Ketika Seseorang Menceritakan Masalahnya, Perhatikan 6 Hal Ini untuk Menjadi Pendengar yang Baik

Menjadi pendengar yang baik di kala kondisi yang buruk

Semua orang bisa bercerita kepada seseorang yang terdekat atau umumnya kenal secara dekat. Mulai dari topik kebahagiaan, sharing, hal privasi, keseruan, mengisi waktu luang hingga yang paling spesifik ialah dalam menceritakan masalah. 

Bercerita tentang masalah memang hanya kepada orang yang terdekat secara emosional. Namun memang kebanyakan tak semua orang yang dekat dan mengenal belum pasti bisa menjadi pendengar yang baik. Karena memang kepedulian seseorang dalam hubungan sosial yang dekat bukan hanya saling berbagi dan berteman dalam melengkapi keceriaan saja. 

Satu orang dan orang lainnya kadang harus solid atau memperlihatkan kekompakan ketika satu orang berada dalam masalah. Apakah ia akan bisa menguatkan dan membantunya ketika seseorang itu berada dalam masalah? atau bahkan tidak? karena dalam berbagi cerita tidak hanya pada saat momen bahagia. Sikap kepedulian, cuek, apatis atau bahkan cenderung menghindar akan terlihat. Karena memang yang asyik bercerita di kala bahagia belum tentu bisa menjadi pendengar yang baik di kala kesedihan melanda.

Menjadi lawan bicara yang ‘asyik’  di kala teman dilanda kesedihan itu tidaklah sulit. Karena yang terpenting adalah membaca suasana dan memperhatikan waktu. Dalam menjadi lawan bicara orang yang sedang bercerita tentang masalahnya, seharusnya perhatikan hal ini agar tepat dalam menanggapi cerita satu sama lain.

Advertisement

1. Jangan ucapkan Masih mending, Coba Kalo Aku

Photo by Canva Studio from Pexels

Photo by Canva Studio from Pexels via https://www.pexels.com

Kata-kata ini memang menjadi musuh bagi siapapun yang sedang bercerita. Jika seseorang sudah bercerita kepada orang yang Ia percayai namun orang tersebut hanya membalas “Masih mending, lah Gue” seperti itu apa yang dirasakan? tentu kesal bukan? setiap orang yang mengucapkan kalimat tersebut jelas bukanlah pendengar yang baik.

Karena memang tidak menghargai cerita lawan bicara dan malah menanggapi masalah lawan bicaranya sebagai masalah yang enteng dibandingkan masalah yang Ia punya. Padahal setiap orang punya ukuran masalah yang berbeda-beda.

Advertisement

2. Jangan Menyuruhnya Sabar Berulang-ulang

Photo by Cliff Booth from Pexels

Photo by Cliff Booth from Pexels via https://www.pexels.com

Menyuruh seseorang untuk bersabar dan menerima itu memang tak buruk, namun ada kalanya kalimat ini jangan diletakkan di awal pembicaraan maupun diucapkan berulang-ulang. Karena pada dasarnya seseorang yang sedang berkeluh kesah hanya ingin ditenangkan oleh lawan bicaranya.

Seseorang tersebut juga berharap solusi, saran ataupun ucapan-ucapan yang lebih berbobot dari lawan bicaranya ketimbang menyuruhnya bersabar berulang-ulang.

Karena setiap orang memang sudah mengerti membutuhkan kesabaran setelah sesuatu terjadi dan kata-kata itu hanya perlu diletakkan di akhir pembicaraan bukannya diucapkan berulang-ulang.

3. Jangan Banyak Bertanya Saat Ia Menumpahkan Keluh Kesah

Photo by August de Richelieu from Pexels

Photo by August de Richelieu from Pexels via https://www.pexels.com

Jika seseorang sedang berkeluh kesah dan menumpahkan cerita yang menjadi masalahnya, hindarilah banyak bertanya dahulu terutama untuk setiap yang tak penting! Bisa bayangkan betapa rumitnya seseorang yang sedang dilanda kesedihan bercampur rasa kesal dan capek ketika ia harus mendapat banyak pertanyaan dan menjawabnya. Ia seharusnya mendapatkan penyelesaian dan ketenangan dari teman ceritanya namun nyatanya lawan bicaranya malah menghujaninya dengan banyak pertanyaan. 

Ketika seseorang sedang kesedihannya, jangan banyak bertanya tentang hal-hal yang tak penting. Ia hanya ingin ditenangkan, bukan banyak ditanya. Dengan banyak bertanya juga akan menimbulkan Ia terus mengingat-ingat masalahnya. Bertanya lah di lain waktu.

4. Berikan Saran dan Solusi Walau Kecil Sekalipun

Photo by August de Richelieu from Pexels

Photo by August de Richelieu from Pexels via https://www.pexels.com

Rasa kepedulian melalui saran atau solusi terkecil pun setidaknya berarti bagi seseorang yang membutuhkannya. Seseorang yang sedang membutuhkan kepedulian pastinya akan berterima kasih dan tidak akan mempertimbangkan besar atau kecil rasa kepedulian kita. Sebab yang terpenting adalah tidak menambah masalahnya, tidak memberikan kehampaan dan yang terpenting adalah kepedulian yang tak terhitung harganya.

5. Lakukan Kontak Fisik Sewajarnya

Photo by Trinity Kubassek from Pexels

Photo by Trinity Kubassek from Pexels via https://www.pexels.com

Kontak fisik merupakan bentuk ekspresi emosional dan bentuk kepedulian dalam jarak dekat. Ketika seseorang yang sedang dalam masalah butuh bantuan atau teman bercerita, cobalah memegang tangannya, merangkulnya, mengelus badan belakangnya, membetulkan rambutnya atau bahkan menghapus air matanya. Karena setidaknya hal-hal tersebut menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah bentuk tindakan nyata selain saran untuk menenangkan suasana dalam bercerita dan merasakan.

6. Jangan Ucapkan Mau Bantu Tapi Sayang Nggak bisa

Photo by Polina Zimmerman from Pexels

Photo by Polina Zimmerman from Pexels via https://www.pexels.com

Jika tak bisa membantu tidak apa-apa. Asalkan jangan seakan-akan memberikan harapan untuk membantu tapi nyatanya diakhir kalimat tidak bisa. Jangan memainkan perasaan seseorang yang sedang bersedih dan banyak masalah.

Jika tidak bisa jujurlah saja dan usahakan yang lain. Selain itu, jangan membuat seakan-akan dirimu tak berguna alias tidak bisa diharapkan walaupun ia tidak harus dibantu namun setidaknya buatlah hatinya tenang dahulu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Bukan Penulis Tapi Si Kritis

CLOSE