Untukmu yang Sedang Berjuang, Kupeluk Rindu Sampai Saatnya Kamu Pulang

Kupeluk rindu sampai kamu pulang

Kepada jarak yang setia menemani, aku mencoba bersabar dan berbenah diri meskipun pada kenyataannya itu tidaklah mudah. Namun hidup harus tetap berjalan dan aku akan tetap bertahan.

1. Ketika aku tak bisa mengerti dirimu, apalah dayaku yang hanya bisa terdiam dan membisu

Photo by Tan Danh from Pexels

Photo by Tan Danh from Pexels via https://www.pexels.com

Advertisement

Hai, hati yang saat ini saling menggenggam.

Selamat menikmati setiap detik bersamamu yang kadang begitu mengasyikkan. Membalut waktu dengan kepingan canda dan gelak tawa yang memecah. Aku tau aku telah ada disana bersama-sama dengan hati yang juga menggenggamku, mengikatku hingga aku tak bisa sedetikpun bergerak bahkan untuk sekedar memalingkan wajah ketika tanpa sengaja perlakuanmu kepadaku berubah dingin tanpa sebab.

Ah rasanya aku cemburu ketika kadang kamu lebih mementingkan kesibukanmu dibanding menikmati waktu yang berputar untuk membersamaiku. Bukan maksud untuk tidak mengerti kesibukan itu, tapi aku hanya ingin kita lebih lama lagi mengakrabi rindu yang tak berujung.

Advertisement

Menjadi wanita yang sedang kamu perjuangkan bukanlah hal yang selalu membahagiakan. Kadang perasaan getir acap kali menyelimuti ketika tiba-tiba perlakuanmu berubah dingin dan diammu membeku terhadapku. Bahkan ketika dengan sengaja pula manjaku yang berlebihan sering kali membuatmu memanas. Namun tak jarang, lagi-lagi kamu harus siap memendam amarah. Kamu tau bukan? Aku hanyalah gadis cengeng yang tak pernah tahan dengan bentakan.

2. Tentang rindu itu, apakah kamu tahu? Seringnya aku cemburu

Photo by Min An from Pexels

Photo by Min An from Pexels via https://www.pexels.com

Untukmu laki-laki yang kini berjuang bersamaku. Jarak bukanlah perkara yang mudah untuk kita bertahan sampai detik ini.

Kamu tahu? Perasaan marah, cemburu, selalu saja menjadi cambuk yang tak pernah sedikitpun lepas untuk tak terus menghakimiku. Ya! Aku marah melihat mereka di luar sana yang tak pernah sedikitpun mau mengerti tentang sepinya berteman dengan jarak. Aku cemburu kepada mereka yang tak pernah sedikitpun mau menyapa dan mengenal  jarak. Sedangkan aku? Mungkinkah hanya aku, satu-satunya gadis yang harus mengakrabi rindu yang berjarak? Entahlah, aku cemburu!

3. Dan tahukah kamu? Hidup bersamamu adalah harapan yang kuselipkan di doaku

Photo by ws didin from Pexels

Photo by ws didin from Pexels via https://www.pexels.com

Hai laki-lakiku.

Menjadi bagian terpenting yang akan mengisi ruang hatimu adalah satu dari sekian banyak rincian impian yang kuselipkan beserta doa untuk hidup bersamamu, membangun kehidupan yang sakinah dengan lapisan dinding dan kekuatan yang disebut cinta sebagai tempat kita bersenandung, melintasi beribu bayangan hidup hingga membiarkan seluruh amarah serta gelisah berubah menjadi keharmonisan dan ketentraman yang tak berakhir. Ya, aku mau itu bukan hanya menjadi ekspektasi dan harapan kosong yang tak berealita.

Aku tahu itu bukanlah perkara yang mudah! Jelas saja kita masih khawatir dan terus menerka -nerka akan takdir yang bisa saja tak lagi bersahabat . Entahlah, yang pasti Tuhan lebih tahu dengan rencana –rencana-Nya yang indah. Dan tentang perasaan, yakinlah aku takkan pernah membiarkanmu terjatuh tanpa pelukku. Aku tak kan membiarkanmu meradang menunggu dan merindu tanpa dekapku.

4. Kepada pertemuan yang membahagiakan dan teruntuk perpisahan yang kuharap takkan pernah terjadi

Tentang pertemuan itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika nanti aku harus berpisah denganmu. Melupakan setiap kepingan kenangan yang berserakan. Kamu mungkin akan membiarkannya terlupakan begitu saja, tapi tenanglah, aku yang akan tetap bersusah payah memungut mengumpulkan setiap kepingan itu menjadi satu tempat dalam balutan rindu. Kamu juga tak perlu khawatir akan jejak-jejak lara yang nanti kamu lukiskan, aku akan tetap berusaha menghapusnya hingga kanvas yang kujaga tak ku biarkan lagi dengan mudahnya menghitam.

5. Tetaplah tinggal dan jangan pernah mencoba beranjak pergi

Photo by Chermiti Mohamed from Pexels

Photo by Chermiti Mohamed from Pexels via https://www.pexels.com

Hai lelaki hebatku.

Berselisih paham bukanlah hal pertama yang membuat hubungan kita meregang. Membuatmu geram dengan tingkahku juga bukanlah kali pertamanya kamu harus menelan sabar. Kamu mungkin lupa seberapa seringnya kita beradu argumen dan lagi-lagi kamulah lelakiku yang harus terus saja mengalah untukku.

Untukmu yang sedang berjuang.

Tetaplah menjadi laki-laki yang akan terus membersamaiku. Tetaplah menjadi akhirku, karena di setiap kamu lelah dengan semuanya. Aku hanya ingin menjadi satu satunya alasanmu tertidur tanpa pernah berharap lagi untuk bermimpi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

penikmat milk cookies yang tak lagi mengagumi senja.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE