Dari kecil saya sudah dijejelin cerita-cerita orang tua semasa SMA. Pengalamannya lucu-lucu dan bikin gak sabar untuk cepat-cepat bias ngerasain hal seperti itu. Hingga akhirnya sekarang udah selesai jadi anak SMA dan pengalaman yang saya rasa seseru apa yang dikisahkan kedua orangtua saya bisa dihitung jari.

1. Saya gak punya pacar

Di saat temen-temen saya setiap istirahat diapelin sama pacarnya, atau pergi ke kelas lain untuk ngapelin pacarnya saya setia sendirian ngapelin hati yang kesepian. Alhamdulillah, saya semandiri itu dalam urusan hati. Tapi gak bisa dipungkiri juga terkadang ada butir-butir keirian dan keinginan untuk diperlakukan seperti itu. Ya gak harus tiap makan disuapin sih, itu mah geli.

2. Saya gak pernah ikut tawuran

Di saat temen-temen (gak temen juga sih karena saya gak kenal tapi satu sekolah) rame ngebahas masalah kemarin dan segala kehebohannya, saya cuma ngangguk-ngangguk. Ya mereka ngomongin segala macem alat-alatnya terus strategi-strategi mereka.

3. Saya bukan yang sering nongol di sosmed kalau ada foto angkatan

Advertisement

Disaat orang-orang berebut posisi paling depan dan paling strategis untuk keliatan, saya bakal cari tempat di pinggir dan berusaha untuk gak ikutan foto karena saya adalah orang yang sangat amat sungguh canggung. Sekali dua kali mencoba kabur tapi ketauan dan siruruh “Eh itu kok pergi.”. Iya, nama saya di kalangan orang lain adalah Eh dan Itu.

4. Saya bukan anak OSIS.

Sebagai murid tentu rasanya pake jaket OSIS adalah hal yang paling di idam-idamkan orang banyak. Seakan-akan jaket OSIS akan memberikan efek kehormatan instan padahal terkadang yang pake jaket OSIS gak sebijaksana yang diharapkan dan diduga orang-orang.

5. Saya pernah merasa lebih bahagia sebelumnya

Bagi saya masa SMP adalah masa gue paling bahagia dan paling merasa berjaya baik jiwa maupun hati. Jadi pas udah tau bahwa SMP seasik dan seseru itu, saya terlanjur memiliki ekspektasi yang tinggi mengenai semua dan segala macam keseruan dan keasyikan masa SMA yang udah pernah saya denger dari orang-orang. Jadi begitu ekspektasi saya gak sesuai dengan apa yang saya alami, ya begitu.

Kalau dibilang saya anti SMA, itu bukan label yang tepat. Saya gak anti sama SMA, tapi saya merasa bahwa di sana bukan rumah saya. Dan berteman dengan teman sekelas, teman seangkatan menjadi suatu basa-basi bagi saya. Tapi tetap saya punya lingkaran kecil yang menyamankan saya. Lagipula kalau dibilang suram, masa SMA gak sesuram yang saya jelaskan. Cuma terkadang orang terlalu fokus dengan satu sisi dan memandang sebelah mata.

Yang namanya komunitas atau perkumpulan pasti terdiri atas banyak orang yang heterogen. Orang-orang yang tanpa berusaha udah dilirik lah, orang yang harus berusaha keras untuk dilirik lah, orang yang ambisiuslah, orang yang pasrahlah, orang yang mudah mencintai orang lain lah, orang yang sulit mencintai orang lain lah, dan berbagai macam orang lainnya. Di sini saya hanya bercerita mengenai sisi yang tidak orang lain pilih untuk ceritakan.

Saya bahagia selama SMA karena saya mampu bertahan dibawah bayang-bayang dan kisah-kisah yang terdengar namun tidak pernah saya rasakan. Terima kasih.

Sebuah penutup klasik dari saya,

See you on top!