Tidak bisa dipungkiri bahwa wisuda merupakan sebuah momen yang selalu ditunggu oleh mahasiswa tingkat akhir yang mana, mereka telah berhasil menyelesikan kewajiban terakirnya yakni membuat skripsi. Banyak tantangan ketika penyelesaian skripsi, mulai dari rasa malas dikarenakan deadline, pembimbing yang susah ditemui sampai revisi yang tak kunjung usai. Itulah tantangan jika ingin wisuda, hadapi dan terus maju sampai usai ! karena, proses penyelesaian skripsimu tidak seberapa jika, dibandingkan dengan kehidupan dunia masyarakat yang sebenarnya, yang terkadang lebih menyebalkan.

Dari penyelesaian Skripsimu inilah gunakan sebaik mungkin, untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya setelah wisuda nanti ! Anggaplah sebagai pemanasan.

1. Menunggu kepastian pembimbing yang lama. Ingat, tugasnya tidak hanya membimbing kamu!

Hal seperti ini, memang tak terjadi ketika di momen skripsian saja di masa-masa perkuliahan juga sering terjadi. Sebagai seorang dosen tugas mereka tidak hanya mengajar atau membalas setiap chat dari mahasiswanya. Karena, kesibukannya itulah mereka jarang memprioritaskan handphonenya. Bukan berarti lama tak membalas itu tidak menghargaimu.

Dari proses menunggu balasan inilah, kamu akan belajar tentang kesabaran. Karena, proses menunggu tak pernah usai, dalam dunia kerjapun masih tetap ada. Apalagi kamu menunggu panggilan interview pastinya akan lebih lama dibanding kamu menunggu balasan dari pembimbing.

2. Di beri harapan palsu oleh pembimbing, terkadang lebih menyakitkan dibanding diberi harapan oleh gebetan.

Advertisement

Awalnya memang diberi kepastian oleh pembimbing untuk bertemu, akan tetapi semua yang telah direncanakan tidak semudah itu untuk terwujud. terkadang dosen membatalkan begitu saja perjanjian yang telah dibuat dan proses pemberitahuan tersebut terjadi ketika, kita memberi kode terlebih dahulu pada pembimbing berupa, menanyakan kembali atau sekedar memberitahu jika kita telah sampai pada tempat perjanjian. Namun, disayangkan setelah mendapatkan balasan dan memberitahukan bahwa pembimbing sedang ada diluar kota kemudian harus diundur kembali proses bimbingan, itu sudah membuat kita sangat kecewa karena, merasa sia – sia.

Ingat tidak ada yang sia – sia dalam apapun yang telah kau lakukan, kau hanya perlu berdamai dengan prosesmu. Jadikan, ini sebagai latihan untukmu kedepannya dalam sebuah kegagalan dalam dunia kerja.

3. Revisi tiada henti, membuatku hampir mati.

Anggap saja proses menulis skripsi atau TA mu sebuah bentuk latihan membuat sebuah karya. Saat kamu harus memperbaiki itu wajar. sebab itu karyamu tidak mungkin sebuah karya berwujud biasa – biasa saja bukan? setidaknya karyamu harus mendakati sempurna.

Revisi terus menerus memang menyebalkan, tapi kau harus tahu itu sebuah pemanasan untuk kehidupan mendatang, yang mana mengajakmu untuk bekerja lebih exstra. Adanya revisi ini mengajari akan sebuah ketekunan dan menghargai pendapat dari orang lain entah itu lebih tua ataupun sesama.

4. Perbedaan pendapat yang tak kunjung usai !

Saat proses bimbingan berlangsung, tak jarang apa yang kau ingingkan berbanding terbalik dengan apa yang di inginkan dosenmu. saat kau berusaha meyakinkannya terkadang malah membuat pembimbingmu merasa kesal. sudahlah, ini bukan saatnya untuk mementingkan egomu. jika, memang tidak bisa memakai pendapatmu kau tetap harus mengikuti jalan pikirnya dosenmu bukan, menjunjung tinggi pendapatmu.

Dari kejadian ini, kau harusnya bisa belajar untuk kedepannya tentang bekerja secara tim. Kau harusnya tahu bahwa bekerja itu bersama orang banyak bukan dengan diri sendiri. dibutuhkan kerjama yang baik dalam sebuah lingkup.

5. Mempertanggung jawabkan, dalam sebuah sidang skripsi!

Presentasi via http://potomaccore.com

Setelah semua tahap di lalui, mulai dari seminar proposal di awal hingga, dalam sebuah sidang skripsi sebagai sebuah penentu kelulusan mu nanti. pada titik inilah sebenarnya kamu di inginkan untuk bertanggung jawab atas karyamu. Jangan pernah merasa terbebani! karena, alurnya memang seperti itu.

Jadikanlah, sidangmu sebagai sebuah latihan untuk berani berbicara, mendengarkan, menahan amarah dan tentunya belajar bertanggung jawab atas apapun yang pernah kamu lakukan.