Pernahkah kalian merasakan, niat awalnya membangun persahabatan berujung dengan niat ingin selalu bersama?

1. Niatku mencari teman curhat

Sekedar Teman curhat

Sekedar Teman curhat via https://google.com

Berawal dari sebuah perkenalan singkat melalui sms.

Advertisement

Aku: Hai ini aku, kenalan boleh?

Dia: Oh, temennya si itu ya?

Semua hal ditanyakan di awal perkenaalan itu mulai dari hal-hal nggak penting, sampai hal-hal yang pribadi. Aku tahu dia milik yang lain saat itu. Karena aku dapat nomor ponselnya juga dari cowoknya, aku dan cowoknya satu kosan waktu itu, kami sekolah di kota jadi harus ngekos.

Advertisement

Dan itu tak masalah buatku, karena niatku mencari teman, menambah saudara.

Seiring berjalannya waktu semua terasa biasa saja, semua terasa wajar saja. Kami share semua masalah kami masing-masing, selalu memberikan dukungan dan masukan di setiap masalah yang kami hadapi.

2. Ku lupakan dia dan dia kembali hadir

Dia kembali hadir

Dia kembali hadir via https://google.com

Sempat kehilangan nomor kontaknya karena aku kehilangan ponsel, agak ku lupakan dia, karena kesibukanku memasuki dunia kerja, dan kurasa dia juga tak masalah dia juga banyak teman pikirku.

Tapi Tuhan berkata lain, kulihat ada sebuah inbox masuk di akun media sosialku.

Dia: Tadi kayaknya aku lihat kamu di dekat kecamatan, itu kamu, kan?

Aku : Iya benar tadi aku memang di dekat kecamatan, kamu masih inget aku?

Dia : Ya masihlah, kamu kemana saja ? Nomormu kok nggak aktif?

Aku : Ponselku hilang, bla bla bla.

Setelah sekitar beberapa tahun aku tidak berhubungan denganya, ternyata dia masih mengingkatku, ya walaupun hanya dia yang melihatku sekilas.

Ngobrol ngalor ngidul menanyakan kabar, bercerita segala hal, walaupun hanya melalui layar ponsel, obrolan-obrolan itu terasa hangat.

Hubungan pertemanan kami memang hanya melalui ponsel, bertemu? Hampir tidak pernah, bisa dihitung pakai ibu jari.

3. Berdua menikmati dingin malam

Berdua saja

Berdua saja via http://google.com

Ada hobi kami yang sama yaitu naik gunung, mulai aku atur rencana untuk mengajak dia naik gunung. Semua teman aku coba ajak, ternyata hanya dia yang bisa, jadi mau tak mau kami berangkat berdua saja. Awalnya dia agak ragu, tapi akhirnya dia mau juga setelah aku yakinkan "tidak akan aku biarkan kamu lecet".

Ternyata bertemu bertatap muka membuat kami canggung, tak seperti obrolan kami melalui pesan singkat. Obrolan kami di dunia nyata ternyata singkat-singkat. Selama menanjak aku hanya bisa tersenyum menatap wajah imutnya yang sesekali tersenyum tersipu malu. Tak jarang percakapan kami menemui jalan buntu, hanya sesekali bertanya keadaannya.

Lelah? Mau istirahat? Dingin? Mau minum? Dan hanya berbalas anggukan ataupun gelengan kepala saja. Aku mulai menyukainya, ternyata dia wanita yang cukup tangguh pikirku, Dan kami pun merencanakan perjalanan selanjutnya, Gunung Merbabu, Borobudur, Gunung Slamet, dan Jogja.

4. Aku memilih dia dan dia memilihku

Aku memilih dia

Aku memilih dia via http://google.com

Setelah perjalanan pertama kami, hubunganku denganya semakin dekat tapi tetap terasa wajar. Aku merasakan kenyamanan dari dirinya. Aku mulai merasakan kalau aku membutuhkannya, menginginkannya, tak mau jauh darinya. Perasaanku pun disambut baik olehnya, ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama kepadaku. Kami berkomitmen untuk menjaga hubungan ini, berdoa kepada Tuhan untuk disatukan. Meskipun jarak yang jauh memisahkan kami, aku percaya bahwa dia memang memilihku, dan dia memang memilihku untuk mendampingi hidupnya.

5. Jodoh ditangan Tuhan

Kujaga jodoh orang

Kujaga jodoh orang via https://pexel.com

Tak ada masalah yang berarti di hubunganku denganya, hanya masalah jarak yang membuat kami jarang bertemu. Aku di ibukota dan dia di Jawa Tengah, dengan semakin bertambah canggihnya teknologi juga mendukung hubungan kami, yang awalnya jauh karena jarak, menjadi dekat bertatapan meski bersekat layar.

Setelah sekian tahun berhubungan, sikapnya mulai aneh. Jarang sekali membalas smsku ataupun inbox di media sosialku, semua kata-kata sayang aku katakan tetap tak ada respon darinya,

Hingga suatu hari ada pesan masuk di ponselku

Dia : Kamu percaya jodoh ditangan Tuhan?

Aku : Iya aku percaya, tapi kan kita boleh meminta dan berusaha agar dijodohkan.

Dia : Aku minta maaf ya akhir-akhir ini menghilang, aku cuma lagi berpikir.

Aku : Memang kenapa? Ada apa?

Dia : Kalau kita tak berjodoh apakah kamu menerima semua itu?

Aku : Apa ada yang lain?

Dia : Maaf ya sepertinya hatiku berpindah ke lain hati.

Aku : Kenapa? Hubungan kita selama ini kan nggak ada masalah apa-apa.

Dia : Maafin aku, aku sudah nggak bisa nunggu lama lagi, dia akan datang kerumah untuk melamar bulan depan.

Mendengar semua itu seolah-olah udara di muka bumi ini menghilang. Menyesakkan dada, meruntuhkan raga. Ku coba mencerna kejadian ini. Apa ini yang namanya jodoh ditangan Tuhan. Tuhan yang maha membolak balikan hati. Tuhan yang maha tahu masa depan seseorang. Tuhan yang maha penyayang.

Aku hanya pasrah kepada Tuhan, semoga ada hal baik dari semua ini. Berdoa untukku agar diberi kekuatan hati untuk menerima. Berdoa untuknya agar selalu diberi kebahagiaan.

Untukmu yang telah terpatri di hati. Terimakasih engkau telah sudi menemani. Terimakasih engkau telah sudi mengasihi. Terimakasih engkau telah sudi berbagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya