Kamu suka main game? Pernah liat pacar ngegame di gadget sampe lupa kalo ada kamu disisinya? Pernah merasa cemburu gitu gak saat perhatianmu tak seampuh rayuan mbak mbak bawa pistol di Point Blank ? Hahaha.

Gamers. Ada yang suka ada juga yang bilang bahwa nge-game, hanyalah kerjaan asal asalan yang cuma buang waktu dan bermalas-malasan. Dipikir pikir, bagi yang masih awam nge-game, bermain games di gadget, pc, warnet pun tidak lekas selesai dengan satu atau dua jam saja. Belum lagi dengan uang yang harus dihabiskan untuk sewa warnet dan memenangkan game atau ngumpulin chip. Seems like gaming is wasting, isn’t it ? Tapi, walaupun gitu, kamu gak boleh suudzon, ya. Karena bagaimanapun, faktanya, gamers dan sekelumit orang yang menjalani kegiatan nge-game bukan sekedar orang yang cuma mengibur diri saja loh. Mereka gak membuang waktu kok. Mereka cuma menemukan dunia yang membuat mereka nyaman walau kadang dianggap gak ber-faedah. Tapi disini, Hipwee bakal ngasih kamu hal hal tertentu yang bikin kamu paham, dan gak memandang kegiatan gamers  sebagai kerjaan yang tidak bisa diandalkan.

1. Gamers gak salah kok. Mereka cuma punya hobi, dan digeluti.

G ada yang salah dari ‘mempunyai’ hobi. via http://www.makeuseof.com

Gak salah kok sama gamers. Teorinya berbanding lurus sama orang yang suka baca buku lalu sering baca buku. Orang yang suka renang maka per seminggu sekali renang. Orang yang suka main game ? Makanya dia nge game. Udah sih, sesederhana itu. Gak ada yang salah, kan?

Advertisement

Kadang rasa heran akan selalu datang untuk kamu yang masih gak ngerti benefit dan faedah dari mencetin stick dan mantengin layar berjam jam. Kalo aja belum bisa nerima nge game sebagai suatu kegiatan yang berguna, yaa, paling tidak, terimalah orang yang suka nge game sebagai orang yang punya hobi nge game. Sama seperti orang yang suka berdiam diri berjam jam, dibantuin begadang tiap malem hanya untuk mengkhatamkan membaca trilogi sebuah novel. Yaa, udah susah sih kalo sudah hobi ~ ~ ~ 😀

2. Teori usang yang perlu dibersihkan: Gamers bukan orang yang suka bermalas-malasan.

Pemalas, katanya. via http://jagatplay.com

Kalau dikatakan pemalas dalam artian dengan main games kita jadi lupa waktu, lupa kerjaan dan cenderung membuat segala urusan jadi tidak rumit. Itu benar. Tapi satu hal yang harus dilurusin adalah: kita tidak bisa memukul rata kegiatan ng-game menjadi kegiatan yang pantas dikasih judul 'kegiatannya pemalas'. Inti dari menghabiskan waktu untuk nge game cenderung tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang dilakukan orang yang suka naik gunung terus buang waktu, tenaga dan uang untuk sekedar berlelah-lelahan naik gunung. Sama hal nya dengan orang yang suka melukis terus dia pergi ke tempat tempat yang jauh dari rumah dan tentu saja tak murah hanya untuk menemukan inspirasi. Kalau point dari semua ini adalah menghabiskan waktu untuk hanya melakukan sesuatu, yang disuka, maka gaming bukanlah hal yang pantas dikategorikan sebagai kegiatan orang pemalas .

Lagipula, anggapan bahwa gamers adalah orang yang pemalas, sekali lagi, tidak bisa dipukul rata ke semua gamers adalah karena tidak semua gamers lantas mengabaikan semua kegiatannya hanya untuk duduk seharian mainan games. Sama seperti semua pejabat yang kayaknya terhormat tapi ada yang masuk penjara. Kita gak bisa nge judge kegiatan sesorang hanya berdasar pengamatan mata sahaja.

