Bagaikan air yang dapat memadamkan kobaran api, seperti itulah analogi dibalik sifat pesimistik terhadap impian yang kamu pendam. Tanpa kamu sadari, ia dapat dengan mudah memadamkan seluruh angan-angan milikmu, membiarkannya menjadi abu dan hilang sekejap bersama sekebelat kesusksesan yang kamu impikan.

Padahal, kamu yang sudah berani bermimpi, hanya perlu bangkit melawan ketakutanmu. Tak perlu ragu, cukup tanamkan beberapa mindset ini sebagai senjata tuk melawan rasa pesimismu.

1. Habiskan jatah kegagalanmu selayaknya menyicil utang

jangan takut dengan kegagalan

jangan takut dengan kegagalan via http://google.com

Semua orang memiliki jatah kegagalannya masing-masing. Namun yang membedakannya ialah seberapa ambisius seseorang untuk menghabiskan jatah kegagalan itu secepatnya. Beberapa orang merasa terpuruk ketika ditimpa kegagalan, sebagian lagi merasa kehidupan mereka menjadi tak ada artinya tanpa tantangan itu sendiri.

Advertisement

Untuk berani mengambil langkah, kamu perlu sadar akan kemampuanmu membuat komitmen, berjanji kepada diri sendiri agar tidak berputus asa manakala jatah itu telah menumpuk dan belum menampakkan hasil. Sesungguhnya, mayoritas kesusksesan seseorang disebabkan karena mereka lebih memilih untuk menghabiskan jatah kegagalan mereka sedini mungkin, yang tentu saja akan terbayarkan dengan jatah kesuksesan yang berimbang pula di kemudian hari.

2. Bayangkan dirimu seperti anak panah, semakin ia ditarik ke belakang, semakin cepat pula ia mencapai targetnya.

semakin dekat dengan kesuksesan

semakin dekat dengan kesuksesan via http://www.google.com

Mengapa kita harus menjadi seperti anak panah? Dalam hal ini, kamu perlu membayangkan dirimu layaknya sebuah anak panah panah yang memiliki satu target dihadapanmu, yaitu kesuksesan. Ingat, semua impianmu harus kamu capai dengan cara ditarik kebelakang layaknya anak panah yang mati-matian ditarik kebelakang sebelum melesat dari busurnya.

Artinya, semua berawal dari belakang, semakin kamu ditimpa kegagalan, semakin kuat kamu akan terdorong kedepan. Meskipun sederhana, tapi persepsi ini bisa membuatmu lebih percaya diri jika sedang pesimis dengan kegagalan yang kerap kali menimpamu.

3. Jangan berhenti membuat masalah, tantang dirimu sebisa mungkin.

siapa bilang masalah itu merugikan?

siapa bilang masalah itu merugikan? via http://img1.goodfon

Advertisement

Kamu pasti berpikir, untuk apa membuat masalah? Bukankah itu semua justru akan menambah beban di pundakmu? Jawabannya tidak lain karena semua orang pada hakikatnya membutuhkan pemantik sebelum bertindak, butuh sedikit tantangan dan dorongan agar menggugah semangatmu.

Pertama-tama kamu perlu mengambil setiap kesempatan dan celah sebagai batu loncatan, mulailah dari hal-hal kecil yang seringkali diremehkan ataupun diabaikan segelintir orang. Sebisa mungkin, disela kesibukan harus kamu isi dengan hal-hal bermanfaat. Buatkan zona baru yang penuh dengan tantangan sebagai duniamu tuk berkarya, tak lupa untuk selalu menggali referensi terkait skill yang bisa kamu kembangkan.

4. Berkarya sedini mungkin, agar umurmu dijadikan pemanis disela pujian-pujian untukmu nantinya.

wah masih muda, sudah sukses ya!

wah masih muda, sudah sukses ya! via http://www.soulpost.com

"Kelak aku akan sukses diusia 25 tahun. Ah.. tapi sepertinya itu tidak mungkin, kalau begitu 30 tahun sajalah."

Semakin cepat kamu mematahkan batasan itu dan semakin cepat kamu menyusun dan merealisasikan mimpimu, maka usahamu tentunya akan lebih dihargai dan memotivasi orang lain untuk ikut mewujudkan mimpi mereka di masa muda. Sesungguhnya tidak sedikit orang yang benar-benar menyesali target yang mereka pasang.

Dalam hal ini ialah memasang target kesuksesan di usia tertentu. Padahal, kesuksesan itu dapat dijemput kapan dan dimana saja. Sungguh sebuah hal yang sederhana namun terasa membanggakan ketika mendapat pujian tidak hanya karena telah mencapai goals yang telah kamu incar sekian lama tetapi juga ketika kamu sudah bisa mematahkan anggapan orang lain terhadap adanya batasan usia kesuksesan.

5. Sadari bahwa setiap orang bermain pada zona nyamannya masing-masing.

jangan terlena dengan kebiasaan kawanmu~

jangan terlena dengan kebiasaan kawanmu~ via http://freewallpapers.com

Siapa yang tidak senang bermain dalam zona nyamannya? Menjadikan comfort zone sebagai tempat sandaran dari peliknya hidup tentu membuat kita tergiur untuk tetap berada dalam zona tersebut. Setiap hari, kita tentunya dihadapkan dengan adanya sebuah pilihan. Seluruh trade-off yang kita keluarkan tentunya memiliki manfaat dan pengorbanan pada takarannya masing-masing.

Pengorbanan itu tidak lain adalah dengan cara melepaskan zona nyaman yang melekat pada diri kita. Diberi pilihan untuk bangkit menjawab semua tantangan itu maupun hanya memilih untuk diam adalah anugerah yang indah dan tidak dapat terukur. Lalu, masihkah kita ingin bermain dengan zona nyaman itu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya