Either it's now or later, yakinlah bahwa semua orang pasti bakal resign. Permasalahannya hanya antara kamu yang melakukannya dengan sukarela & atas kemauan sendiri, atau karena situasi di tempat kerja yang memaksa kamu untuk begitu. Jadi, kalau selama ini kamu masih galau mau mengajukan surat pengunduran diri kapan, coba deh baca 5 hal ini!

1. Pintu-pintu lain yang terbuka

Mendadak ada yang nawarin kerja via http://www.personalbrandingblog.com

Akan ada saatnya ketika kita udah cukup lama bekerja di suatu perusahaan, lalu tiba-tiba ada tawaran kerja lain yang kelihatan lebih menarik, di dalam hal reputasi, pengalaman, dan gaji yang ditawarkan. Entah dari perusahaan kompetitor atau pihak yang masih merupakan rekanan kantor kita. The thing is don't be stupid. Memang sih, loyalitas itu barang mahal yang susah banget ditemukan sekarang. Tapi, kalau kamu memang kepikiran buat stay dan loyal, coba kamu tanyakan pada diri kamu sendiri. Kira-kira kamu udah dapat apa saja di perusahaan ini? Apakah hal yang kamu berikan buat perusahaan setara dengan apa yang dilakukan perusahaan buat kamu? Apakah career path di perusahaan kamu jelas atau kamu cuma doing a routine job without even knowing its future? Dengan memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, kamu bakal tahu jawabannya sendiri, kok!

2. Perasaan terlalu terbiasa dengan pekerjaan kamu

Ahli atau nggak berkembang, nih? via http://careers2030.cst.org

Hal lainnya adalah ketika kamu mulai terlalu expert dengan apa yang kamu kerjakan, kemungkinannya cuma dua: Kamu memang sudah jadi ahli atau perusahaan kamu nggak memberikan tantangan lain yang bisa meningkatkan kemampuan personal kamu. Your personal growth could be stuck. Udah tahu dong, mana yang bahaya? Yap. Kalau sampai kamu mulai merasa gampang banget, nggak pernah menemui hambatan, bahkan rasanya atasan kamu kok yakin-yakin saja sama pekerjaan kamu, itu tanda-tanda kalau kamu sudah harus memikirkan 'pintu lainnya'. Karena pada dasarnya, bekerja itu nggak soal reputasi dan gaji semata. Kita juga butuh mengembangkan kemampuan kita sendiri.

3. Cinta buta sama perusahaan dan produk sendiri

Advertisement

Semua yang terlalu itu nggak baik via http://googleplus.com

I've ever heard from one of my friends, dia bilang jangan sampai kita cinta mati sama produk atau pekerjaan kita sendiri. Kenapa? Ketika kita terlalu sayang sama perusahaan dan kerjaan, kita kadang nggak bisa netral lagi menilai. Apakah produk, brand, atau perusahaan kita ini bagus atau nggak dibanding kompetitor lainnya. Terlebih, kalau kamu sudah mulai loyal di luar batas sampai rela mengorbankan kepentingan pribadi. Sudah saatnya kamu cari tempat kerja lain. Apalagi kalau di tempat kerjamu nggak ada jaminan perkembangan karir ke depannya. Apa yang mau kamu dapatkan, guys?

4. Porsi pekerjaan yang tidak sebanding

Segala dikerjain sama kita via http://pumpitdown.co.uk

Tidak sebanding dengan apa? Bisa dengan nominal gaji yang kamu terima maupun dengan kerjaan rekan kerja sepantaranmu yang lain. Kadang, ada beberapa perusahaan yang sudah kasih perjanjian sejak awal kapan kamu bakal naik gaji. Biasanya, itu perusahaan yang sudah punya KPI atau penilaian kerja yang jelas. Nah, bahayanya adalah kalau kita kerja di perusahaan yang masih 'kemarin sore'. Kadang, job desc-pun mereka nggak punya. Ya memang sih, ada beberapa orang yang menganggap hal ini nggak penting. Tapi, selama kamu merasa ada tempat lain yang bisa menghargai kamu dengan baik, sudah waktunya kamu cabut dari kantormu.

5. Banyak drama-drama di luar karir profesionalmu

Drama terus via http://bustle.com

Coba, siapa yang setuju bahwa di dunia kerja itu susah banget lepas dari drama? Selalu saja ada perkara yang muncul di luar urusan kerjaan secara profesional. Ya dengan hubungan atasan lah, hubungan atasan dengan rekan kerja yang ngaruh sama kita, sampai hubungan dengan sesama rekan kerja. Believe me, kadang kita merasa lelah bukan karena porsi kerjaan kita yang keluar batas, melainkan karena bumbu-bumbu drama yang banyak banget. Sekarang gini deh, kalau kita memang tipikal orang yang kulit badak alias cuek saja sama keadaan drama ini, go with that. Lanjutkan kerjaan kamu di sana. Tapi, kalau ternyata drama ini sudah menggerus emosi pribadi kamu setiap hari bahkan bikin kamu keteteran karena harus makan hati mengerjakan hal yang bukan porsimu, what do you expect then? Sudah sepantasnya kita lebih sayang diri sendiri daripada pekerjaan kita, bukan?

Memang, selain 5 hal di atas, ada satu hal lain yang harus kita pertimbangkan sebelum akhirnya bilang sama atasan: 'I'm sorry I'm quit'. Hal itu adalah langkah apa yang mau kita tempuh selanjutnya. Apakah kita mau ambil waktu sejenak buat senang-senang dulu setelah bertahun-tahun kerja minim cuti dan liburan? Apakah kita mau melanjutkan studi? Apakah kita mau berbisnis sendiri? Apakah kita mau langsung jumping ke perusahaan lain? It's really all up to you. Selama kamu tahu langkahmu selanjutnya, nggak perlu galau lagi soal resign. Kamu pasti sudah menemukan jawabannya, bukan?