Saat Media Sosial Buatmu Merasa Insecure, Gumamkan 5 Mantra Hidup Ini!

media sosial bikin insecure

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah hal nggak sehat, tapi sering banget kita lakukan. Iya atau nggak? Apalagi setelah munculnya media sosial! Alih-alih semakin percaya diri, media sosial seringnya malah justru membuat diri ini semakin nggak pede, ya? Stop membandingkan diri. Saat merasa insecure, coba deh ingat hal-hal yang telah Riliv sajikan berikut ini!

Advertisement

1. Media sosial adalah panggung, kamu nggak bisa menemukan hal-hal murni tanpa rekayasa di sana. Memangnya apa fungsi fitur filter dan edit?

Photo by Julia M Cameron from Pexels

Photo by Julia M Cameron from Pexels via https://www.pexels.com

Ada beberapa masa di mana kita akan sulit untuk berpikir secara realistis, contohnya saja saat kita sedang merasa cemas dan insecure. Media sosial adalah sarang insecure yang paling bikin gemas. 

Ada banyak sekali postingan menarik—yang terkadang kalau dilihat sepintas, bisa bikin kita envy sampai nggak percaya dengan diri sendiri. 

Advertisement

Namun, daripada sibuk menyiksa diri dengan membandingkan kekuranganmu dengan kelebihan orang lain di media sosial, coba ajak pikiranmu untuk berpikir lebih realistis. 

Nggak semua foto di media sosial merupakan cerminan dari realita atau sesuai dengan kenyataannya. Kamu kan nggak tahu, proses apa saja yang telah dilewati sampai akhirnya satu foto diunggah oleh pemiliknya. 

Advertisement

Pengaturan cahaya, make up, editing, filter, sampai rekayasa bentuk tubuh, semua sangat mungkin untuk dilakukan di jaman sekarang dengan perkembangan teknologi yang ada. 

Kalau sudah begitu, sepertinya nggak adil kalau misalnya kamu membandingkan diri dengan hal-hal nggak alami seperti hal-hal tersebut? 

2. Mereka hanya menunjukkan hal-hal yang ingin mereka tunjukkan. Mana mungkin seseorang dapat secara sukarela menunjukkan kekurangannya dalam media sosial?

Photo by Martin Lopez from Pexels

Photo by Martin Lopez from Pexels via https://www.pexels.com

Kayaknya ini bukan rahasia lagi, deh. Di setiap akun media sosial, setiap orang akan berlomba-lomba untuk menunjukkan versi terbaik dari dirinya. Jenis pencitraannya pun bermacam-macam—menjadi cantik, mapan, sukses, atau yang paling mengejutkan, terlihat happy. 

Sayangnya, banyak juga kelebihan-kelebihan seseorang yang nggak bisa secara “mudah” ditampilkan di media sosial. Hal inilah yang membuat kita terkadang—perlahan-lahan—jadi insecure dan merasa kurang terhadap nilai diri sendiri. 

Kamu nggak harus memaksakan diri supaya bisa memiliki kehidupan seperti mereka yang ada di dunia maya. Definisi kebahagiaan masing-masing orang pun beragam. Ciptakan milikmu sendiri, belajarlah mulai dari sekarang!

3. Kamu nggak bisa terlalu lugu untuk bisa menilai seseorang hanya dari laman media sosialnya saja

Photo by RF._.studio from Pexels

Photo by RF._.studio from Pexels via https://www.pexels.com

Kamu telah memahami bahwa di dunia ini setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Kehidupan di media sosial hanya bisa meng-cover sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Maka dari itu, kita nggak bisa menilai sepenuhnya kepribadian seseorang hanya melalui akun media sosialnya saja.

Media sosial adalah sebuah dunia lain dari kehidupan manusia, yang penuh dengan rekayasa anonim, yang bahkan keasliannya nggak bisa dipertanggungjawabkan oleh siapapun. 

Kalau sudah begitu, masihkah kamu meyakinkan diri untuk menilai seseorang hanya dari laman media sosialnya saja?

4. Kehidupan di media sosial akan terus berputar dan kamu nggak harus selalu menjadi porosnya. Kamu berhak mengambil jeda, tanpa harus merasa takut kehilangan 

Photo by Negative Space from Pexels

Photo by Negative Space from Pexels via https://www.pexels.com

Pernah nggak sih sehari saja kamu memutuskan untuk nggak bermain ponsel sama sekali? Seperti berhenti mengecek media sosial, menonton update teman-temanmu, atau scrolling postingan-postingan lain yang sebenarnya nggak ada manfaatnya juga.

Jika belum, setidaknya sekali dalam seumur hidupmu kamu akan merasakan bahwa, hidupmu juga akan baik-baik saja. Meskipun kamu nggak update dengan cerita-cerita dari banyak teman di media sosial.

Kamu akan baik-baik saja, meskipun kamu nggak memahami berita terkini soal kehidupan selebgram atau orang-orang yang biasanya kamu ikuti di media sosial mengenai kesehariannya. 

Intinya, kamu akan baik-baik saja. Meskipun kamu nggak lagi menjadi bulan yang selalu mengitari media sosial—sebagai ibaratnya planet bumi. Sekali lagi, kamu akan baik-baik saja.

5. Praktikkan self-care dan cintai dirimu apa adanya. Saat merasa insecure, hindari untuk semakin membandingkan diri dengan orang lain

Photo by Madison Inouye from Pexels

Photo by Madison Inouye from Pexels via https://www.pexels.com

Hal terpenting yang mesti dilakukan saat merasa insecure adalah kembali menengok diri sendiri. Adakah hal lain yang lebih dibutuhkan dibandingkan apresiasi dan validasi mengenai diri kita dari orang lain?

Coba tanya pelan-pelan, melalui hatimu, “sebenarnya apa yang kamu butuhkan?” Apakah seorang teman? Apakah sebuah pujian? Seberapa bermanfaatkah hal-hal tersebut bagi diri dan masa depanmu?

Jika jawabannya adalah bahwa hal-hal tersebut nggak punya dampak yang terlalu besar untukmu—dan sejujurnya kamu pun bisa mendapatkan hal-hal tersebut dari dirimu sendiri—maka turunkan ambisi nggak berarahmu sejenak. 

Kamu masih bisa, lho, memuji dirimu sendiri. Kamu juga masih mampu untuk mengakui diri bahwa kamu bisa melewati hal-hal sulit di kehidupanmu, dan sebenarnya, proses tersebut akan jauh lebih baik daripada sekedar kalimat-kalimat dalam kolom komentar di Instagram.

6. Tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa media sosial harus membuatmu merasa insecure?

Photo by mikoto.raw from Pexels

Photo by mikoto.raw from Pexels via https://www.pexels.com

Saat merasa insecure, nggak jarang diri kita juga sebenarnya nggak mengetahui dari mana datangnya perasaan tersebut. Apakah hal tersebut merupakan pengaruh dari pola asuh orang tuamu dulu? Atau dari pengalaman pahit dari kisah cintamu kemarin?

Semuanya, bisa jadi faktor. Untuk itu, kamu perlu menenangkan diri. Katakan pada dirimu sendiri, bahwa “kamu berharga” meskipun orang lain nggak bisa melihatnya atau nggak mengatakannya. 

Meskipun begitu, sebenarnya, masih banyak juga orang-orang yang nggak memahami, mengapa mereka kerap membandingkan diri dan mengkritisi diri sendiri secara nggak sehat melalui perasaan insecure

Apakah kamu juga termasuk dalam bagiannya?

Jika sampai saat ini kamu nggak mengerti dari mana datangnya perasaan insecure yang kamu miliki sekarang, mungkin kamu bisa mencari bantuan seorang profesional. Mereka akan membantumu mengenali masalahmu, secara efektif. 

Ada beberapa pengalaman di kehidupan kita, yang memang bisa menimbulkan perasaan insecure. Jadi, perasaan nggak percaya diri ini, sepenuhnya juga nggak bisa disalahkan pada media sosial. 

Untuk itu, sangat penting bagi seseorang untuk semakin mengenali diri dan memahami masalah yang ada pada dirinya sendiri jika ia ingin punya jiwa yang sehat, dan kehidupan yang damai serta bahagia.

7. Saat merasa insecure, ingatlah bahwa kamu nggak perlu validasi dari orang lain untuk merasa bahwa dirimu berharga

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Seperti yang telah disampaikan pada ulasan sebelumnya, kita sebenarnya nggak butuh validasi orang lain untuk menentukan diri apakah kita “berharga” atau tidak. Harga diri sepenuhnya ditentukan oleh diri sendiri. 

Saat merasa insecure, banyak orang yang mengalami kesulitan untuk merasakan dan memahami hal ini.

Ingatlah bahwa kamu nggak perlu mendapatkan pengakuan dari orang lain. Kamu akan selalu berharga, seburuk apapun masa lalu dan betapa kamu menganggap bahwa dirimu nggak bernilai apa-apa.

Stay love yourself enough, so you will know how precious  you are!

Referensi:

  1. https://mollyhostudio.com/blog/7-things-to-remember-when-social-media-makes-you-feel-insecure-about-yourself

Ditulis oleh Safira Adnin Karlina dari Riliv.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE