April tahun lalu saya memutukan untuk menikahi belahan jiwa saya. Wanita lain setelah Ibu dan Nenek saya yang menjadi isi dalam setiap doa yang saya untai. Selama kurun waktu ini, saya belajar. Bahwa menjadi pernikahan bermakna lebih dari sekadar menggamit halal satu sama lain, tetapi juga merengkuh ikhlas saat didaulat menjadi orangtua.

1. Pernikahan adalah pintu. Membuka pengalaman dan kejutan yang menakjubkan

nikah, yuk!

nikah, yuk! via https://www.vebma.com

Saat memutuskan untuk berani menikah, adalah saat di mana kamu merasa sudah menggapai satu level kedewasaan. Itu adalah hal yang benar. Adalah sesuatu yang wajar dirasai. Namun untuk kemudian dimaknai sebagai sebuah pelajaran adalah hal yang mesti diperdalam lebih saksama.

Pernikahan (paling tidak menurut saya yang tidak seberapa ini) adalah pintu segalanya. Saat kita memutuskan untuk merengkuh hal yang baru dan sama sekali asing. Percayalah, walau ada jutaan halaman buku tentang pernikahan yang telah kamu khatamkan, kamu akan marasai pengalaman yang berbeda. Yang tidak bisa dijadikan tolak ukur saat berbincang dengan siapapun.

Advertisement

Namun satu hal yang pasti, pernikahan juga sekaligus adalah hal yang mengejutkan. Kamu akan dikejutkan dengan bagaimana kamu kemudian harus memilah prioritas, harus berkonsolidasi dengan egoisme, serta harus senantiasa berlapang dada.

2. Usai menggamit halal, bersiaplah menjejak kehidupan berikutnya

Yaa, saya menganggap kalian semua pembaca tulisan saya, sudah cukup dewasa untuk memahami apa artinya malam pertama :)

Pernikahan membuka gerbang halal bagi pasangan yang bersenandung di bawahnya. Agama memberikan koridor eksklusif yang begitu rapih tersusun. Setelah menikah, kalian akan melihat dunia dengan lebih lapang. Dengan lebih lengang.

Advertisement

Namun saya tidak ingin membahas secara spesifik tentang bagaimana idelnya mehalalkan pengalaman pertama. Yang kemudian menjadi concern saya adalah bagaimana kita menyiapkan diri untuk merengkuh konsekuensinya. Untuk memberikan kontribusi lebih dari sekadar desahan dan lenguhan. Untuk menyiapkan tanggungjawab yang lebih luhur.

Karena saat itu lah kita sesungguhnya tengah menyiapkan kehidupan yang baru. Lembar pengalaman menakjubkan yang seringkali luput direncanakan :)

3. Setelahnya, kamu akan memaknai istilah "Suami Siaga" dengan Lebih Gagah

siaga banget, bro?

siaga banget, bro? via http://cdn.skim.gs

Frankly speaking, saya dulu cukup apatis dengan istilah "Suami Siaga". Karena saya pikir, memang sudah begitulah tanggung jawab yang harus dipikul dan dinikmati. Bikinnya berdua, ngurusnya berdua.

Namun setelah mengalami dua kali momen kehamilan isteri, saya melihat istilah itu dengan lebih dramatis. Karena sungguh, proses kehamilan seharusnya memang bukan hanya dirasakan oleh mereka para ibu yang mengandung. Kami, kita, para suami, dan kalian mungkin para calon suami, atau bahkan calon Ayah, pun harusnya demikian. Harusnya menyiagakan diri, jiwa dan raga untuk menyambut dan menyiapkan janin sebelum persalinan.

Pengalaman saya menemani dua kali proses kehamilan isteri juga membuat saya ingin berbagi kepada kalian semua. Bahwa bagaimanapun caranya, kesehatan ibu dna Si Calon Junior kamu adalah yang utama. Dibutuhkan lebih dari keikhlasan mengerjakan pekerjaan rumah, ketekunan menyiapkan persalinan, kerahiman merawat isteri, keseriusan mengatur waktu, dan tentu saja kemauan untuk memecah prioritas.

4. Rengkuh Pengalaman Menakjubkan dengan Hadir di Ruang Persalinan

hangattt :) :) :)

hangattt 🙂 🙂 🙂 via http://www.abc.net.au

Coba bantu saya mengingat-ingat, sudah berapa lama lagu "Akad" yang dipopulerkan Payung Teduh menjadi hits di mana-mana? Tiga bulan terakhir? Atau lebih?

Ah, bukan itu yang ingin saya bahas tentunya. Hal lain yang berkorelasi dengan "Akad"-nya Payung Teduh adalah bagaimana lirik dalam lagu itu menguntai indahnya berpasang-pasangan. Memadu kasih dan sebagai-bagainya. Bagi sebagian orang, itu merupakan hal yang laur biasa menakjubkan. Rasanya manis dan tidak mudah dilupakan.

Namun, I have to tell you this, usai kamu menikah, merengkuh halal, kemudian sukses mendampingi proses kehamilan. Sebuah pengalaman luar biasa lain yang akan menjadi hal yang bisa membuat kamu berpaling atas semua hal menakjubkan yang terjadi di dunia. Itu adalah menjadi saksi proses kelahiran anak kesayangan. Buah hati yang dinanti. Buah hati yang akan dijaga sampai mati.

Alhamdulillah tahadduts binni'mah, saya berkesempatan untuk memaknai pengalaman tersebut. Menemani proses persalinan isteri tercinta. Mulai dari ketukan manja Si Junior yang nyatanya hanya sapaan canda, sampai bermalam di ruang bersalin. Menyaksikan isteri memadu kontraksi. Saya yang beberapa tahun terakhir ini mendaulat diri sebagai seorang Penulis Profesional harus kalah dengan betapa menakjubkannya pengalaman tersebut. Saya selalu gagal menggambarkan bagaimana takjubnya menyaksikan tubuh mungil itu mendesah lalu perlahan menangis di hadapan kami. Mata saya selalu basah dan panas saat ingin menuliskannya. Tubuh saya merinding setiap kali mengingat luar biasanya pengalaman menyambut anak sendiri.

5. Menjadi Ayah adalah Pelajaran untuk Menguatkan Diri

menjadi ayah

menjadi ayah via https://www.thepoke.co.uk

Ini adalah bulan kedua saya menyandang gelar Ayah. Rasanya bukan hanya seperti telah lengkap dan utuh. Perasaan ini lebih dari sekadar perasaan yang katanya "telah sempurna kehidupan seseorang saaat dipercaya menjadi orangtua". Ini pun pengalaman yang luar biasa. Saya takjub dan menyampaikan salam takzim paling luhur untuk semua Ayah di dunia ini. Untuk mereka yang lebih dulu merasai proses pendewasaan diri yang lain.

Menjadi Ayah bagi saya adalah menikmati setiap proses penguatan diri. Ayah bukan cuma tempat bersandar dan menyematkan tuntutan nafkah atas keluarga. Ayah adalah teman untuk anak dan isterinya. Adalah mitra yang harus lebih handal dibanding siapapun. Saya enggan membahas tentang tanggungjawab seorang pria saat menyandang gelar Ayah, karena bagi saya itu adalah sunnatullah. Hadapi, hayati, nikmati. Mungkin itu tiga kunci utama yang selama ini saya tanam dalam-dalam. Ketiganya bemruara pada bagaimana kita ikhlas. Ringan hati menerima peran sebagai seorang Ayah.

Pria yang telah menyandang gelar Ayah dituntut untuk menghadapi banyak perubahan prioritas dalam hidupnya. Diberikan ruang dan kesempatan untuk menghayatinya lebih syahdu untuk kemudian dikejawantahkan dengan pengetahuan. Pria yang telah menyandang gelar Ayah juga idealnya mampu menikmati setiap proses pembelajaran dan penguatan diri. Ini merupakan hal lain yang juga luar biasa yang Tuhan anugerahkan untuk kita semua. Bahwa kita semua dibiarkan untuk mengalami betapa rahmat dan rahimnya Dia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya