Beberapa waktu yang lalu ramai diberitakan di banyak sekali media tentang maraknya kasus bullying. Dari orang berpendidikan sampai yang masih sangat awam dengan istilah ini, kini semakin tahu apa itu bullying, dan bagaimana efek sampai cara mengatasinya.

Tapi, sebelum masuk lebih jauh ke pembahasan receh yang sedikit bikin mikir ini, coba kita cari tahu apa itu sebenarnya arti dari bullying.

1. What is the meaning of bullying? Bully itu apa sih? Opo sih bully iku?

Korban bullying

Korban bullying via https://unsplash.com


Bullying adalah tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan.


Menurut Halopsikolog.com, istilah ini pertama kali dikenal sebagai “Mobbing”, istilah tersebut diperkenalkan sekitar akhir 1960-an dan awal 1970-an oleh Heinemann yang merupakan seorang ahli fisika di sebuah sekolah di Swedia. Pada saat itu, mobbing oleh para ahli diartikan sebagai serangan sekelompok hewan kepada seekor binatang.

Advertisement

Seiring perkembangan zaman, istilah tersebut diganti menjadi bullying. Pengertian bullying menurut para ahli yaitu suatu agresi atau perilaku agresif di mana seseorang memberikan perlakuan agresif tersebut bertujuan untuk melukai atau membuat korbannya merasa tidak nyaman. Para ahli juga mengatakan, seorang anak dikatakan menjadi korban bully ketika perlakuan agresif atau bentuk perlakuan negatif lainnya diberikan secara berulang, dan dalam waktu yang lama.

Nah, mungkin yang belum atau bahkan baru kita sadari adalah, ternyata sudah sejak kita kecil, bullying terjadi di hidup kita. Sadar atau tidak sadar, mungkin saat membaca tulisan ini kita akan teringat bahwa dulu pernah menjadi korban bullying atau justru pelaku pembullyan.

2. Kenapa sih sebenarnya bully itu terjadi?

Korban bully

Korban bully via https://unsplash.com

Banyak hal yang sebenarnya harus dibahas tentang bullying. Bukan hanya fokus pada korban bullying saja, tapi juga pada pelaku. Ya, saya tertarik mengulik ini. Sedikit saya ingin tahu kenapa mereka melakukan ini.

Advertisement

Bullying bisa diterima siapa saja, dan bisa dilakukan siapa saja. Bahkan kita yang tidak berencana untuk membully seseorang nyatanya sudah menjadi pelaku bullying. Banyak asumsi yang beredar terkait perlakuan bullying, terutama yang terjadi di lingkungan sekolah dan lingkungan bermain anak-anak. Mulai dari:


  1. Mencari perhatian teman atau orang yang lebih tua (orang tua atau guru).

  2. Merasa ingin memiliki kekuasaan di dalam satu lingkungan kelompok bermain tertentu.

  3. Kecemburuan sosial (biasanya terjadi karena apa yang ingin dia dapatkan, justru didapatkan oleh orang lain).

Sebenarnya banyak sekali faktor penyebabnya, mulai dari lingkungan keluarga, teman terdekat, sekolah dan lingkungan di masyarakat. Tidak bisa disamakan bagaimana seseorang melakukan pembullyan. Kecuali melakukan pendekatan terhadap pelaku.

3. Kenapa harus pendekatan terhadap pelaku? Bukankah hukuman saja cukup?

Pelaku bully

Pelaku bully via https://unsplash.com

Saya lebih suka berbicara tentang kepribadian dan perilaku seseorang secara personal. Mengetahui apa alasan mereka melakukan sesuatu, termasuk melakukan sebuah kesalahan. Misal bullying.


Hukuman? Sudah jelas diatur dalam undang-undang. Tapi apakah hukuman itu menjamin pelaku tidak akan mengulangi perbuatannya lagi?


Beberapa orang berpikir sebuah hukuman akan membuat jera dan memastikan pelaku tidak berani melakukan lagi. Tapi jika tidak digali dari akarnya, pasti keinginan untuk mengulangi hal itu akan muncul lagi. Ya, termasuk pembullyan. Mereka yang menjadi pelaku bullying, sebenarnya juga korban. Mereka memiliki banyak hal yang ingin sekali ditunjukkan kepada dunia. Mereka memiliki banyak keinginan untuk menjadi lebih besar dari orang yang dibullynya.

Tapi bagaimanapun memang, pembullyan tidak bisa dibenarkan.

Pendekatan dan memberikan pendampingan akan memberikan sedikit keberanian kepada pelaku untuk memahami situasi dan berusaha meningkatkan empatinya kepada orang yang dibullynya, termasuk lingkungan di sekitarnya.

4. Kamu harus belajar dari dia

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi via https://www.instagram.com

Ya, siapapun nyatanya bisa menjadi pelaku dan korban. Seperti teman saya yang satu ini. Yukiko Ayu Kartika Larasati. Seorang gadis yang bagi saya sangat luar biasa. Terlepas dari prestasi dia sebagai seorang model dan PR yang tidak pernah berhenti untuk belajar. Dia menjadi salah satu bukti bahwa pembullyan kepada anak-anak ada di sekitar kita.

Saat bercerita dalam sharing session PT Beon Intermedia, Kiko sapaan akrabnya banyak bercerita. Bagaimana dulunya ia dibully oleh teman-teman sejak Sekolah Dasar. Kiko mendapat perlakuan yang harusnya tidak ia dapatkan. Ya, perlakuan berbeda dari siswa mayoritas di sekolahnya.

Memutuskan pindah ke kota yang dikiranya mampu memberikan ketentraman, nyatanya membuatnya masih tetap mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya. Mencoba bertahan sampai akhirnya ia kembali memutuskan pindah ke kota asalnya. Dan sekali lagi Kiko masih mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan.

Hal ini berlangsung sampai ia menginjak SMA. Namun, Kiko tidak begitu saja terpuruk ataupun membalas dendam membully. Kiko membuktikan bahwa ia mampu menjadi gadis yang berprestasi dan tidak bisa begitu saja diremehkan. Bahkan tidak ada yang mengira prestasi yang ia dapatkan saat ini menjadi titik balik dari kisah masa lalu yang membentuk mentalnya menjadi lebih kuat lagi menghadapi orang lain.

Beberapa prestasi di dunia modelling membawanya mampu diakui oleh lingkungan. Bahkan dari mereka yang sempat membullynya dulu, kini berebut ingin menjadi teman dari gadis yang sangat ramah kepada siapa saja ini. Ini menjadi salah satu contoh bullying yang tidak bisa begitu saja dipandang sebelah mata.

5. Korban bully harus gimana sih?

Korban bully

Korban bully via https://unsplash.com

Sama halnya dengan pelaku, korban pembullyan tidak bisa diperlakukan secara merata. Ada korban yang memiliki mental tangguh dan ingin menunjukkan bahwa ia tidak seperti apa yang dikatakan banyak orang. Tapi ada juga korban yang tidak bisa menerima keadaan, menderita depresi bahkan tidak jarang pula memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Ya, sudah banyak buktinya.

Butuh banyak dukungan dari banyak pihak. Keluarga, sekolah, teman dan lingkungan sekitar. Mereka yang menjadi korban harus benar-benar mendapat penguatan dari banyak pihak. Bukan sekedar pembelaan bahwa ia adalah korban. Penguatan akan membuat korban menjadi lebih percaya diri lagi untuk bangkit dari depresi akibat dibully.

Memberikan dukungan untuk menghilangkan pikiran bahwa mereka adalah korban. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi lebih sukses, lebih dari mereka yang membullynya. Ya, Yukiko bisa menjadi contohnya. Tapi, jangan langsung menyalahkan korban pembullyan yang memilih untuk tidak melawan, menutupi apa yang terjadi, dan menjadi depresi. Karena tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengungkapkan sesuatu di dalam hidupnya.

Membalas mereka yang membully bisa dalam bentuk apapun. Mau memperlakukan hal yang sama? Atau memperlakukan dengan lebih bijak? Itu pilihan. Tapi jangan pernah berpikir untuk memiliki mental pelaku ya, karena ini akan menjadi lingkaran setan yang tidak berujung jika diteruskan.


“Tapi saya hanya berniat bercanda, bukan membully.”

“Apakah sikap saya ini termasuk membully? Atau hanya bentuk dari bercandaan saya?”


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya