Halo! Kalian pasti tidak asing lagi dengan Film Joker bukan? Bagi kalian yang sudah menonton Film Joker dan mengetahui karakter Joker dalam film tersebut pasti terbesit di dalam pikiran kalian ataupun kalian penasaran dengan mental issue yang berhubungan dengan emosi yang dialami oleh Arthur Fleck, yaitu Joker yang ditampilkan dalam film tersebut.
Awalnya mungkin kalian merasa tampak asing melihat gangguan mental tersebut dan mungkin beberapa dari kalian sudah mencari di internet dengan pertanyaan “Apa nama gangguan mental yang menyebabkan Joker tertawa tanpa sebab dalam Film Joker?”.
Ya, nama dari gangguan mental yang dialami oleh Arthur Fleck atau Joker tersebut adalah Pseudobulbar Affect yang disingkat dengan PBA. Nah, jika kalian ingin mendapatkan pengetahuan baru dan mengetahui lebih lanjut akan gangguan mental tersebut, simak pembahasannya berikut ini ya!
1. Pengertian Pseudobulbar Affect (PBA)
Ilustrasi Joker via https://pixabay.com
Ilustrasi Joker via https://pixabay.com
Pseudobulbar Affect atau yang disingkat dengan PBA adalah gangguan ekspresi emosional yang ditandai dengan ledakan tawa ataupun tangisan yang tidak terkendali yang tidak memiliki pemicu lingkungan yang tepat atau tidak sesuai dengan keadaan emosional yang mendasarinya yang mungkin terlihat dilebih-lebihkan (Miller dkk., 2011). Pseudobulbar Affect (PBA) merupakan gangguan dengan kondisi neurologis yang berbeda dengan berbagai penyakit neurologis maupun cedera otak lainnya. Gangguan ini disebut dengan ‘Pseudobulbar’ karena dapat menjadi Sindrom Pseudobulbar, di mana gangguan yang terkait dengan kerusakan saluran kortikobulbar yang memiliki ciri-ciri seperti disfagia (kesulitan menelan), gangguan gerakan wajah dan lidah, disfonia (gangguan pita suara), serta bicara yang lambat dan juga tidak jelas. Gangguan ekspresi emosional ini tidak dapat dikatakan bahwa hal ini tidak nyata atau bersifat buatan.
2. Penyebab dan Gejala Pseudobulbar Affect (PBA)
Ilustrasi emosi via https://pixabay.com
Ilustrasi emosi via https://pixabay.com
Para ilmuwan percaya bahwa Pseudobulbar Affect dapat terjadi akibat dari kerusakan pada prefrontal korteks yaitu area di otak yang membantu mengendalikan emosi. Selain itu, kerusakan pada bagian otak lainnya dan perubahan bahan kimia otak yang terkait dengan depresi dan juga hyper moods juga dapat berperan atas penyebab terjadinya PBA. Dari Miller (2021) kondisi otak lain yang umumnya terkait dengan Pseudobulbar Affect, di antaranya yaitu:
- Penyakit Alzheimer
- Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)
- Tumor otak
- Demensia
- Sklerosis ganda
- Penyakit Parkinson
- Cedera otak akibat traumatis
Adapun gejala dari Pseudobulbar Affect (Cummings dkk., 2006), di antaranya yaitu:
- Seseorang mengalami episode ekspresi emosi yang tidak disengaja atau berlebihan yang diakibatkan oleh gangguan otak, seperti episode tertawa, menangis, maupun tampilan emosional lainnya.
- Seseorang mungkin mengalami perubahan, seperti wajah memerah, peningkatan sentakan rahang, refleks muntah berlebihan, kelemahan lidah, disartria (bicara tidak jelas), dan disfagia.
- Seseorang mungkin menunjukkan kecenderungan untuk marah.
Kemudian, terdapat kriteria diagnostik kontemporer yang diuraikan oleh Poeck, yaitu:
- Tidak sesuai dengan situasi.
- Tidak terkait erat dengan perasaan dari seseorang tersebut.
- Seseorang tidak dapat mengontrol durasi dan keparahan episode saat terjadinya.
- Berhubungan dengan tidak adanya rasa lega.
3. Komentar Ahli Mengenai Pseudobulbar Affect (PBA)
Ilustrasi emosi via https://pixabay.com
Ilustrasi emosi via https://pixabay.com
Pengaruh dari Pseudobulbar Affect termasuk gangguan umum yang memberatkan pada pasien dengan gangguan neurologis. Perspektif dari pasien dan juga keluarga tentang PBA melihat bahwa dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari sangat nyata dan melemahkan. Oleh karena itu, penting untuk dapat mengenali Pseudobulbar Affect ini dan juga dapat membedakan kondisi tersebut dengan depresi maupun gangguan suasana hati lainnya karena kondisinya sangat berbeda. Meskipun mekanisme dari PBA tidak sepenuhnya diketahui, namun data menunjukkan keterlibatan sirkuit cortico-pontine-cerebellar yang merupakan masukan potensial dari area kortikal sensorik. Gangguan input tersebut dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam bertindak sebagai kontrol untuk ekspresi emosional. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa transmisi serotonergik dan glutamatergik mempunyai peran dalam penurunan Pseudobulbar Affect tersebut (Miller dkk., 2011).
4. Dextromethorphan/Quinidine Sebagai Obat PBA
Ilustrasi emosi via https://pixabay.com
Ilustrasi emosi via https://pixabay.com
Dextromethorphan/quinidine merupakan obat dari Pseudobulbar Affect (PBA) pertama yang disetujui oleh Food and Drug Administration yang merupakan badan yang mengawasi mengenai makanan dan juga obat-obatan di Amerika Serikat, di mana dextromethorphan/quinidine adalah terapi baru dengan aksi antiglutamatergik. Dextromethorphan/quinidine diindikasikan di Amerika Serikat untuk pengobatan pengaruh Pseudobulbar Affect, dextromethorphan saat metabolismenya dihambat dengan pemberian bersama quinidine membuktikan memiliki efek yang positif (Garnock-Jones, 2011). Dextromethorphan telah menunjukkan efek neuroprotektif pada model hewan dan dengan alasan tersebut, dipelajari sebagai pengobatan untuk ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis). Meskipun efek neuroprotektif tidak terlihat, namun secara kebetulan dicatat bahwa gejala dari Pseudobulbar Affect (PBA) menurun (Panitch et al., 2006).
Dalam laporan pasca pemasaran, dextromethorphan memiliki efek samping yaitu rasa kantuk, pusing, gugup atau gelisah, mual dan muntah, serta sakit perut. Sementara itu, quinidine memiliki efek samping yaitu kejang, ketakutan, depresi, persepsi warna yang terganggu, rabun senja, kehilangan bidang visual, keratopati dan kelainan pigmentasi kulit, reaksi psikotik akut, dan lain-lain.
5. Kesimpulan
Ilustrasi bunga via https://pixabay.com
Ilustrasi bunga via https://pixabay.com
Pseudobulbar Affect (PBA) dapat terjadi akibat berbagai gangguan neurologis dan meningkatkan beban penyakit pada orang yang sudah terkena penyakit neurologis serius (Nguyen & Matsumoto, 2019). Pseudobulbar Affect dapat menyebabkan peningkatan beban penyakit yang signifikan pada orang yang sudah terkena penyakit neurologis serius, termasuk gangguan pada status kesehatan secara keseluruhan, fungsi pekerjaan dan sosial, rasa malu, frustrasi, dan potensi untuk menarik diri dan isolasi (Colamonic dkk., 2012). Karena rasa malu yang terkait dengan ledakan emosi yang tidak pantas, interaksi sosial seseorang yang mengalaminya mungkin terganggu dan berisiko untuk mengalami gejala depresi, kecemasan yang meningkat, dan kualitas hidup yang menurun (Tateno dkk., 2004).
Jadi, Pseudobulbar Affect merupakan gangguan neurologis yang nyata dan bukan buatan yang dapat menimbulkan gangguan psikologis kepada seseorang yang mengidapnya jika lingkungannya tidak menerimanya dengan baik. Maka dari itu, peran keluarga atau rekan dari orang yang mengidap Pseudobulbar Affect (PBA) sangat penting dan diharapkan dapat menerimanya dengan baik, serta juga bagi orang yang awam terhadap gangguan tersebut diharapkan dapat menerimanya dengan baik dan tidak merespon hal tersebut dengan tidak pantas.
Setelah menyimak pembahasan di atas, tentunya kalian menjadi lebih tahu tentang Pseudobulbar Affect yang ditampilkan di Film Joker. Semoga bermanfaat!
Referensi
Colamonic, J., Formella, A., & Bradley, W. (2012). Pseudobulbar affect: burden of illness in the USA. Adv Ther 29: 775–798.
Cold, F., Health, E., Disease, L., Management, P., & Conditions, S. et al. (2022, November 28). Pseudobulbar Affect (PBA). https://www.webmd.com/brain/pseudobulbar-affect#2
Cummings, J. L., Arciniegas, D. B., Brooks, B. R. et al. (2006). Defining and diagnosing involuntary emotional expression disorder. CNS Spectr. 11(Suppl. 6), 1–7.
Garnock-Jones, K. P. (2011). Dextromethorphan/quinidine: in pseudobulbar affect. CNS Drugs, 25(5), 435-445. doi: 10.2165/11207260-000000000-00000. PMID: 21476614.
Miller, A., Pratt, H., & Schiffer, R. B. (2011). Pseudobulbar affect: the spectrum of clinical presentations, etiologies and treatments. Expert Review of Neurotherapeutics, 11(7), 1077-1088. https://doi.org/10.1586/ern.11.68
Nguyen, L., & Matsumoto, R. R. (2019). The psychopharmacology of pseudobulbar affect. Handb Clin Neurol, 165, 243-251. doi: 10.1016/B978-0-444-64012-3.00014-9. PMID: 31727215.
Panitch, H. S, Thisted, R. A, Smith, R. A. et al. (2006). Randomized, controlled trial of dextromethorphan/quinidine for pseudobulbar affect in multiple sclerosis. Ann. Neurol, 59(5), 780–787.
Tateno, A., Jorge, R. E., & Robinson, R. G. (2004). Pathological laughing and crying following traumatic brain injury. J. Neuropsychiatry Clin. Neurosci, 6(4), 426–434.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”
”