#MudaBerkarya-Menciptakan Karya Bukan Hanya Terkait Benda, 5 Karya Ini Aku Dapatkan sebagai Mantan Pengajar ABK

Sekitar tahun 2019, penulis dipercaya menjadi seorang pengajar (pendamping) ABK di salah satu sekolah islam di Bali. Awalnya penulis tak memahami apa itu ABK, hanya mengetahui saja kepanjangannya yaitu Anak Berkebutuhan Khusus. Dengan rasa keingintahuan yang tinggi, penulis mencoba mencari tau pada pencarian maya.

Hasilnya adalah jenis-jenis ABK itu sangatlah beragam, seperti: tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna grahita, down syndrome, hiperaktif, autis, anak dengan kesulitan belajar khusus (disleksia), dan lain-lain. Setiap jenis ABK pun penanganannya berbeda, tidak bisa kita menyamakan pembelajaran ABK satu dengan ABK lainnya atau bahkan anak non ABK. Butuh kekuatan tenaga, pikiran, dan kesabaran dalam mendampingi mereka.

Meskipun kesannya capek, tapi sejujurnya mendampingi mereka itu asyik banget, asalkan kita benar-benar tulus mencintai mereka. Maka dari itu, banyak sekali kesan yang terangkai bersama mereka, bukan sekedar capek saja namun juga belajar memaknai kehidupan. Berikut ini karyaku yang bersumber dari mereka. 

Advertisement

1. Semakin Paham Artinya Perbedaan

Foto kompasiana

Foto kompasiana via http://kompasiana.com

Mungkin perbedaan yang kita pahami selama ini adalah karena suku, agama, ras, pekerjaan, gender, budaya, dan lain-lain. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa perbedaan itu nggak hanya menyangkut itu saja. Masih banyak perbedaan yang ada di sekitar kita, dan salah satunya adalah kehadiran anak berkebutuhan khusus atau ABK.

Melalui mereka, penulis bisa belajar toleransi lebih banyak dan tidak lagi menganggap aneh kehadirannya. Pada dasarnya, kebutuhan rohani mereka dan kita sebagai manusia itu sama yaitu ingin dihargai, disayangi, dan dicintai. 

Advertisement

2. Arti Cinta yang Tulus

Foto oleh blossomfloralstudio

Foto oleh blossomfloralstudio via http://blossomfloralstudio.com

Sungguh besar cinta mereka kepada orang yang juga cinta kepada mereka. Sebab kepekaan dan tingkat kesensitifan mereka sangatlah tinggi, jauh berbeda dari anak-anak umumnya.

Meskipun dengan keterbatasannya, mereka tetap akan mengetahui mana orang-orang yang menolak dan menyayangi, yaitu melalui responnya yang cepat apakah mendekat atau menjauh, dan paling terharu adalah mereka sangat pintar dan cepat menghapal nama pengajarnya jika mereka telah merasa nyaman.

3. Melahirkan Sikap Kedewasaan

Advertisement
Foto oleh Burst

Foto oleh Burst via http://picography.co

Ketika masih berstatus pelajar/mahasiswa, cara berpikir penulis persis seperti bocah. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah, dan tentu saja lebih banyak egoisnya, tetapi saat diberikan amanah sebagai pengajar ABK semua berubah delapan puluh persen menjadi lebih sabar, lebih legowo, mau mengalah, ini karena sumbernya ada pada mereka yang  selalu ceria, mau berbagi, sayang satu sama lain.

Rasanya malu apabila penulis masih menampilkan keburukan itu ke mereka, ya meskipun keburukan penulis kadang tiba-tiba muncul tetapi hanya sekitar dua puluh persennya saja kok 🙂

4. Arti Peran Orangtua

Foto oleh Jamie Street

Foto oleh Jamie Street via http://picography.co

Dulu bayangan penulis menjadi orang tua dari anak-anak yang non ABK saja susahnya tiada tara, apalagi orang tua yang mendapatkan anak spesial ini pasti lebih kompleks. Sungguh mulia para orang tua yang dianugerahkan anak spesial ini. Hingga penulis lupa, berapa kali tetes air mata ini telah keluar saat melihat kekuatan para orang tua ABK yang masih bisa tersenyum lebar tanpa ada capek yang terlihat.

Di sinilah penulis banyak belajar bahwa menjadi orang tua tak segampang yang dibayangkan, bukan hanya sebatas melahirkan atau merawat saja tetapi juga mendidiknya dengan kesabaran dan ketelatenan.  

5. Malu Mengeluh

Foto oleh Kat J

Foto oleh Kat J via http://unsplash.com

Sebelum menjadi pengajar ABK, penulis sering mengeluh tentang kehidupan. Terlebih saat itu berada pada fase mencari kerja yang sering ditolak sana sini oleh HRD/User. Rasanya kehidupan tidak adil sama sekali. Padahal bila dipikir secara jernih, kehidupan ini sebenarnya sudah ada yang mengatur.

Seperti adik-adik ABK ini, tidak ada satu pun dari mereka yang meminta dilahirkan dengan fisik yang berbeda dengan kita. Tetapi mereka menerima, bahkan semakin kuat dan mendukung satu sama lain. Tak ada sedikit pun mereka mengeluh, rasanya penulis di situ seperti tertampar. Fisik telah lengkap dan sempurna, tetapi masih mengeluh ke Tuhan. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Aku adalah Perempuan Kecil yang Gampang Diombang-Ambingkan Angin

CLOSE