Tepat di tanggal 17 Agustus 2018, Indonesia genap bertambah usianya yang ke 73 tahun. Segenap masyarakat Indonesia menyambut hari kemerdekaan bangsa ini dengan penuh gegap gempita. Kita tahu bersama bahwa Indonesia baru dapat menjadi negara seutuhnya setelah pahlawan Indonesia berjuang mati-matian di tanah perlawanan dengan penjajah yang luar biasa menguras emosi.

Selama berabad-abad Indonesia dijajah, pahlawan kita tidak pernah berputus asa untuk negara tercinta. Dan akhirnya, perlawanan penjajah di akhiri dengan penetapan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia. 

Perjuangan pahlawan Indonesia dalam memerdekakan negara tercinta patut dicontoh di kehidupan anak muda Indonesia, walaupun tidak dengan fisik dan senjata, tetapi dapat mengikuti kegigihan dan pengorbanan tanpa lelah yang dilakukan oleh pahlawan kita selama ini.

Beribu sayang, beberapa berita telah memberitakan bagaimana kondisi anak muda Indonesia sekarang yang mudah putus asa, sehingga menyebabkan kasus bunuh diri dimana-mana. Kalau seperti itu, negara ini siapa yang akan memimpin selanjutnya? Jika beberapa anak muda Indonesia tumbang, sebelum mereka berhasil memerdekakan dirinya sendiri, bagaimana bisa memerdekakan Indonesia?

Maka dari itu, walaupun begitu banyak rintangan dalam memerdekakan diri, sesungguhnya tidak perlu khawatir dan risau apabila bisa melakukan enam hal ini: 

1. Maju terus pantang mundur, mati satu tumbuh seribu, karena gagal sekali berhasilnya 1000 kali lipat, percaya deh!

Jangan kasih kendor!

Jangan kasih kendor! via https://googel.com

Hidup di dunia ini tidaklah semudah dan semulus yang dilihat. Banyak terjalan dan lika-liku yang harus dilalui terlebih dahulu, sebelum kita merasakan keberhasilan yang diimpikan selama ini. Seperti lagunya kristina jatuh bangun, kita harus bisa bangun seribu kali setelah jatuh beberapa kali.

Advertisement

Gagal itu biasa, karena semua kegagalan pasti akan digantikan seribu kali lipat dengan keberhasilan, tapi ingat jangan pernah berhenti mencoba ya!

2. Tepis rasa mengeluhmu sekarang juga, apa nggak malu sama orangtua yang tidak pernah putus asa menunggu keberhasilanmu?

Doaku untukmu, nak!

Doaku untukmu, nak! via http://www.google.com

Semua orang pasti pernah mengalami pasang surut perasaan; kadang senang, kadang sedih, kadang sakit hati, yang tentu saja tercampur aduk di hati. Mengeluh? Ya, ini adalah salah satunya yang pasti pernah kita rasakan. Kenapa gini banget ya nasibku? Kenapa nasibku nggak kayak dia enak gitu hidupnya? Kenapa aku selalu gagal? Kenapa dan kenapa, itulah yang selalu saja kita keluhkan.

Kadang kita terlalu egois dan terlalu fokus dengan kehidupan orang lain, tapi tidak pernah memikirkan kehidupan kita sendiri dan berhenti mengeluh. Taukah kamu, jika masih ada orang lain yang setia dan tidak pernah mengeluh selama ini di depanmu. Siapakah itu? Tentu saja orang tua, percayalah mereka sangat senang apabila kita sebagai anak tidak selalu mengeluh di depannya.

3. Anggap saja nyinyiran itu sebagai lagu terenakmu, dan tidak patut kamu pusingkan lagi cyin!

Hempaskan saja!

Hempaskan saja! via http://www.google.com

Advertisement

Problem dari anak millenial sekarang adalah menghadapi nyinyiran. Perbuatan sebaik apapun itu, tetap dinyinyirin, apalagi perbuatan buruk tentu saja lebih penuh nyinyirannya. Hidup di zaman now itu serba salah, sedikit berbeda dari lingkungan sekitarnya dinyinyirin dan langsung di bilang aneh, padahal bisa saja yang dilakukan adalah inovasi baru, namun sayang beribu sayang banyak orang yang mundur akibat tidak kuat menghadapi nyinyiran.

Capek memang kalau mengikuti nyinyiran orang sekitar, karena nyinyiran itu tidak akan habis-habisnya, sampai akhir hayat pun kita masih dinyinyirin. Tapi ingatlah hidup itu tidak hanya memikirkan nyinyiran saja, karena masih banyak hal yang perlu dipikirin. Anggap saja nyinyiran itu seperti lagu yang enak didengar kapan pun, dan tanpa takut lagi baper, apalagi pusing!

4. Tutup spion masa lalumu, dan buka jendela masa depanmu sekarang juga!

Fokus ke depan, bung!

Fokus ke depan, bung! via http://www.google.co.id

Trauma dan kegagalan adalah salah satu momen yang tentu saja tidak mengenakan untuk dikenang. Sakit hati, kecewa, dan marah menjadi satu kesatuan yang pasti terangkai di hati selama mengiringi rasa trauma dan kegagalan yang dirasakan.

Tidak dapat dipungkiri jika masa lalu yang penuh dengan trauma dan kegagalan memang selalu membayangi pikiran sampai kapan pun itu. Tapi sekali lagi, kita tidak boleh berhenti hanya karena pernah trauma atau gagal, melainkan kita harus bangkit dan membuka selebar-lebarnya masa depan yang tentu saja diharapkan lebih indah daripada masa lalu.

5. Diterima atau ditolak itu urusan belakang, yang terpenting adalah lakukan yang terbaik dan optimis!

Yes, you can do it

Yes, you can do it via http://www.google.id

Lagi suka sama perempuan atau laki-laki? Atau lagi buat skripsi? Atau lagi buat proposal penelitian? Tapi taunya malah ditolak? Sedih bukan main kan? Kesel sudah pasti. Namun, apakah dengan itu kita langsung menyerah? Tidak, bukan?

Segera lawan hatimu, lawan malasmu, dan lawan segala rintangan yang ada selama ini, yakinkan hatimu jika semua bisa diraih, mau itu dalam kondisi yang enak atau tidak enak, maupun ditolak atau pun diterima. Yang terpenting adalah kerjakan dengan orisinalitas kita, do the best, dan tetap optimis.

6. Ikhtiar sudah, tapi jangan lupa sertakan doa juga ya!

Hidup tanpa doa, rasanya sayur asam tanpa garam

Hidup tanpa doa, rasanya sayur asam tanpa garam via http://www.google.com

Sehebat-hebatnya kita memerdekakan diri, tentu saja di balik itu semua dilakukan dengan penuh tekad dan usaha yang tidak habis-habisnya diperjuangkan. Namun pernahkah sobat Hipwee sejenak meredam hati? Apakah hanya tekad dan usaha saja yang berhasil mengantarkan seseorang dalam keberhasilannya? atau masih ada lainnya? Ya, pasti ada juga lainnya.

Kira-kira apa itu ya? Tentu saja doa. Doa adalah teman paling setia di kala kita sedang berusaha memerdekakan diri dari gangguan sekitar. Tanpa doa, kita tidak mungkin dapat bimbingan mana yang baik dan mana yang buruk untuk hidup kita.

So, jangan menyepelekan doa di setiap langkahmu untuk meraih kemerdekaan yang sejati. Pahlawan kita dulu saja berjuang juga disertai dengan doa, masak kamu kalah sama pahlawan yang sudah mati-matian memerdekakan Indonesia ini?

Ingatlah penjajah zaman sekarang bukan lagi berbentuk manusia saja, melainkan ego kita sendirilah yang menjadi perlawanan kita sekarang. Jangan pernah menyalahkan orang lain, namun kita sendirilah yang harus disalahkan dan berani untuk survive setelahnya! Semangat berjuang para pahlawan millenial.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya