Rasanya cepat sekali, telah berada di penghujung tahun. Semua rasa seakan membaur. Berdesir-desir di pembuluh darah. Satu tahun penuh ini, bahkan tak sempat menginjakkan kaki di rumah. Berada di tanah orang, di negeri yang tak terjamah, tak memungkinkanku berkumpul dengan keluarga setiap tahun. Dan inilah tahun yang benar-benar menyesakkan. Ketika pulang, menjadi yang tak mampu aku pecah dengan sedu sedan yang bertalu-talu.

1. Membiasakan Diri dengan Segala Perubahan

Hingga cerita-cerita yang mengantarku ke malam gelap di sudut dimensi berbeda. Perubahan desa, keramaian kota, dan segala perubahan yang semoga, jika pulang bertahun nanti, masih mampu aku kenali. Sebagai kotaku. Sebagai rumah pertamaku. Sebagai alasan kepulanganku. Bukankah setiap waktu lingkungan kita berubah. Ahh, semoga begitu pula dengan perasaanku. Yang harus turut berubah demi kenyamanan dan kebetahan ini. Perbedaan kultur budaya, bahasa, dan semua yang menyangkut dengan kehidupan sehari-hari, aku harus mulai terbiasa. Terbiasa merapikan perasaaanku yang lebih sering porak poranda.

2. Kabar Bahagia Tetap Terdengar Menyedihkan

Aku harus turut bahagia via http://1.bp.blogspot.com

Ruang dan waktu yang merentang antara aku dan rumah, selalu mencabik paru-paru. Membuatku sulit bernapas. Sesak menghantam. Pun bila kabar bahagia itu hadir. Dari jarak sejauh ini, kebahagiaan melebur menjadi sakit yang memilukan. Pernikahan sahabat yang kita sepakati untuk saling menghadiri sejak bertahun lalu. Kini, undangan itu hanya tergeletak di rumah. Tanpa mampu aku jamah. Hanya senyum dan doa yang terlantun dari pesan-pesan yang aku kirim lewat suara. Lewat foto-foto yang tersebar di sosial media. Aku harus turut bahagia. Meski tanpa bertandang dan memeluknya.

3. Kepergian Mereka Tak Mampu Aku Terka

Advertisement

ketika kepergian adalah keharusan via http://1.bp.blogspot.com

Harus menguatkan jiwa, ketika kabar itu menghentak kesadaran. Kepergian kakek menemui Tuhan menyeretku ke lubang terdalam tengah malam. Ingin rasanya melesat ke bandara. Mencari pesawat tercepat yang mampu membawaku melintas benua. Membelah samudra. Di pikiran hanya tertuju pada pulang, pulang, dan pulang. Nayatanya, aku terjebak di perantauan.

Aku kira ini hanya kebetulan. Iya, kebetulan aku berada jauh dari rumah. Tapi kemudian kepergian itu disusul oleh nenek, tante, om, pakdhe, bahkan sepupu. Hampir setiap bulan kabar itu datang bertubi-tubi. Seperti bom molotov yang dilancarkan ke tiang-tiang pertahanan dari negeri seberang. Keinginan pulang dan merangkul mereka semua sebelum diturunkan ke liang lahat membuatku tak sekedar geram. Merantau itu lebih sulit dari yang aku kira.

4. Ibu, Jaga Kesehatan Ya

Tuhan, tolong jaga ibu via http://1.bp.blogspot.com

Bahkan malam lainnya, jantungku hampir merosot ketika mendapat kabar ibu dilarikan ke IGD. Oh Tuhan! Apalagi sekarang? Tidak. Tidak. Engkau akan melindunginya. Selalu. Bagaimanapun keadaannya. Tuhan lebih tahu dari pada aku yang sekarang hanya mampu menunggu kabar. Tanpa tahu harus berbuat apa. Hanya kata ‘pulang’ yang memenuhi otak. Hingga penuh dan buncah di pelupuk mata. Mengatur perasaan yang terpisah jarak dan waktu itu sulit! Sulit sekali!

Ibu, maafkan aku yang tak mampu sekadar menemanimu berbaring lemah. Aku ingin pulang. bertemu Ibu. Tapi aku tak bisa. Tidak sekarang. Cepatlah pulih. Agar kita bisa merajut cerita lagi meski hanya lewat telepon. Jaga kesehatan, Bu,

5. Meski Jauh, Doa Kami Tak Pernah Terputus

Doa kami menembus langit via http://1.bp.blogspot.com

Tapi toh semuanya telah terjadi. Keinginan untuk meninggalkan negeri tercinta pun bukan tanpa alasan. Banyak dari kami, para perantau, yang justru berjuang demi keluarga. Demi asap yang terus mengepul di tungku dapur. Untuk anak-anak yang harus disekolahkan demi mencapai cita. Untuk senyum dan bangga orang tua. Bahwa kami bisa mandiri. Mampu menopang diri. Apapun yang terjadi, kata ‘kuat’ harus terpatri jauh-jauh hari. Tertoreh semakin dalam dan lebih dalam dengan keadaan-keadaan yang memaksa untuk bersabar. Atau tersenyum meski hati remuk redam.

Rasa sakit dan selalu dirundung cemas dengan keadaan anak, oran tua dan juga keluarga. Tidur tak nyenyak jika sedikit saja ada kabar bencana alam dari televisi dan media-media. “Lindungi keluargaku Tuhan,” menjadi kalimat yang terjulur bermil-mil menembus langit.

6. Kita Bisa Merantau Ke Mana Saja, Tapi Rumah Hanya Ada Satu dan Satu-satunya.

Rumah, alasan untuk kembali pulang via http://www.thewoodgraincottage.com

Di penghujang tahun yang penuh cerita. Tentang rasa yang tak mampu didefinisikan. Tentang jawaban dari pertanyaan, “Kapan pulang?” Tentang kekuatan hati yang harus kami jaga agar bangun pagi hari dengan perasaan lapang. Sulit itu pasti. Tapi bertahan dan melanjutkan hari menjadi keharusan yang tetap digenggam dengan penuh kesabaran.

Biarkan rindu ini menumpuk seperti bata. Tersusun menjulang membentuk bangunan kokoh nan menawan. Dinding berlapis emas dengan ukiran memesona. Hingga waktu menghantarkan kita pada kata pulang. Maka tak ada rasa yang tercipta kecuali kebahagiaan berkumpul bersama keluarga.

Untuk tahun baru yang penuh dengan harapan. Doa kami masih tetap sama, semoga tahun mendatang, Engkau izinkan kami memeluk mereka. Bersandar bahu lemah ibu dan ayah kami. Mendekap buah hati yang telah beranjak remaja. Akan kami ceritakan semua kisah-kisah yang akan membuat mereka bangga. Mereka yang membawa setengah jiwa kami. Sumber kekuatan kami untuk bertahan di perantauan.