Ikhlas seringkali diidentikkan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan tindakan “melepaskan”, melepaskan sesuatu yang paling kita sayang atau impikan misalnya. Ikhlas adalah bentuk alam bawah sadar seseorang ketika dirinya sudah siap menjadi sosok yang dewasa dan bijaksana. Ikhlas adalah persoalan waktu, bukan kata-kata. Sekuat apapun kita mensugesti diri untuk menjadi pribadi yang ikhlas, tetap akan selalu gagal jika kita tidak pandai mengontrol diri dan melakukan introspeksi.

Kontekstual maknanya luas. Tidak hanya mengacu pada persoalan cinta.

Cinta hanyalah perihal waktu, bukan tentang kesiapan diri. Ditanya kapan siap, ya, sebenarnya manusia tidak akan pernah siap berbagi.

Kesiapan diri terbentuk dari hasil jatuh-bangunnya seorang individu melewati sekian banyaknya percobaan selama menjalani kehidupan. Proses introspeksi yang dilakukan ketika mengalami momen kegagalan-lah yang akan membentuk karakter pada diri seseorang. Dunia memang akan selalu menyuguhkan permasalahan agar manusia bisa memilih untuk menjadi pribadi yang buruk ataukah baik. Terlepas dari persoalan norma sosial yang berkembang di tengah masyarakat yang kemudian membentuk konsep etika, Tuhan juga telah memberikan gambaran mengenai baik dan buruk seorang makhluk.

Seiring berjalannya waktu, kita akan paham bahwa dunia ini memang diperuntukkan bagi mereka yang spesial, yang selalu berjuang demi mencapai tujuan hidupnya. Tidak heran, jika semakin hari manusia juga terlihat semakin menakutkan. Namun, dari ragam persoalan kehidupan manusia, kamu akan belajar bahwa ikhlas tidak dapat diperoleh dalam kurun waktu yang singkat. Akan tetapi, kamu dapat memulainya dengan menerapkan beberapa hal:

1. Berhenti mengeluh dan menyalahkan orang lain. Mulailah untuk lebih fokus pada permasalahan dalam diri sendiri

Mengeluh hanya menjadikan dirimu semakin lemah. Menyalahkan orang lain hanya menunjukkan tabiat burukmu. Jadi, mulai sekarang fokuslah pada perbaikan dirimu sendiri

Mengeluh hanya menjadikan dirimu semakin lemah. Menyalahkan orang lain hanya menunjukkan tabiat burukmu. Jadi, mulai sekarang fokuslah pada perbaikan dirimu sendiri via https://weheartit.com

Advertisement

Seringkali sikap menyalahkan orang lain secara reflek muncul ketika diri ini sedang ditimpa permasalahan. Walaupun memang secara telak memang merupakan hasil dari kesalahan di luar diri sendiri.

Akan tetapi, sadarkah kamu bahwa hanya terus-menerus menyalahkan orang lain adalah sesuatu yang sia-sia? Kemungkinannya hanya akan ada dua; mengubah orang lain ataukah hanya membuang-buang energi dan waktumu untuk berbenah diri sendiri.

Mengeluh adalah hal yang sangat manusiawi. Manusia memang menciptakan limit untuk dapat merasakan capek setelah berjuang atau berkelana. Akan tetapi, kamu juga harus paham bahwa ketika kita mengeluh berapa banyak energi dan juga waktu yang akan terus mengalir terbuang? Lega? Sesaat. Jika dilakukan terus-menerus, percayalah itu percuma.

Advertisement

Oleh karena itu, mulailah mengubah pola pikir bahwa mengeluh adalah sesuatu yang menenangkan, sesuatu yang melegakan, atau sesuatu yang dapat meregenerasi semangat. Tidak.

Ketika kita mengeluh, energi kita terabsorbsi untuk mengeluarkan emosi, sehingga sirkulasi peredaran darah ke otak menjadi terganggu. Oleh sebab itu, otak kita tidak dapat bekerja secara maksimal. Alhasil kita tidak dapat melakukan introspeksi yang statusnya lebih penting untuk menciptakan strategi baru lagi. Bukannya hidup itu terus bergerak demi mendapatkan suatu kebaikan?

Kebaikan juga sifatnya relatif. Tergantung bagaimana setiap individu mengambil sudut pandang lalu mempersepsikan maknanya saja.

2. Jangan terlalu lama menyalahkan diri sendiri. Dia adalah satu-satunya teman yang kamu punya di dunia ini

Dirimu adalah kekasih sejatimu. Ketika semua orang pergi meninggalkan, tetapi dirimu lah yang tetap setia bertahan. Maka dari itu, jangan sakiti diri sendiri lagi, ya?

Dirimu adalah kekasih sejatimu. Ketika semua orang pergi meninggalkan, tetapi dirimu lah yang tetap setia bertahan. Maka dari itu, jangan sakiti diri sendiri lagi, ya? via https://weheartit.com

Terkadang terlalu asik merangkai imajinasi, menuangkannya menjadi sebuah seni, dan fokus untuk mewujudkan ekspektasi membuat diri sendiri lupa bahwa diri kita sendiri lah yang menemani dari awal segala sesuatu itu dimulai. 

Asiknya melakukan introspeksi diri juga seringkali membuat diri sendiri larut dalam keterpurukan hingga akhirnya, menyalahkan diri sendiri adalah satu-satunya hal yang diri sendiri bisa lakukan.

Sebenarnya, bukan seperti itu. Introspeksi bukan melulu membahas perkara menilai diri sendiri. Akan tetapi, introspeksi terbaik adalah ketika kita dapat mencari setiap kekurangan dari segala sesuatu yang telah terjadi. Kita harus dapat menganalisis segala sesuatu melalui sudut pandang yang variatif. 

Kesadaran diri sendiri merupakan sesuatu yang sangat fundamental sehingga dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang bijak dan cerdas dalam menghadapi segala sesuatu. 

Menyalahkan diri sendiri tanpa memikirkan jalan keluar ataupun sumber permasalahan maka hanya akan menjadi suatu perbuatan yang sia-sia. Hal tersebut secara tidak langsung juga akan merusak pikiranmu sendiri. Alhasil perlahan-lahan kamu akan membenci dirimu sendiri.

Padahal Tuhan ketika awal menciptakan dirimu, Dia begitu bersemangat dan seolah membisikkan kata “Makhluk ini akan menjadi Makhluk istimewa di dunia nanti”

3. Belajar tidak akan pernah menjadi hal yang kuno. Jadi, jangan pernah malu untuk selalu belajar

Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka, jangan pernah lelah mempelajari mereka

Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka, jangan pernah lelah mempelajari mereka via https://unsplash.com

Jangan mengabaikan bahwa Tuhan selalu menyelipkan sisi positif pada diri seseorang yang paling buruk sekalipun. Maka dari itu, mulailah untuk membuka hati dan pikiran bahwa kita harus menjadi pribadi yang kritis dan peka terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Sikap acuh dengan lingkungan memang cenderung menjadikan seseorang sebagai makhluk yang pengecut. Mereka kerap berlari untuk menghindar dari suatu permasalahan daripada harus menghadapi dan menyelesaikan. Padahal ketika kita memaksa untuk memberanikan diri menghadapi permasalahan tersebut, kita akan mendapatkan suatu pelajaran yang berharga.

Selain itu, jangan menjadi pribadi yang pelit. Artinya, berbagi pengalaman dan bersikap terbuka itu sangat diperlukan. Jangan merasa kita bisa mengatasi segala hal seorang diri. Kita tetap butuh masukan dan kritikan orang lain. Ambilah dengan sikap dan pandangan yang tetap positif. Sakit hati itu pasti ada, tetapi percalah bahwa sesungguhnya semakin banyak kita dikritik semakin banyak hal baik pula yang akan kamu dapatkan. Itu karena kita terbiasa hidup dengan perjuangan dan belajar dari kegagalan.

Selain itu, jangan ragu pula untuk mencari suatu kebenaran. Hal sebodoh apapun itu jika pernah kita tanyakan, suatu saat diri kita secara otomatis akan memperbaiki kualitas dari pertanyaan yang akan kita lontarkan.

4. Sakit hati itu adalah hal yang manusiawi. Dendam juga kadang diperlukan untuk memicu diri sendiri

Jangan terlalu lama memendam sakit. Akan tetapi, mulailah mengubah bahwa rasa sakit adalah suatu hadiah terindah di dunia

Jangan terlalu lama memendam sakit. Akan tetapi, mulailah mengubah bahwa rasa sakit adalah suatu hadiah terindah di dunia via https://unsplash.com

Kontekstual dendam bukan hanya bermakna negatif saja. Akan tetapi, dendam yang dimaksudkan di sini adalah ketika kita bisa memaknai rasa sakit yang ditimbulkan oleh faktor eksternal sebagai sesuatu yang bernilai positif. Misalnya, ketika ada seseorang yang mengolok-olok kita, “kamu itu tidak pintar, makanya kamu tidak pantas berada di kompetisi ini”.

Maka hal pertama yang harus kita lakukan bukan mencerna perkataan itu terlalu dalam hingga nantinya akan berdampak negatif bagi diri kita sendiri.

Dapat menjadikan diri kita minder, misalnya. Justru dengan kata-kata tersebut, kita harus menancapkan kata tersebut sebagai motivasi untuk terus memperbaiki diri hingga kita bisa menjadi seseorang yang pintar dan pantas.

Jangan pernah merasa bahwa kita tidak mampu. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan seorang makhluk tanpa perbekalan apapun.

5. Jangan terbiasa bekerja tanpa strategi. Mulailah memaksa otak untuk merencanakan segala sesuatu secara tertulis

Merencanakan sesuatu secara tertulis itu penting. Agar kita dapat memperkirakan segala sesuatu secara detail

Merencanakan sesuatu secara tertulis itu penting. Agar kita dapat memperkirakan segala sesuatu secara detail via http://unsplash.com

Memang,ada beberapa orang yang lebih memilih untuk hanya menuliskannya di otak, daripada harus menuangkannya dalam sebuah tulisan. Akan tetapi, mulailah mencoba membandingkan ketika kita merencanakan sesuatu dengan cara menuangkannya dalam tulisan dengan hanya sekedar angan-angan belaka. Maka hasilnya pun akan berbeda.

Melalui tulisan, secara tidak langsung otak kita dipaksa untuk memikirkan sesuatu secara detail karena ketika mata kita melihat sesuatu yang kita tulis, maka otak kita akan mencerna pesan tersirat yang lainnya dari tulisan tersebut. Dari situlah kita juga akan mampu memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi selama proses mewujudkan suatu tujuan yang kita inginkan.

Selain itu, menulis saja tidak cukup. Kita juga perlu melakukan riset, baik melalui internet maupun melihat fenomena sekitar secara langsung.

Setelah semuanya selesai, alangkah baiknya kita mendiskusikannya pada beberapa orang terdekat kita. Tujuan dilakukannya brainstorming adalah kita bisa tau beberapa hal yang tidak sempat terpikirkan oleh kita sebelumnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya