5 Miskonsepsi Soal Minimalisme yang Nggak Sepenuhnya Benar

Kesalahpahaman tentang minimalisme

Akhir-akhir ini gaya hidup minimalis mulai banyak diomongin, nih, guys. Penyebaran informasi dan proses diskusinya biasanya datang dari media sosial seperti Instagram dan YouTube. Bahkan sampai ada film dokumenter tentang itu.

Nah, sama seperti gaya hidup lain yang baru terdengar dan berkembang, minimalisme pun masih sering disalahpahami dan akhirnya muncul miskonsepsi tentang gaya hidup ini. Padahal, nggak semua dugaan yang beredar itu benar, lho. Nah, apa aja sih miskonsepsi yang sering muncul? Yuk, dicek!

Advertisement

ADVERTISEMENT

1. Minimalisme itu ekstrem

Photo by cottonbro from Pexels

Photo by cottonbro from Pexels via https://www.pexels.com

Ini kesalahpahaman yang paling sering dibahas. Katanya, minimalisme itu gaya hidup yang ekstrem. Mereka membuang barang-barang milik mereka dan hidup dengan sedikit barang aja. Tapi, apa iya begitu?

Sebenernya ada minimalis yang gaya hidupnya ekstrem, seperti Fumio Sasaki (penulis Goodbye, Things) dia memang melakukan decluttering yang cukup ekstrem. Apartemennya yang berantakan berubah total jadi luang dan tanpa barang. Nah, ini adalah salah satu spektrum dari minimalisme. 

Advertisement

Ujung spektrum minimalisme yang lain adalah minimalisme yang lebih ringan atau santai. Mereka mengambil waktu perlahan-lahan ketika bersih-bersih. Tidak membuang barang 100% tetapi sudah merasa puas karena barang-barangnya mampu diorganisasi dengan baik.

Sebenernya, nggak ada aturan salah-benar soal minimalisme dari jumlah barang. Hal yang paling penting untuk menentukan benar-salahnya adalah perasaan saat mengurangi barang. Kalau kita merasa sedih, panik, kalut saat ada hidup dengan sedikit barang, berarti kita belum menyesuaikan proses decluttering dengan kondisi pada saat itu. Intinya sih, take your time, aja. Karena ini bukan perlombaan dengan minimalis lain.

Dan, harus diingat: minimalisme bukan gaya hidup ekstrem. Itu kembali ke keinginan masing-masing dan sesuai dengan kebutuhan serta goal tiap individu, ya!

Advertisement

ADVERTISEMENT

2. Minimalisme itu bikin kita hidup dengan sedikit barang

Photo by Thirdman from Pexels

Photo by Thirdman from Pexels via https://www.pexels.com

“Minimalisme itu yang rumahnya kosong melompong, ya? Yang nggak ada barang aneh-aneh?”

Miskonsepsi ini sering banget muncul, guys. Banyak yang menyangka bahwa hidup minimalis itu bener-bener minimal, alias nggak punya barang yang lain.

Tapi, apa iya minimalisme aslinya seperti itu? Well, sebenernya pembeda awal gaya hidup minimalis dan maksimalis itu ada di mindset. Gimana tuh?

Kalau orang yang maksimalis, biasanya beli barang karena beberapa alasan: FOMO, ingin membangun citra keren dan up to date, atau karena beli impulsif tanpa ada pertimbangan. Akhirnya? Pasti nyesel dan ketika tenang pasti bertanya, “ngapain beli barang ini, ya?”

Nah, kalau yang minimalis, biasanya mengoleksi atau menyimpan barang karena memang butuh dan sudah melalui proses pertimbangan (bukan soal diskon atau promo, ya). Jadi, setelah melalui proses kontemplasi, akhirnya ya…barang yang mereka punya lebih sedikit.

Tapi kita pasti akan lihat seorang minimalis yang punya banyak barang. Biasanya mengoleksi barang karena hobi (kalau hobi, jadi pasti mereka akan tetap mengoleksi barang). Dan, mereka akan dapat rasa senang yang awet dari barang-barang itu. Beda kan sama yang belinya impulsif atau pas lagi nggak butuh?

ADVERTISEMENT

3. Orang minimalis nggak pernah belanja

Photo by Anna Shvets from Pexels

Photo by Anna Shvets from Pexels via https://www.pexels.com

Orang minimalis nggak pernah belanja? Masa sih?

Sebenernya orang yang menjalankan gaya hidup minimalis itu masih belanja, guys. Hanya bedanya ada di mindset masing-masing. Para minimalis itu seringnya belanja saat mereka butuh dan bukan lagi belanja biar nggak bad mood atau belanja yang impulsif.

Memang ada beberapa video atau artikel tentang minimalis yang judulnya “10 things I do not buy anymore after becoming a minimalist“. Konten ini muncul karena banyak orang yang sadar kalau ternyata kebiasaan belanja mereka itu salah. Nah, setelah lebih paham, mulai deh mereka belanja barang-barang esensial aja.

ADVERTISEMENT

4. Seorang minimalis bajunya hitam lagi, hitam lagi

Photo by Craig Adderley from Pexels

Photo by Craig Adderley from Pexels via https://www.pexels.com

Nah, miskonsepsi ini sering muncul biasanya karena melihat beberapa figur publik yang juga seorang minimalis. Figur-figur seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan lainnya selalu muncul di hadapan publik dengan baju yang itu-itu aja. Padahal cara berpakaian seorang minimalis nggak melulu dilihat dari jenis dan warna pakaiannya aja.

Para minimalis biasanya mulai menyederhanakan hidup mereka dari pakaian di lemari. Mereka akan mengurangi baju dan pakaian lain sampai ke titik di mana cuma ada pakaian yang masih mereka suka dan butuhkan aja. Nah, untuk sampai ke posisi seperti Steve Jobs dan Mark Zuckerberg, biasanya itu perlu pertimbangan lain. Seringnya sih soal efisiensi waktu. Karena mereka sibuk, jadi mereka memilih menggunakan pakaian yang sejenis setiap hari.

Tapi, masih bisa kok kita menerapkan gaya hidup minimalis dengan pakaian yang lebih berwarna. Asal, pakaian-pakaian yang kita simpan itu benar-benar yang kita butuhkan dan suka.

ADVERTISEMENT

5. Minimalisme hanya cocok untuk yang masih lajang

Photo by Joshua Rawson-Harris on Unsplash

Photo by Joshua Rawson-Harris on Unsplash via https://unsplash.com

Di film The Minimalists (Netflix, 2016) ada satu bagian di mana seorang minimalis, namanya Leo Babauta bilang kalau banyak yang percaya bahwa minimalisme itu cuma cocok untuk yang masih lajang. Orang yang sudah berkeluarga can't relate. Tapi emang gitu, ya?

Nah, Leo Babauta ngasih penjelasan bahwa sebenernya minimalisme itu bisa dijalani oleh orang-orang yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Cuma, pasti pendekatannya berbeda karena harus ada kompromi di dalamnya.

Komprominya dengan pasangan dan anak. Dengan penjelasan dan strategi yang tepat, gaya hidup minimalisme ini bisa berlangsung di keluarga. Tapi, standar dan hasilnya pasti memang beda dengan yang masih lajang. Prosesnya juga nggak sekilat dan seimpulsif para minimalis yang masih lajang, ya.

Nah, kalau penasaran, bisa banget nih ditonton film The Minimalists di Netflix!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

I talk (to myself) a lot

CLOSE