3. Teori usang yang perlu dibersihkan part II : Gamers bukan orang yang melakukan hal sia-sia.

Kita bukan pekerja berdasi ! via http://www.la-udza.net

Advertisement

Mungkin banyak orang diluar yang berpendapat bahwa gamers adalah orang orang yang melakukan pekerjaan yang sebenarnya, gak berfaedah. Dihitung ulang, gaming memang nampak seperti serangkaian kegiatan bermain tanpa tujuan dan keuntungan yang pasti.

Faktanya, hal itu salah.

Gamers memang bukan orang yang tiap hari berangkat pukul 7 dan pulang pukul 5 sore. Tak selalu memakai dasi dan setelan, pun tak bisa mendapatkan upah gaji setiap awal bulan. Walaupun begitu, gaming ini sendiri sebenarnya merupakan pekerjaan yang berpeluang menghasilkan banyak keuntungan. Anggap saja kamu main game Point Blank dan kamu jago main itu, dari main game yang satu ini, kamu bisa menjual Char atau ID PB kamu, kalau enggak kamu bisa menjual jasa menaikkan atau meng upgrade pangkat ID sesorang. -secara banyak orang yang gagal di level tertentu dan malas kalau harus mengulangi dari awal- 🙂

Kalau enggak itu, kamu juga bisa menjual chip, point atau item seperti yang terjadi di Texas Holdem Poker atau game lucu yang dinamai Perjuangan Semut! 😀 Kamu bisa kok menjual pencapaian atau tools yang kamu punya kepada mereka dengan mudah di chat room. Dan apakah hal seperti itu bisa dibilang sia sia ? Belum lagi kalau kamu ikut turnamen game yang biasa diadakan oleh pihak tertentu. Kamu bisa dapet uang dalam satu hari hanya dengan duduk main, mainin stick dan menang. Terakhir penulis nulis ini, ada sebuah turnamen Fifa Online 3 di suatu kota yang baru aja digelar dan ngasih hadiah Rp.500.000- untuk juara pertama-nya. Itu hanya sebuah event yang terjadi dalam 1 hari yang kalau kamu menang, kamu bisa dapet setengah juta untuk sebuah kerjaan yang banyak dianggap orang wasting time, itu.
Belum lagi kalau kamu punya ketertarikan untuk jadi bintang dan suka bergumul sama Youtube. Bisa banget deh kamu upload aksi kamu di game tertentu untuk sekedar have fun atau berbagi trik untuk pengguna Youtube yang mungkin gamers juga. Belakangan ini pun banyak chanel youtube yang mengunggah video permainan games dan dikomentari, komentar dengan isi yang 'cantik' tentunya. Anggap saja kamu punya nilai jual yang Ok dan video kamu banyak dikunjungi atau di subcribe, apakah masih bisa dibilang bahwa gamers dan sekelompok orang disekitarnya adalah orang orang yang menyia-nyiakan waktu dan sia-sia ?

Masalah sia sia atau bukan sebenarnya terletak pada manusianya sendiri sih. Rejeki itu tidak selalu berbanding lurus dari punya tidak-nya ijazah yang bisa ditawarkan, kan ? Selama ada niat dan ditekuni, pekerjaan yang tak pernah dinobatkan sebagai pekerjaan idaman, pun, bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang mungkin melebihi pekerjaan kantoran yang sering dibanding bandingkan atas nama kemapanan dan masa depan.

4. Untuk urusan Cinta, Gamers adalah sekelompok orang yang paling paham arti dari kata ‘memperjuangkan’ dan ‘mempertahankan’.

Tower aja dipertahanin, apalagi kamu ? 🙂 via https://sunulw.wordpress.com

Pernah main game Dota/ Dota 2 ? Suka gak ? Kalau suka, kamu pasti ngerti banget arti dari kata mempertahankan dan memperjaungkan. Bayangin, dalam Dota, yang namanya Tower 1 aja, yang njagain setengah mati dan setengah emosi, gimana njagain orang yang disayang ? Hehehe

Ini untuk sebuah perumpamaan aja sih. Gamers ini adalah orang yang -entah bagaimana- sudah kebal dengan kegagalan dan kekalahan, yang walaupun sering gagal, mereka tetep aja mau mencoba dan memperjuangkan. Maka mungkin aja untuk urusan orang yang disayang, mereka juga kan menerapkan cara yang sama. Mati-matian memperjuangkan dan sungguh-sungguh mau mempertahankan. *pembelaangamers

Dalam urusan cinta, bagian indah punya pacar seorang gamer adalah membuktikan bahwa kamu merupakan orang yang cukup setia, sabar dan tabah. Iya, cukup tabah untuk diduain sama games. Cukup tabah untuk nunggu sms balesan saat dianya lagi in game. Cukup tabah untuk enggak malam mingguan hanya karna pacar lagi ikut gaming jamaah sama temen se-markas. Untuk urusan kayak gitu gituan sih, kamu bisa dibilang pacar luar biasa pengertian ! 😀

5. Bilang kalau Gamers anti sosial dan kurang pergaulan ? Sini dek, kakak ajakin main !

Anti sosial ? Yakinnn…….. via http://www.gamexeon.com

Banyak stigma negatif yang menyatakan bahwa gamers adalah orang yang tidak membuka diri dan menghabiskan keseharian mereka hanya untuk main video games. Kenyataan sebenarnya sih gak seperti itu juga!

Gamers memang membuat seseorang fokus, dan itu gak selalu diartikan gak connect sama dunia luar. Bagi yang mungkin masih awam sama dunia games, sekarang ini banyak jenis games yang membutuhkan orang lain dalam artian berkelompok untuk bisa memenangkan suatu babak tertentu. Dengan berkelompok berarti menutup kemungkinan seseorang untuk main sendiri yang berarti pula, berinteraksi dengan orang lain. Dalam games strategi contohnya, games jenis ini selain membutukan banyak orang, pun juga mengharuskan pemainnya nggunai perasaan waktu main. Ada yang harus rela mati duluan, ada yang mampu kalah demi teman yang lainnya menang, ada juga yang harus mengorbankan diri sendiri demi kepentingan kelompok. Terdengar melow ? Iya! Penelitian juga membuktikan bahwa gamers lebih suka bermain dengan teman daripada bermain sendiri, which mean, gaming gak bisa dikatakan kegiatan menutup diri dari dunia luar.

Bagi yang suka berpendapat kayak gini, kamu mendingan nyoba dulu deh. Kamu bakal memahami apa yang selama ini kamu perbincangkan. Hahaha

6. Gamers juga manusia. Mohon dong, perlakukan kami sama. 🙂

tentang hati ! via http://www.hardcoregamer.com

Gamers ini kan manusia. Punya kesukaan: Main games. Pertanyaannya adalah kenapa dengan kesukaan main games direlasikan dengan hal hal negatif seperti pemalas, suka menghamburkan uang, ngelakuin hal yang sia sia, bikin anti sosial, pemicu kekerasan dan banyaaak hal jelek lainnya? Kita dan non-gamers sama saja kok. Sama sama punya sesuatu yang disukai, dan kita suka ngelakuin itu lagi dan lagi. Masalah efek yang ditimbukannya, adalah masalah pribadi yang akan terselesaikan berbanding lurus pada jalan dan kedewasaan seseorang. Kedewasaan ? Maksudnya yang suka main games itu kayak anak kecil, gitu? Bukan. Maksud kedewasaan disini adalah entah mereka sadar dan menyadari bahwa mereka sudah 'cukup' dengan dunia games atau kedewasaan yang berarti mereka memandang games sebagai sumber uang disamping sumber hiburan atau kedewasaan yang berarti mereka main games dengan bijak. Bijak karna mampu membuat main games tidak sekedar bermain tapi beresensi lebih seperti main games sama temen yang berniat mempererat friendship, main games untuk melepas lelah seharian bekerja, atau main games untuk rewind masa masa dimana dahulu pernah menjadi seseorang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencetin joystick dan layar monitor berjam-jam.

Gamers juga manusia. Kita cuma melakukan yang kita suka. Pahamin, ya? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya