1. Sebatas pengagum yang hanya melihat parasmu dari kejauhan.

sebatas pengagum

sebatas pengagum via http://videohdtv.co

Tahukah bahwa setiap detikmu aku ada untuk mengintaimu. Bagai Sang raja hutan yang mengincar buruannya. Yaa meski tak seseram itu. Namun aku mengikuti hari harimu.

Entah mulai kapan pikiran ini terus menyesak di pembuluh otak. Ingin saja rasanya sejantan yang lain, memberimu senyum nakal khas lelaki yang dilanda asmara. Lagi –lagi bibir ini rasanya mulai kaku tak bernyawa. Gagap dan melontarkan kata sepatahpun.

2. Hai kakak tingkat, aku mengagumimu.

Dia satu tahun di atasku. Satu dari ratusan perawat yang menimba ilmu dan pengetahuan di Fakultas Ilmu Keperawatan. Sampai saat itu aku masih mengagumimu.

Bersikap sewajarnya adalah ciriku. Aku tahu banyak laki laki yang mendambakan nomor di telfonmu (maaf dulu BBM belum se-familiar sekarang). Aku hanya yakin suatu saat kau mendengarnya. Meski ku tahu, kapan itu tak pernah sejelas nilai ujian tiap semester.

Kadang tak jarang, mengorek teman seangkatan hanya untuk menuntaskan rasa penasaranku. Sungguh saat itu aku jadi manusia yang sangat tak bernyali. Meminta nomor telfon wanita via teman. Apa itu benar lelaki. Ah, aku tak peduli.

Sekian hari nomor itu hanya tersimpan tanpa nama di phonebook. Tak pernah berubah tempat sedikit pun. Sahabatku hanya tersenyum geram melihat ulahku. Entah apalagi yang ada di otakku. Aku tak memberanikan jari jari ini menulis pesan singkat dan mengirimnya. Semuanya terasa sia, ya sia-sia. Ah, masa bodoh yang terpenting aku masih mengaguminya.

3. Cerita ini ada dibatas angan

cerita di batas angan

cerita di batas angan via http://alhikmahdua.net

Ya apalagi yang ku harap darimu yang ku puja. Dalam diam ku hanya mampu berbisik harapan. Terselip doa juga padamu dari orang yang mengagumimu perlahan. Cerita ini hanya akan ada di batas angan. Karena sampai detik itupun aku tak mampu mengutarakan. Yah, cemen sekali anda. Memang iya. Sahabat terbaik juga selalu berkata :

“ Coba kau minta nomor telfonnya!”

Ah apa dayaku teman. Yang ada di phonebook handphone ku juga darimu. Aarrghh. Sialnya aku mengagumi tanpa dia tahu perasaan yang semakin menggebu. Sesak rasanya dada ingin memuntahkan segalanya. Agar dia tahu. Tapi buat apa. Buat apa dia tahu. Ah, sudahlah. Ku cukupkan untuk mengaguminya dalam diamku.

4. Cerita itu juga nantinya akan usang

nantinya juga akan usang

nantinya juga akan usang via https://pixabay.com

Yap, benar. Cerita itu juga akan perlahan usang. Dayaku melemah perlahan. Namun hati juga terkadang tak ingin lepas ingatan. Momen mengintaimu, menjadi rahasia dalam diri yang sangat indah untukku kenang. Lagi-lagi berharap.

Bukankah kau sudah mulai insaf. Sepekan berlalu dan terus berlalu. Rasanya tak kenal lagi sosokmu itu. Sudah ku lupakan memorial senyum khas milikmu. Sudah aku lupakan. Logikaku mulai jalan aku harus melangkah lebih jantan. Sekarang akan jadi masa lalu. Dan hari esok aku harus mulai pergi. 

5. Masa hidup pengagum: Sekarang dan masa lalu.

sekarang dan masa lalu

sekarang dan masa lalu via http://1t4juwita.wordpress.com

Pengagum yang hanya bertaruh harap dan tak pernah memberanikan bertatap wajah lebih dulu, ya itu aku. Namun itulah masa lalu. Sepertinya tak perlu ku gali lagi lebih dalam, agar kelak aku tak menyesal. Hari telah berubah dan hari lalu akan sangat berbeda dengan sekarang.

Sejak saat pelepasan Toga angkatanmu. Aku tak tahu lagi ragamu berada. Aku juga tak ingin mencari kenangan masa silam, meskipun tak ku pungkiri itu belum hilang. Namun aku terus membuangnya pelan pelan. Karena takut suatu ketika berada pada jarak dan waktu yang salah. Hingga kelak aku menyesalinya. Aku ingin semua baik baik saja, seperti sediakala.

Dari Pengagum rahasiamu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya