#RamadandiPerantauan: Sebuah Usaha Mencoba Bahagia di Tengah Ujian Bernama Corona

mencoba bahagia di tengah corona

Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba

Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan

Ramadhan tiba
Ramadhan tiba
Ramadhan tiba

Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan

Selamat datang bulan Ramadhan bulan suci penuh ampunan. Seperti lagu Opik Ramadhan Tiba yang mulai wara wiri TV. Iklan minuman khas Ramadhanpun mulai nongol di TV. Tandanya mudik sebentar lagi. Berkumpul dengan orang-orang tersayang sebentar lagi. Sungguh saat yang paling ditunggu, tapi Ramadhan kali ini berbeda.

Terlampaui spesial untuk diungkapkan. Terlalu menyesakkan untuk dibayangkan. Tentunya rindu ini menyiksa batin. Rindu bertemu orang-orang tersayang ayah, ibu, adik, kakek, nenek dan tentunya tetangga. Semua itu harus ditahan dulu semua berkat corona. 

Di tenggah kota rantau, menggapai mimpi-mimpi agar suatu saat nanti dapat membawa kenyataan terwujud. Tentunya momen lebaran menjadi momen meluapkan rindu.

Nyatanya tahun ini mudik dilarang semua itu demi sebuah kebaikan. Walaupun kenyataan demikian, jauh dari orang-orang tersayang di saat bulan Ramadhan itu berat. Sedih itu pasti manusia biasa. Layaknya hidup terus berlanjut. Kesedihan itu tak patut untuk berlarut-larut. Mencoba mencari cara untuk bahagia ditengah ujian bernama corona. Semoga apa yang kulakukan benar-benar membuat diri bahagia.

Advertisement

1. Mencoba bahagia perlu bukan hanya meningkatkan imun tubuh. Tapi agar beban akan kerinduan menjadi lebih mudah

Photo by Hassan OUAJBIR from Pexels

Photo by Hassan OUAJBIR from Pexels via https://www.pexels.com

Mencoba bahagia adalah penting untuk meningkatkan imun tubuh. Siapapun bisa melakukannya. Diawali dengan senyum dan berpikiran positif. Melakukan hal seperti itu sangat penting ditengah pandemi yang berakhirnya masih tanda tanya. Menyedihkan memang namun bertahan ditengah perantauan demi orang tersayang bukan pilihan mudah. Untuk itu mencoba-coba cara untuk bahagia memang patut dilakukan.

2. Dan akhirnya harus sadar untuk lebih paham arti dari sabar

Sadar dan sabar

Sadar dan sabar via https://www.pexels.com

Ayah, ibu aku ingin sungkem layaknya lebaran tahun lalu. Menangis sesegukan meminta akan dosaku padamu kalian maafkan. Tentunya untuk aku yang belum mampu membahagiakan kalian.

Advertisement

Nyatanya tahun ini tradisi ini harus ditahan dulu. Sabar diantara kesepian yang mulai menyiksa. Sabar diantara cobaan yang dicoba untuk selalu bahagia. Sabar menjadi obat penguat ketika rindu ini sudah tak tertahan

3. Saatnya kaum jomblo lebaran kali ini merdeka, pertanyaan kapan menikah sepertinya tak akan terdengar.

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Mungkin iya sih, untuk diriku maupun kamu kaum jomblo. Entah dimanapun keberadaanmu saat ini cobalah untuk bahagia karena tahun ini. Pertanyaan dimana pasanganmu? Kapan menikah? Mungkin tak akan terdengar. Sungguh tahun ini menjadi pembeda kamu tak perlu repot-repot menjawab pertanyaan semacam itu yang kamu sendiri belum tahu apa jawabannya.

Walaupun mungkin tahun ini benar-benar membuat jengah. Setidaknya memikirkan hal baik bahwa pertanyaan itu tidak dilontarkan ayah bunda dan tetangga tentang kapan menikah menjadi salah satu kabar baik.

Advertisement

4. Dalam setiap perjalanan kehidupan, hidup ditengah perantauan memang membuat tegar walaupun kenyataannya tak selalu demikian

Photo by Pixabay from Pexels

Photo by Pixabay from Pexels via https://www.pexels.com

Ditengah kota perantauan itu, kampung halaman adalah yang paling dirindukan. Menghitung hari dan selalu berharap akan pulang. Biasanya momen lebaran adalah yang ditunggu karena diusahakan untuk pulang.

Walau sudah terbiasa tegar hidup di perantauan. Mencoba selalu mengatakan baik-baik saja. Kenyataannya sedih akan kerinduan tak mampu terbendung apalagi di momen lebaran. Menangis sesekali untuk meluapkan semua itu tak ada salahnya bukan.

5. Berpasrah pada Sang Kuasa menjadi satu-satunya jalan untuk meluapkan keluh kesah dan segala macam doa

Photo by Kha Ruxury feom Pexels

Photo by Kha Ruxury feom Pexels via https://www.pexels.com

Dan pada akhirnya kita dipaksa untuk sadar. Bahwa kehidupan itu hanya sementara. Ketika rasanya bumi seakan sudah tak mau lagi manusia-manusia penuh dosa hidup. Semua itu menjadikan manusia biasa untuk selalu belajar  bahwa hanya pada Tuhanlah untuk berpasrah diri dan meminta ampunan.

Jarak kita memang jauh ayah ibu dan semua yang aku sayangi tapi percayalah aku akan selalu mendoakanmu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

une femme libre

CLOSE