Sebagai gadismu yang masih sama seperti dulu, banyak ungkapan yang hanya tersangkut di tenggorokan. Tak sanggup terucap. Bukan karena aku takut, tapi ketika kupanggil namamu pun suaraku sudah habis begetar menahan tangis yang dapat tumpah ketika aku ungkapkan segala yang kurasa. Untuk itu aku tulis surat ini.

1. Ayah Harus Tahu, Betapa Bangganya Aku Menjadi Gadismu.

proud of you via https://www.parenting.com

Ungkapan pertama yang tersendat ketika aku beranjak dewasa adalah "Ayah, aku bangga memilikimu dihidupku."

Ya, aku bangga. Terlebih aku adalah separuh dari hidupmu. Menjadi gadis yang paling beruntung, ketika Ayah rela melakukan apapun agar hatiku tetap terjaga utuh, tak boleh tergores walau separuh. Bahkan ketika kini umurku telah menginjak dua puluh.

2. Terkadang, Ketika Hidup Terasa Berat Dijalani. Kutemukan Ayah Ada Disisi.

Advertisement

Menjadi dewasa adalah sebuah kepastian, yang sering menjadi ketakutanmu adalah ketika gadismu tak kuat menahan beratnya beban kehidupan. Yang sudah jelas kamu rasakan jauh sebelum aku dilahirkan.

Ketika petang menjelang, ketika keluh kesah kukeluarkan. Ayah dengan sabar mendengarkan, memilih untuk berlama-lama memegang ponsel sambil memikirkan agar dapat mengelus rambutku perlahan berharap aku bisa menjadi sedikit lebih tenang. Meski kita terpisah jarak, aku tak pernah kehilangan sosokmu disisi terlebih ketika aku tengah merasa kesepian.

3. Tak Peduli Sejauh Apa Aku Berlari, Ayah Tetaplah Menjadi Tempat Ternyaman Untukku Kembali.

tempat ternyaman via https://www.honordads.org

Didalam sebuah hubungan tak selamanya berjalan mulus. Begitu pula dengan hubungan kita. Seringnya aku yang terlalu egois, merasa diri paling benar dan ayah selalu salah. Jika sudah begitu aku yang akan berlari menjauh, dan Ayah berusaha mengejarku. Telepon darimu seringnya aku acuhkan, meski diakhir hari aku tersadar bahwa ayah adalah tempat ternyaman untukku kembali.

4. Sebagai Orang Yang Paling Banyak Aku Sakiti, Ayah Tak Pernah Sedikitpun Menutup Hati.

ayah tak pernah menutup hati via https://billmuehlenberg.com

Advertisement

Banyak pertengkaran yang berawal dari diriku, banyak pula kata-kataku yang tak jarang membuatmu terluka. Tapi itu tak pernah menjadikanmu sosok yang menakutkan untukku, bahkan Ayah tak pernah sedikitpun menutup hati untuk memberiku maaf dan pelukan hangat.

5. Untukmu, Tawaku Jauh Lebih Berarti. Hingga Ayah Seringnya Lupa, Banyak Pula Kepedihan Yang Tengah Dilewati.

Bagimu, melihatku tertawa lebih berharga daripada harta yang Ayah punya. Bahkan sempat Ayah bicara

Melihat kamu tertawa, ayah seperti melihat ibu. Senang rasanya.

Padahal Ayahpun masih punya banyak hal yang belum selesai terlewati. Bagaimana hati Ayah hari ini?

6. Tangisku Bagaikan Petir Dihidupmu, Apapun Rela Ayah Lakukan Jika Itu Untuk Kebahagiaanku.

melakukan apapun via https://ricknet.com

Pernah satu kali Ayah melihatku menangis perihal cinta, dan rasa sakit hati begitu terlihat dari caramu memelukku. Bagaimana tidak? Ayah yang selalu berjuang agar air mataku tak pernah jatuh walau setetes. Tetapi orang lain yang baru mengenalku melakukannya.

Ayah rela melakukan apapun agar tawaku kembali tersungging, sekalipun untuk itu Ayah harus mengambil cuti dari kantor untuk sekadar makan bersama. Setidaknya, disana kutemukan bahwa Ayah memang segalanya di hidupku.

7. Sehat Selalu Ya Ayah, Doaku Tak Pernah Henti Untukmu, Semoga Kita Bisa Menjadi Lebih Kuat Lagi.

sehat selalu yaa via https://theodssy.com

Sehat selalu Ayahku tercinta, aku mencintaimu hari ini, esok, lusa dan selamanya. Terimakasih telah mendidikku menjadi pribadi yang kuat, dan menjadi wanita yang giat. Ayah, tenanglah kini gadismu sudah tak lagi payah. Tak usah khawatir akan perihal apa yang akan aku sambut di kemudian hari karena kini aku sudah cukup tangguh untuk itu.

dari gadismu yang tak lagi payah,
I Love You

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya