Traveing lah selagi muda, jangan cemas soal uang. Karena bagaimanapun pengalaman itu lebih bernilai dari uang sebanyak apapun. -ayo dolan- 

Yasss, dari awal mencintai dunia traveling aku sudah menjadikan traveling sebagai salah satu kebutuhan hidup, ya paling nggak sebelum menikah sudah ada pengalaman yang bisa di sombongkan di depan suami nanti.

Perjalanan kali ini membawa ku ke Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Perjalanan di mulai dari Balikpapan menuju Makassar, sesampainya di bandara Sultan Hasanuddin aku memakai transportasi Damri ke BMA trans (semacam mobil elf yang mengantar ke Bulukumba, kapasitas sampai 8 orang) biaya damri 27.000. BMA trans ini berangkatnya per 2 jam dan mulai berangkat jam 7 pagi dengan biaya 110.000, fasilitas air mineral, kursi yang nyaman dan luas, serta mobil yang ber AC.

Perjalanan memakan waktu 5 jam dari Makassar ke Bulukumba, tapi tenang aja lelahnya perjalanan nggak akan terasa karna sepanjang perjalanan mata kita akan disuguhi dengan hamparan sawah yang menyejukkan dan luasnya laut yang menenangkan. 

Setelah 5 jam perjalanan sampailah aku di Bulukumba, karena masih memerlukan perjalanan lagi ke Tanjung Bira aku meminta tolong supir untuk mengantar ke terminal Bulukumba, di terminal kendaraan yang akan dipakai disebut pete-pete dengan orang Bulukumba yang kita kenal dengan sebutan angkota. Biaya 50.000 diantar sampai depan penginapan.

1. Penginapan yang instagramable

berasa di luar negri dong~

berasa di luar negri dong~ via http://google.com

Satu jam kemudian sampailah sudah aku di Tanjung Bira setelah perjalanan cukup panjang, aku sendiri menginap di woy woy sunrise dengan view langsung ke laut dan desain kamar per box dengan cat warna-warni. Permalamnya 300.000 booking via aplikasi online.

Advertisement

Lokasi penginapan ini cukup strategis, 5 menit naik motor sudah sampai pantai tanjung Bira dan keluar dari penginapan sudah ada minimarket dan warung-warung warga. Karena sudah terlalu lelah dan juga sudah menjelang malam, dan besoknya explore Bulukumba kami istirahat dan malamnya ngeliat milky way di penginapan yang susah ditemukan di kota.

2. Mini Santorini

mini santorini

mini santorini via http://google.com

Paginya, suara ombak dan sunrise sudah menyambut dengan hangat kami untuk lebih semangat lagi meng-explore Bulukumba. Selagi sarapan masih di buatkan, kami menyempatkan jalan sebentar ke woy woy paradise, salah satu penginapan bergaya ala Santorini.

Cukup naik motor yang kami sewa 80.000 perhari kami sampai di woy woy paradise yang berkendara cuma 2 menit. Woy woy paradise ini memang pas buat liburan bareng teman-teman, yang sangat pas kalau menjadi background foto bareng sahabat. Dengan cat warna putih dan tosca dan cuma ada 6 kamar, jadi kalau mau kesini musim libur, lebih baik booking-nya jauh-jauh hari, takutnya aja kamarnya sudah full.

3. Tebing Appalarang

airnya minta di sentuh~

airnya minta di sentuh~ via http://google.com

Advertisement

Selesai sarapan kami langsung menuju ke tebing Appalarang yang memang sudah jadi tujuan awal kami berada di Bulukumba. Dari penginapan nggak terlalu jauh, bermodalkan nekat dan Google Maps sampailah kami di tebing Appalarang dalam waktu 15 menit. Meskipun menuju tebing Applarang jalannya lumayan rumit, serumit aku dan kamu yang diam-diam menyimpan perasaan *eh.

Yaps, jalannya luas tapi berdebu, beberapa jalur ada yang rusak, bahkan ada tikungan yang tajamnya setajam tikungan teman sendiri. Untuk biaya masuk tebing gratis cukup bayar parkir permotor 5.000.

Sesampainya di atas tebing Appalarang, sumpah aku tertegun gak bisa berucap selain menikmati keindahannya. Ada yang bilang tebing Appalarang adalah raja ampatnya Bulukumba, emang seindah itu. Hamparan air laut yang berwarna hijau kebiruan dan tebing yang menunjang, juga karang yang menambah keindahan tebing Appalarang.

Untuk pengaman di sepanjang tebing sudah ada pagar yang sudah menjadi pelindung untuk wisatawan. Turun ke bawah melewati tangga biar lebih dekat dengan air, terlalu menakjubkan. Siang hari aku ke sana di bawah teriknya matahri nggak membuat ku lelah sama sekali, bahkan rasanya ingin honeymoon di sana (nanti) ehehehe.

Di tebing Appalarang sudah ada fasilitas musholla bagi muslim, ingat kenikmatan alam adalah salah satu cara Tuhan untuk membuat kita bahagida dan jangan sampai kita lupa bahwa Dia lah pencipta kenikmatan itu, dan juga ada beberapa toilet umum, serta warung-warung kecil untuk bersantai setelah keliling tebing.

4. Pantai Tanjung Bira

air birunya duh love betul

air birunya duh love betul via http://google.com

Selepas dari tebing Appalarang aku menuju ke pantai Tanjung Bira, pantai yang terkenal dengan pasir putih dan air birunya. Jadi, sebelum masuk pantai Tanjung Bira kita bakal melewati loket masuk dan bayar 15.000 dan motor 5.000 tapi kalau kalian menginap di daerah bira, cukup bilang aja dengan penjaga loket kalau kalian menginap di daerah bira, jadi deh sepuasnya jalan-jalan ke pantai.

Seperti pantai pada umumnya, pantai tanjung bira memiliki air bersih yang warnanya bikin syahdu, penjual-penjual di pinggir pantai yang menyediakan banana boat dengan biaya 25.000 perorang dan speed boat yang mengantarkan ke Pulau Kambing dan Pulau Liukang Loe dengan biaya 600-800 per speed boat yang bisa menampung 8 orang penumpang. Aku nggak sempat ke sana karna keterbatasan waktu.

5. Sunset di Tanjung Bira

sunset di Tanjung Bira

sunset di Tanjung Bira via http://google.com

Jam 5 kami kembali ke penginapan dan istirahat sebentar, mendekati jam-jam sunset aku kembali sendirian ke Pantai tanjung Bira untuk melihat langit memamerkan keindahan warna langitnya. Walaupun agak telat datangnya, cukup memuaskan melihat sunset yang mau berjuta kali pun dilihat nggak bakal ada bosannya, sama halnya kayak dengar suara kamu yang memanggil nama ku pun aku nggak lelah mendengarnya *eh.

Ada yang lebih indah dari sunset?

Ada.

Saat sunset menjadi background foto kita berdua~

Sekian cerita perjalanan kali ini, semoga bisa membantu dan membuat teman-teman yang takut keluar dari zona nyaman bisa berani dan memulai berpetualang. Ya, mana tau kan ketika keluar dari zona nyaman malah ketemu seseoarang yang bisa buat nyaman.

Ingat selagi muda dan sehat, berpetualang lah, nanti ketika sudah nikah ke rumah tetangga aja dicariin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya