Pertanyaan ‘kapan…?’ mungkin terdengar sepele bagi yang menanyakannya. Namun kebanyakan, pertanyaan yang dijadikan basa basi oleh masyarakat Indonesia ini tanpa sengaja telah melukai banyak orang. Memang benar sekali masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahannya, sampai-sampai terkadang karena terlalu ramah sampai mengusik kehidupan pribadi seseorang. Contoh kecilnya ya seperti ini, pertanyaan-pertanyaan ‘kapan…?’ yang mampu merubah suasana hati secara seketika. Pertanyaan ‘kapan…?’ apa saja ya yang mampu membuat banyak orang merasa terjajah dan terintimidasi, yuk simak berikut ini daftarnya.

1. Kapan Lulus?

sudah berjuang mati-matian e.. masih ditambah pertanyaan jahat via http://mojok.co

Bagi mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan ‘kapan lulus?’ merupakan salah satu momok yang sangat menakutkan. Pertanyaan keramat yang hampir selalu dilontarkan ketika bertemu dengan saudara ataupun temannya yang sedang berjuang melawan skripsi. Sebaiknya, stop pertanyaan ‘kapan lulus?’ dan ganti dengan doa ataupun kata-kata lainnya yang memotivasi dan memberikan dampak positif. Dengan bertanya kapan lulus, tanpa sadar kita telah mengintimidasi orang yang ditanya. Jadi, bijaksanalah ya, jika sudah waktunya lulus pasti akan lulus kok, jangan menambah beban mental ya?

2. Kapan Nikah?

nah, pertanyaan ini sangat ‘haram’ sekali dilontarkan via http://img.duniaku.net

Bagi semua orang yang belum menikah, pertanyaan ini adalah senjata pelumpuh yang sangat ganas. Mulai dari ekspresi cuek, konyol, dan menjawab seadanya akan digunakan untuk menjawab pertanyaan satu ini. Banyak orang yang merasa malas dan sebal ketika ditanya tentang pertanyaan ‘kapan nikah?’. Meskipun banyak orang tidak suka dengan pertanyaan ini, sayangnya entah ini warisan dari siapa seakan sudah mendarah daging dan terus-menerus ditanyakan walau menyakitkan. Jika dahulu pernah sakit karena pertanyaan ‘kapan nikah?’ ini, kenapa diteruskan bertanya?

3. Kapan Punya Anak?

Advertisement

semua pasangan menginginkan buah hati, tak perlu repot mengurusi via http://media.suara.com

Bagi mereka yang telah lulus dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’ ternyata masih harus melewati tahapan selanjutnya yaitu ‘kapan punya anak?’. Sudah membully secara verbal dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’ sebelumnya sekarang masih belum puas? Ternyata hidup di Indonesia sangat perlu sekali toleransi dan jiwa yang tegar ya. Apa tidak ada pertanyaan lainnya untuk mereka yang baru saja menikah selain pertanyaan ‘kapan punya anak?’. Jika kita mau sedikit kreatif dan tidak meniru-niru, banyak kok pertanyaan yang tidak menyakitkan. Contohnya saja bagaimana perasaanya setelah menikah atau hal yang lainnya. Tak harus dengan pertanyaan yang menyakitkan bukan?

4. Kapan Anaknya Diberi Adik?

masih ingin menikmati satu anak, jangan usik dengan pertanyaan kapan punya adik via https://3.bp.blogspot.com

Sudah punya anak satu tapi orang-orang masih saja bertanya kapan. Apa satu anak kurang cukup sampai-sampai banyak orang bertanya ‘kapan anaknya diberi adik?’. Kehidupan rumah tangga sudah memiliki banyak masalah yang sangat rumit, kenapa kita melontarkan pertanyaan yang membuatnya makin sakit? Banyak pertimbangan kenapa keluarga tidak terburu-buru memutuskan untk memiliki momongan baru. Sudahlah, kita jangan banyak mengurusi urusan orang lain. Yuk fokus dengan urusan masing-masing. Bukan menyarankan untuk menjadi acuh, tetapi kita setidaknya memposisikan diri sesuai dengan porsinya.

5. Stop Pertanyaan Kapan!

Stooooppp hentikan pertanyaan menyakitkan itu! via http://www.kedizone.com

Meskipun sangat kepo sekali, jangan melontarkan pertanyaan yang akan membuat lawan bicara jadi sakit hati. Tidak hanya pertanyaan kapan saja sebenarnya basa-basi yang membuat telinga serasa teriris. Ada banyak pertanyaan dan pernyataan yang perlu untuk dihindari selain pertanyaaan kapan. Contohnya saja ‘kok tambah gemuk ya?, ‘kok tidak pakai hijab ya?’. Sudahlah yuk jangan usik ketentraman dan kedamaian orang lain.

Masih banyak sekali pertanyaan ‘kapan…?’ lainnya yang bisa membuat orang merasa terjajah dan tertekan. Mari ciptakan #Merdekamu dengan tidak menanyakan hal-hal yang bisa menyakiti orang lain. Menjadi pribadi yang ramah sangat bagus sekali. Tapi lebih bagus lagi menjadi ramah tanpa menyakiti siapapun juga. Yuk hentikan memiliki budaya basa-basi yang membuat lawan bicaranya merasa tersakiti.