kalian meski nanti kalian harus mengeluarkan semua bentuk emosi kalian dan meski harus sampai menangis meraung-raung. Menangis bersama dengan hati yang lega jauh lebih baik dari pada tertawa saat terpisah dan dengan hati berat. Saran penulis, sebaiknya bicara di ruang tertutup, seperti kamar kos misalnya, agar kalian tidak menjadi tontonan.