Kamu yang sedang atau pernah mengalami mimpi bertepuk sebelah tangan, tegar-tegar ya (hatinya). Pastinya penolakan itu menyakitkan. Apalagi sehabis mengorbankan seluruh jiwa raga tetapi ia tak juga bisa dimiliki (si mimpi).

Nangis, patah, hancur berantakan boleh-boleh saja. Manusia kan diciptakan lengkap dengan perasaan. Baper itu diijinkan selama tidak ada putus asa di ujung jalan.

Nah, kalau katamu semesta itu jahat karena tidak juga berpihak ke mimpimu, coba renungkan 5 suara hati yang tak pernah semesta ungkapkan secara gamblang padamu. Terkadang semesta hanya bisa dimengerti dengan duduk, diam, ambil jeda, kemudian menyadari pekerjaan Sang Pencipta. Bacanya boleh pakai mata dan hati, karena ini bukan pesan WA dari gebetan:

1. Tidak ada kehidupan manusia yang jalannya semulus jalan tol

Selamat menikmati kebosanan, jika ingin mulus saja. Pendakian diciptakan buat berjuang naik. Penurunan dibentuk agar kita mengatur kecepatan. Kerikil dihamburkan biar kita ngerasain namanya bertahan.

Advertisement

 

Semua berfaedah kok, yang unfaedah itu berusaha ngerangkai kata-kata indah buat doi, tetapi ujung-ujungnya di read doang *hiks.

Semua mimpi memang butuh pengorbanan. Ada yang bisa sampai berdarah-darah demi mencapainya. Jadi, tak perlu merasa dirimulah yang paling lelah dibuat semesta.

Advertisement

Coba tilik manusia berhasil di luar sana. Mereka punya banyak bekas luka melewati anak-anak tangga penuh duri demi mencapai puncak. Terkadang pun puncaknya bukan pada hasilnya tetapi pada prosesnya. 

2. Kalau ditolak membuatmu belajar lebih dewasa dan kuat, mengapa tidak?

Semesta mengizinkan penolakan terjadi karena dengan cara itu manusianya baru dapat bertumbuh. Jika kali ini mimpimu masih bertepuk sebelah tangan dan kamu masih bisa bangkit kembali, bukankah itu suatu keberhasilan juga? Jika nanti kamu mencoba lalu masih gagal, namun hatimu tetap berlapang dada, ini juga sebuah kemajuan bukan?

 

Bagaimanapun situasi dan keadaannya semesta tetap berada di pihakmu jika mimpimu itu benar. Entah bagaimana usaha kita menumpuk batu agar mencapai bintang itu, semesta bisa memakai elevator untuk langsung melesat naik memetiknya.

Kita tidak akan pernah mengerti kehendak-Nya, yang kita tahu masa depan kita sudah dirancang dengan hebat oleh-Nya.

3. Percayalah semua ada waktunya

Semua ada waktunya

Semua ada waktunya via https://www.pexels.com

Ada waktu untuk berduka pun bersuka. Ada waktu untuk tertawa juga menangis. Semua ada waktunya. Jadi tidak perlu mempermasalahkan lamanya waktu yang dipakai si doi untuk balas chat-an. Maka dari itu ada kepompong sebelum kupu-kupu. Ada nasib junior sebelum senior. 

Manusia pernah ada di suatu tingkat yang sama, pada waktu yang berbeda. Entah ia lebih dahulu mencapai garis akhir dan kamu masih di garis awal. Atau ia yang masih meniti karir, dan kamu yang sudah jatuh berkali-kali demi sebuah pencapaian. Mereka yang belajar naik sepeda pun mesti jatuh dulu untuk mahir.

Beberapa hal yang menurutmu sudah terlambat, tak pernah benar-benar terlambat jika percaya waktu yang paling tepat adalah kehendak Sang Pencipta. Katanya manusia yang bahagia di dunia ini adalah mereka yang  punya mimpi. Karena dengan begitu mereka memiliki titik yang akan mereka kejar mesti ditengah terjangan hidup yang keras. Coba terus sampai bagianmu terjadi

4. Mungkin ini cara-Nya agar kamu lebih gigih untuk meningkatkan kualitas diri

Kualitas diri

Kualitas diri via https://unsplash.com

Bisa jadi semesta melewatkan kesempatan saat ini, demi memberimu ruang membangun kualitas lebih. Mungkin saja kamu akan berhenti belajar jika diberikan sekarang.

Semesta kadang membuatmu penasaran dengan tak memberinya di saat kamu benar-benar mau.

Sebab sebelum sang anak diberikan kendaraan, orang tua perlu mempersiapkan mental, berkas, juga perizinan. Sama halnya semesta. Sebelum mewujudkan mimpimu, ia mempersiapkanmu lebih dulu agar layak mendapatkannya. Jadi jangan selalu berburuk sangka pada seseorang yang menyayangimu. Ia pun punya cara sendiri untuk mengagumimu.

5. Tenang, semesta tidak sedang mempermainkanmu, Dia tahu batas kemampuanmu

Kata semesta hidup itu mesti dinikmati. Katanya lagi; masa muda perlu diperjuangkan biar tidak menderita pas tua. Kesimpulannya hidup tidak usah sebegitu kaku. Tenang, mimpi bukan untuk dipermainkan.

 

Tetapi bukan juga sebatas diraih. Ia bak belahan jiwa yang kamu dapatkan, kamu jaga, dan kamu pertahankan. Syukur-syukur dijaganya untuk diri sendiri. Kalau masih saja ngejagain jodoh orang lain? *ekh

 

Terus saja memperbaiki diri. Air yang kamu siram pada sebuah pot akan menumbuhkan bunga di pot yang sama. Sesuatu yang kamu pupuk dalam dirimu, akan berkembang pula dalam dirimu dan akhirnya bisa dinikmati keindahannya oleh orang lain.

 

Jadi, benar bukan? Semesta masih berpihak padamu. Makanya jangan berhenti. Meraih mimpi bukan masalah usia. Ada yang bisa berhasil diusia 25, ada yang sukses di usia 45. Semua manusia punya porsinya masing-masing. Yang membedakan hanya kamu sudah layak menerimanya apa belum. Jadi, keep fighting mengejar hatinya (mimpimu maksudnya)!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya