Pentingnya Menjalani Komunikasi dalam Keluarga

Menjalin hubungan yang baik dalam keluarga, dimulai dengan menjalin komunikasi yang baik.

Kurangnya komunikasi secara intensif didalam keluarga akan menyebabkan terjadinya disfungsi komunikasi, baik antar orangtua dan anak maupun ayah dan ibu.  Komunikasi yang baik antar anggota keluarga akan menciptakan suasana rumah tangga menjadi positif sehingga anak akan merasa betah dan nyaman dirumah. Kurangnya komunikasi didalam keluarga akan membuat rumah tangga menjadi rentan, sehingga menjadi kurang harmonis, suasana di rumah pun tidak nyaman, kebersamaan antar keluarga akan sulit terjadi, dan anak akan merasa tidak senang didalam rumah. Karena itu, komunikasi dalam keluarga sangat penting, misalnya mau saling memahami dari sudut pandang masing-masing, mau saling mendengarkan, dan mau saling menerima perbedaan satu sama lain.

ADVERTISEMENT

1. Komunikasi Interpersonal Diadik

Foto oleh August de Richelieu dari Pexels

Foto oleh August de Richelieu dari Pexels via https://www.pexels.com

Di dalam komunikasi interpersonal diadik, salah satu pihak akan berusaha menyesuaikan perasaannya terhadap pihak kedua. Adanya ketidaksesuaian dalam berpendapat antar pihak merupakan salah satu kekuatan yang dapat mengarah kepada perubahan. Jika dua orang (orangtua dan anak) saling memandang secara positif mengenai gagasan atau objek tertentu, maka hubungannya akan baik atau seimbang. Jika orangtua dan anak saling memandang secara negatif mengenai gagasan atau objek tertentu, maka akan terjadi sikap acuh tak acuh, apatis, bahkan menentang dan memberontak.

ADVERTISEMENT

2. Model komunikasi di dalam keluarga

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels via https://www.pexels.com

Komunikasi interpersonal dalam keluarga, biasanya harus dilakukan secara diadik atau kelompok kecil. Tidak selamanya proses komunikasi interpersonal didalam keluarga terealisasi sesuai dengan harapan anggota keluarga. Komunikasi antara orangtua dan anak (remaja), secara timbal balik didalam keluarga dimungkinkan menggunakan model yang berbeda-beda, yaitu model secara demokratis atau model komunikasi otoriter.

Model komunikasi otoriter (interpersonal diadik) terjadi  jika salah satu pihak memonopoli pembicaraan. Komunikasi interpersonal yaitu komunikasi yang terjadi antara dua orang individu atau lebih secara langsung, seperti antara anak dan orangtua atau ibu dan ayah. Komunikasi interpersonal diadik ini dapat terjadi secara tatap muka, telepon, sms, telegram, atau surat.   

Model komunikasi secara demokratis dapat disebut sebagai pendekatan komunikasi kecil  yang memungkinkan adanya keterlibatan dari pihak lain didalam keluarga. Komunikasi kelompok kecil ini anggotanya berkisaran empat orang atau lebih dalam jumlah komunitas yang terbatas. Misalnya pertemuan antara keluarga inti dan anak yang menghadirkan ibu dan ayah, atau mengikutsertakan kakek dan nenek atau mungkin menghadirkan pihak lain dalam keluarga, atau orang terdekat yang terkait dengan persoalan yang dihadapi.

ADVERTISEMENT

3. Lima Kualitas Umum Pendekatan Humanistis Antar Pribadi

Foto oleh Vlada Karpovich dari Pexels

Foto oleh Vlada Karpovich dari Pexels via https://www.pexels.com

Didalam sebuah hubungan keluarga, dibutuhkan lima kualitas umum dari pendekatan humanistis antar pribadi yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

1. Keterbukaan. 
Keterbukaan dalam keuarga dapat dimulai dengan saling bertanya atau menegur. Jika anak berinisiatif untuk bertanya atau menegur tentang permasalahan yang sedang dihadapinya, maka mereka harus mempersiapkan diri agar memiliiki pendapat atau pandangan sendiri untuk mengatasi masalahnya tersebut. Ibu atau ayah dapat memberikan pandangannya terlebih dahulu ketika merespon pertanyaan anaknya.

2. Empati. 
Anak akan menanggapi dengan sangat positif jika ibu atau ayahnya menegur atau menanyakan mereka dengan tidak bersifat menekan atau memaksa. Anak lebih suka jika mereka yang terlebih dahulu menyampaikan persoalan atau aktivitas yang sedang dihadapinya kepada ibu atau ayah dengan harapan orangtua akan memenuhi keinginan atau kebutuhan mereka.

3. Sikap saling mendukung. 
Saling mendukung satu sama lain dalam kegiatan apapun itu dapat mempererat suatu hubungan.

4. Sikap positif. 
Anak akan menanggapi positif jika orangtuanya menanam kepercayaan kepada mereka. Hal tersebut akan membuat anak mendapatkan energi positif didalam keluarga sehingga orangtua dan anak akan semakin harmonis karena sering berkomunikasi.

5. Kesetaraan. 
Anak akan menganggap sangat baik jika orangtuanya dapat menghargai pendapat mereka ataupun sebaliknya. Saling menganggap diri sendiri atau orangtua penting didalam hubungan keluarga, tidak membeda-bedakan satu sama lain, dan saling menyayangi satu sama lain.
 

ADVERTISEMENT

4. Tiga Komponen Pembentukan Sikap Anak

Foto oleh Max Vakhtbovych dari Pexels

Foto oleh Max Vakhtbovych dari Pexels via https://www.pexels.com

Proses dari komunikasi interpersonal dapat menimbulkan efek pada pembentukan sikap anak remaja yang dapat mencakup tiga komponen yang saling menunjang, yaitu :

1. Komponen kognitif, merupakan kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu terhadap sesuatu yang dapat disamakan penanganannya (opini) terutama yang menyangkut tentang masalah isu atau masalah yang kontroversial.

2. Komponen afektif, merupakan perasaan yang dapat menyangkut kepada aspek emosional. Aspek ini merupakan aspek yang paling bertahan dalam pengaruh-pengaruh yang mungkin dapat mengubah sikap.

3. Komponen konoatif, merupakan aspek yang cenderung berperilaku secara tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Kecenderungan bertindak atau bereaksi terhadap sesauatu dengan cara-cara tertentu yang berkaitan dengan objek yang sedang dihadapi.

Tindakan ini dapat berupa menyeimbangkan situasi, bahwa antara objek yang dilihat dapat sesuai dengan pengelihatannya, di mana unsur nilai dan norma didalam dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional. Jika dalam situasi ini tidak tercapai, maka individu akan menolak dan reaksi yang timbul adalah apatis, menentang sampai memberontak atau acuh tak acuh.

ADVERTISEMENT

5. Teknisi-Teknisi yang Tepat untuk Konseling Keluarga

Foto oleh Elly Fairytale dari Pexels

Foto oleh Elly Fairytale dari Pexels via https://www.pexels.com

Albert Ellis (1982) dan Willis (2013) menjelaskan teknisi-teknisi yang bersifat emotif, kognitif, dan behavioral yang tepat untuk konseling keluarga adalah

1. Teknik emotif, yaitu orangtua yang menunjukkan kepada anggota keluarganya bahwa perasaan mereka adalah hasil dari pemikiran mereka. Menurut Maultsby, orangtua harus bisa membuang perasaan keyakinannya untuk benar sendiri. Perasaan-perasaan jelek seperti perasaan keputus asaan, kemarahan, kengerian, yang harus digantikan dengan perasaan sabar, optimis, dan tenang.

2. Teknik kognitif dapat dilakukan dengan cara menggali gangguan emosi dan perilaku yang luas. Gangguan yang disebabkan oleh persepsi dan interpretasinya  terhadap situasi yang dialami keluarga. Perbaiki reaksi negative orangtua dengan reaksi yang positif dan manis yang membangun dengan cara berdiskusi dengan anak.

3. Teknik behavioral, yaitu orang tua yang mengusahakan anggota keluarganya agar melakukan pekerjaan/tugas rumah.

Teknik kognitif pada dasarnya berupa persepsi atau pemikiran anak (remaja), hingga dapat memberikan interpretasinya pada sesuatu hal. Proses kognitif ini dapat mengarah kepada pembentukan sikap emotif, yaitu perasaan seorang remaja didalam keluarga seperti merasa tenang atau sebaliknya yang dapat dibentuk oleh kondisi orangtua yang tenang, opimis, dan sabar atau mungkin sebaliknya. Sedangkan Teknik behavioral, yaitu pendekatan orangtua terhadap anaknya dapat mengarah kepada tindakan anak yang dapat menjadi kreatif atau mungkin sebaliknya, antara lain dengan cara orangtua yang memberikan tanggung jawab kepada anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang sebagai bagian dari kepedulian terhadap keluarga.

Referensi : 
Sukarelawati. (2019). Komunikasi Interpersonal Membentuk Sikap Remaja. Bogor: IPB Press Printing.
Wood, J. T. (2018). Komunikasi Interpersonal Interaksi Keseharian . Jakarta: Salemba Humanika.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini