Teman Dekatmu Jadi Korban Kekerasan Seksual? Berikut Hal-hal yang Harus Kamu Lakukan!

Dampingi bukan sibuk menghakimi

Kekerasan seksual makin marak ditemui di negara ini. Mirisnya, perilaku tidak terpuji ini banyak terjadi di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Siapa pelakunya? Tidak jarang adalah petinggi-petinggi yang memiliki jabatan sebagai tenaga pendidik atau pengajar yang sewayahnya memberi contoh teladan dan budi pekerti yang baik.

Ironisnya lagi, para korban dari kekerasan seksual ‘dipaksa’ untuk tutup mulut, menutup rapat apa yang dialaminya. Tak hanya oleh pelaku, korbanpun terkadang ‘dibekap’ untuk tidak berkata-kata oleh keluarga sendiri dengan dalih aib yang harus ditutupi. Apakah ini adil? Tentu saja tidak sama sekali.

Lucunya, ketika korban yang notabennya kebanyakan perempuan datang untuk melaporkan apa yang telah dialami, mereka justru mendapat pelabelan. Mulai dari menyalahkan pakaian yang dikenakan, dibodoh-bodohkan karena tidak mampu melawan, hingga tidak dianggap bak angin lalu. Ketika korban memilih mengakhiri hidup, barulah kasus diangkat ke permukaan dan satu persatu penyesalan bermunculan. Lucu, bukan?

Please take notes, jika orang terdekatmu menjadi korban dari kekerasan seksual maka hal-hal berikut yang paling bisa kalian lakukan.

Yuk, disimak!

ADVERTISEMENT

1. Penting untuk mengedukasi diri sendiri. Cari tahu sebanyak mungkin mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan seksual

Foto oleh SHVETS production dari Pexels

Foto oleh SHVETS production dari Pexels via https://www.pexels.com

Sebelum woro-woro ke orang lain, lebih baik kalian edukasi diri sendiri dengan pengetahuan yang cukup seputar kekerasan seksual. Kalian bisa memerolehnya dari berbagai sumber rujukan. Bekali diri kalian dengan pemahaman yang baik, sebab jika kalian kurang mempunyai pengetahuan tentang kekerasan seksual tidak jarang yang terjadi di kemudian adalah victim blaming.

 

Semakin terbuka dan paham kita terhadap kekerasan seksual, maka semakin besar pula kesempatan bagi kita untuk menolak kekerasan seksual yang selama ini ‘mungkin’ dianggap biasa.

 

Semakin paham kita tentang dampak kekerasan seksual bagi masa depan, semakin besar peluang bagi korban dan orang-orang sekitar untuk berani speak up.

ADVERTISEMENT

2. Dampingi dan jadilah pendengar yang baik

Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels via https://www.pexels.com

Apa yang paling dibutuhkan seorang korban pasca mengalami kekerasan seksual adalah bukan penghakiman, melainkan pendampingan. Inilah yang sering dilewatkan masyarakat kebanyakan. Mereka sibuk menghakimi, menyalahkan, dan mengabaikan. Sehingga korban acapkali merasa tidak berharga, padahal ia adalah korban dari suatu kejahatan, bukan pelaku kejahatan.

 

Dampingi dan jadilah pendengar yang baik. Itu sedikit banyak membantunya dalam mengatasi trauma. Meski tidak ada kata-kata yang pantas untuk diucapkan sebagai sebuah penghiburan, paling tidak keberadaanmu sudah amat sangat membantu.

ADVERTISEMENT

3. Jangan sibuk menghakimi. Bantu, dampingi atau paling tidak berikan referensi professional pada korban

Foto oleh cottonbro dari Pexels

Foto oleh cottonbro dari Pexels via https://www.pexels.com

Daripada menambah luka, lebih baik diam. Atau, setidaknya bantu ia dengan memberikan referensi tenaga professional untuk membantunya mengatasi trauma.

 

Berbicara langsung, face to face, pada seorang ahli akan lebih membantu mereka sebab para professional sudah terlatih. Dan, mendatangi serta berkonsultasi pada ahli jauh lebih efektif dibandingkan mendengarkan saran yang tidak jarang terdengar ‘serampangan’.

ADVERTISEMENT

4. Selalu dukung dan semangati korban. Jangan sibuk menyalahkan

Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels

Foto oleh RODNAE Productions dari Pexels via https://www.pexels.com

Di saat korban atau temanmu siap untuk speak up, tugasmu adalah selalu mendukungnya. Speak up adalah hal paling berani yang dilakukan korban, sehingga harus ada sosok yang terus menemani juga menyemangati.

 

Trauma atas kekerasan atau pelecehan seksual memiliki dampak yang sangat panjang bahkan bagi masa depan korban. Untuk itu, posisimu sebagai teman sangat diperlukan terutama untuk selalu siap menjadi support system bagi si korban.

ADVERTISEMENT

5. Apa yang kamu pikirkan mungkin benar, tapi tidak berlaku pada setiap orang. Jadi, jangan mendahului korban dalam membuat sebuah kesimpulan maupun keputusan

Foto oleh MART PRODUCTION dari Pexels

Foto oleh MART PRODUCTION dari Pexels via https://www.pexels.com

Pasca kejadian, kondisi korban tentu saja belum stabil. Namun, kamupun tidak boleh gegabah mendahului korban dalam mengambil keputusan. Boleh jadi apa yang kamu opinikan benar, tapi belum tentu berlaku bagi semua orang, khususnya korban. Sekalipun tindakan kamu tersebut demi kebaikan korban.

 

Kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Sudah saatnya masyarakat melek pengetahuan tentang kekerasan seksual dan berhenti menormalisasinya seakan itu merupakan hal wajar dan biasa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejatinya kekerasan seksual memang aib, namun, akan lebih bijak jika kita memberi ruang bagi korban untuk speak up dan membantunya dalam proses penyembuhan.

 

Ingat, kekerasan seksual bukan hal sepele, bukan pula sesuatu yang pantas ditertawakan. Dan, seharusnya para pelaku kekerasan seksual tidak pernah bisa mendapatkan pemakluman apalagi pengampunan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

selalu ingin belajar menulis