Membicarakan tentang bullying dan kasus-kasunya memang tidak akan pernah ada habisnya. Kasus bullying sendiri tidak lepas dari negara-negara manapun, terutama di Indonesia. Baik kalangan pekerja, mahasiswa atau yang lebih sering seorang pelajar, sehingga membuat para orang-orang sekitar khususnya orang tua dan pihak sekolah hanya bisa geleng-geleng kepala saat mengetahui bahwa kasus bullying sudah meluas hingga menimbulkan kekerasan fisik.

1. Dalam Acara Millennial Wellness Day, Kita Dapat Mengedukasi Tentang Pentingnya Kesehatan Mental

Acara Millenial Wellness Day

Acara Millenial Wellness Day via https://hipwee.com

Mengusung tema Bullying, Riliv hadir bekerja sama dengan HIMPSI Jawa Timur dalam acara Millennial Wellness Day yang diadakan di Siola Tunjungan, Koridor Coworking Space Surabaya pada (13/10/2018) dengan Pak Lutfi Arya, S.Psi, M.Psi sebagai narasumber.

Riliv menyelenggarakan acara ini untuk mengedukasi tentang pentingnya kesehatan mental di Hari Kesehatan Mental Sedunia.

2. Konsep dan Karakter yang Harus Kita ketahui dari Bullying itu Sendiri

cyberbullying

cyberbullying via https://pexels.com

Advertisement

Konsep dari bullying sendiri adalah membuat marah para korbannya. Pelaku terkesan agresif dan selalu mempunyai niatan buruk kepada korban yang menjadi incaran. Bullying paling sering dilakukan dalam konteks pertemanan adalah membuat julukan yang mencirikan fisik atau hal apapun dari para korban atau make funny.

Contohnya "cipek" yang artinya cilik, pendek, elek. Namun tidak semua julukan-julukan tersebut adalah sebuah bullying. Kembali lagi pada konsep bullying itu sendiri yaitu "selalu mempunyai niat buruk pada korban yang menjadi incaran" jika julukan tersebut tidak di dasari dengan niat buruk dan pelaku masih berperilaku baik kepada teman yang dituju dengan julukan tersebut maka itu bukanlah bullying, contoh seperti ini justru membuat erat sebuah pertemanan dengan julukan-julukan yang mendekatkan.

Setelah kita tau tentang konsep dari bullying. Apakah sudah ada yang bisa menyimpulkan tentang bullying itu sendiri? Oke, kita simak lebih dalam lagi ya! Karakter dari bullying sendiri selalu dilakukan sistematis dan terus-menerus, mencari target yang dikira lemah dan tidak bisa melawan, dilakukan dengan perorangan atau berkelompok yang dalam satu kelompok tersebut adalah orang-orang yang bersikap agresif.

Advertisement

Bentuk dari bullying sendiri bermacam-macam, pada tahun 1990-an bentuknya hanya sekedar fisik, verbal, gestur, pemerasan, dan sosial. Namun di era millenial kali ini bentuknya bisa sangat luas dan dapat meresahkan tiap korbannya hanya dalam hitungan detik saja contohnya cyberbullying.

Bentuk seperti ini pada tahun 1990-an hanya bisa menggunakan teks message atau e-mail namun pada era millenial seperti sekarang, cyberbullying meluas sejak adanya Facebook, Twitter, Instagram dan masih banyak lagi, membuat para korbannya menerima perilaku bullying yang lebih parah dibanding tahun 1990-an.

3. Perbedaan Kasus Bullying Terdahulu dengan Kasus Bullying Sekarang

Pesatnya teknologi membuat kasus bullying viral dalam hitungan detik

Pesatnya teknologi membuat kasus bullying viral dalam hitungan detik via https://pixabay.com

Jika bicara tentang bully pada jaman dulu dan sekarang, pada jaman dulu pelaku dapat teridentifikasi, terbatas hanya pada siswa yang melihat, dapat berhadapan langsung dengan para pelaku dan korbannya, jika tidak berani menghadapai pelaku, korban dapat menghindar.

Namun jika dilihat dari pesatnya teknologi dijaman sekarang, korban akan sulit utuk menghindari problem maker, berita atau video tentang bullying akan dapat viral dalam hitungan detik saja (7/24 jam), pelaku akan sulit untuk terindentifikasi jika menggunakan akun palsu atau akun bodong. Solusi dari kasus-kasus bullying seperti ini hanya dengan sikap yang tegas untuk mengusut tuntas sampai pada akar-akarnya.

Harus ada sikap aware dari pihak sekolah, orang tua dan lingkungan itu sendiri, karena "lebih baik mencegah dari pada mengobati".

4. Siapa Saja yang Harus Bertanggung Jawab dalam Kasus Bullying ini?

Peran orang tua yang paling utama

Peran orang tua yang paling utama via https://pixabay.com

Lalu siapa saja yang bertanggung jawab dalam hal tersebut? Paling pertama adalah orang tua, karakter anak dibentuk atas dasar didikan orang tuanya, jika orang tua lalai atau lepas kontrol dalam penjagaannya kepada anak atau bahkan bisa menjadi penyebab seorang anak akan lebih condong menjadi pelaku.

Contoh kecilnya saja, seorang anak yang tidak sengaja memecahkan piring, kadang sebagai seorang ibu tak sengaja membentak dan berkata kasar kepada anaknya maka akan membentuk perilaku anak tersebut menjadi pemarah, agresif dan condong pada perilaku menyimpang lainnya.

Kedua adalah kebijakan sekolah, sekolah merupakan tempat kedua setelah rumah, lingkungan sekolah pun harus bisa aware dan sadar tentang kasus bullying.

5. Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Kita di Bully?

Kebahagiaanku tidak berdasar pada ejekanmu

Kebahagiaanku tidak berdasar pada ejekanmu via https://gulalives.com

Selanjutnya apa yang harus kita lakukan saat di bully? Stay calm dan menanamkan mindset "kebahagiaanku tidak berdasar pada ejekan-ejekanmu", tidak perlu berkecil hati, dan tidak boleh diam saja, balas dengan komentar yang lebih baik.

Pada intinya kasus bullying ini dapat menimpa siapa saja dan kapan saja, bentuknya yang tidak terlihat namun dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa mengancam psikis korban, membuat orang tua dan pihak sekolah harus lebih aware terhadap kasus-kasus seperti ini.

Anak merupakan penerus bangsa ini, jadi jangan merusak mental mereka dengan rasa takut untuk bersekolah, rasa takut menghadapi dunia luar, dan perasaan tidak tenang. Begitupun dengan para pelaku, sebaiknya mendapatkan pembinaan dan perhatian yang cukup agar tidak terjadi kasus untuk kesekian kali. Bukankah mencegah itu lebih baik dari pada mengobati?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya