Tidak Semua Ayah adalah Cinta Pertama Seorang Perempuan, Karena Terkadang Fakta Berbicara Sebaliknya

Beberapa orang mengira bahwa setiap perempuan akan mencari pasangan yang memiliki sifat mirip dengan sang ayah. Ayah dianggap sebagai sosok pertama yang melindungi dan role model bagi seorang anak. Padahal tidak semua ayah pantas dijadikan pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab. Karena fakta berbicara sebaliknya, simak penjelasannya.

Advertisement

1. Kekerasan Pada Anak, Justru Pelakunya Paling Banyak Ialah Orang Tua

Foto oleh August de Richelieu dari Pexels

Foto oleh August de Richelieu dari Pexels via https://www.pexels.com

Beberapa orang tua itu tidak layak disebut orang tua. Karena diantara mereka hanya bisa beranak, tetapi tak mampu mendidik. Anak seringkali dianggap sebagai sebuah aset yang pantas untuk diperlakukan sesuai kehendak hati. Kekerasan fisik, pengabaian, penganiayaan, eksploitasi, bahkan kekejaman seksual begitu lumrah ditemui pada kehidupan berumah tangga.

Berdasarkan riset berjudul Ending Violence in Childhood pada tahun 2017 yang dilansir dari Tirto.id, disebutkan bahwa 73,7% anak-anak di Indonesia setidaknya pernah sekali mengalami kekerasan yang dilakukan orang tua kandung. Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membeberkan data 4.294 kasus kekerasan pada anak tahun 2011-2016 yang tidak lain biang keroknya adalah keluarga dan pengasuh. Seorang profesional University of New York bahkan mengatakan pria melancarkan aksi atas 90% pembunuhan di dunia.

Advertisement

2. Pria Menjadi Golongan dengan Tingkat Perselingkuhan Tertinggi

Foto oleh MART PRODUCTION dari Pexels

Foto oleh MART PRODUCTION dari Pexels via https://www.pexels.com

Sudah berapa kali kita mendengarkan berita tentang perselingkuhan dalam rumah tangga? Seperti genangan air laut, kisah perselingkuhan tidak pernah surut dan tidak ada habisnya. Sebagai kelompok yang dilabeli penggemar visual, ternyata pria lebih sering melakukan perselingkuhan dibandingkan perempuan, loh.

Dari situs Jawa Pos, data perselingkuhan yang dilakukan pria itu lebih banyak adalah realita. Survei YouGov yang dilaksanakan pada tahun 2019, melaporkan bahwa 20% pria yang sudah menikah mengakui pernah berselingkuh. Sementara persentase perselingkuhan perempuan nilainya separuhnya, yakni 10%. Angka ini setara dengan 2 kali lipat kasus perselingkuhan yang dilakukan pria.

3. Perceraian di Indonesia Lebih Banyak Digugat oleh Perempuan

Advertisement
Foto oleh Vera Arsic dari Pexels

Foto oleh Vera Arsic dari Pexels via https://www.pexels.com

Menyelamatkan sebuah jalinan kasih pernikahan memang tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak kisah pernikahan yang berakhir pada kebahagiaan hingga maut yang memisahkan. Namun tak jarang pula yang terpaksa memutuskan ikatan janji suci itu karena berbagai persoalan yang tidak pernah terselesaikan. Mulai dari kekerasan, perselingkuhan, dan ekonomi yang paling banyak mendasari.

Bukan dari pihak pria, ternyata perempuan lebih sering mengajukan perceraian. American Sociological Association pada Tempo.co menyerukan bahwa 69% perceraian diminta oleh perempuan pada tahun 2018. Sementara melalui detik.com, selama Januari-Oktober 2016, pihak istri paling banyak menginginkan perceraian yakni 224.239 permohonan.

4. Beberapa Perempuan (Istri atau Ibu) Mempertahankan Pernikahan dengan Dalih Untuk Anak

Foto oleh Keira Burton dari Pexels

Foto oleh Keira Burton dari Pexels via https://www.pexels.com

Selama patriarkisme masih dijunjung, maka selama itu pula mulut perempuan akan dibungkam. Banyak perempuan yang terpaksa bertahan dalam hubungan tidak sehat karena alasan aib. Beberapa dari mereka enggan mengubah status menjadi janda ataupun takut tak bisa hidup seorang diri. Ada pula yang mendasari anak sebagai makhluk tak berdosa yang harus diberi kasih sayang seorang ayah.

Beberapa ibu rela menjadi korban KDRT asalkan anak tidak tumbuh menjadi korban broken home. Padahal hidup bersama ‘harimau’ seumur hidup begitu menyakitkan. Namun mereka justru mengabaikan perasaan diri sendiri hanya untuk memuaskan batin seorang pria bernama suami. Hingga pada akhirnya tak ada lagi seorang pria yang pantas dihormati dalam sebuah rumah tangga.

5. Kenangan di Masa Kecil Berdampak Pada Trauma di Saat Dewasa

Foto oleh Pixabay dari Pexels

Foto oleh Pixabay dari Pexels via https://www.pexels.com

Dari segala pengalaman gelap kelabu di masa kecil yang dialami seorang anak, akan membentuk karakternya di saat besar. Segala macam bentuk kekerasan dan ketidakbecusan ayah dalam merawat anak, akan menumbuhkan rasa sakit dalam hati anak. Berbagai trauma akan bermunculan hingga tak mau lagi berurusan dengan seorang ayah. Tak ada lagi rasa segan, yang ada hanyalah kebencian. Apabila orang lain mengira ayah sebagai panutan, ia justru menganggapnya sebagai setan.

Jadi, pepatah yang mengatakan bahwa ayah adalah segalanya belum tentu benar adanya. Ingatlah bahwa jika di dunia ini ada anak durhaka, berarti ada pula orang tua durhaka. Termasuk juga ayah yang menghancurkan kehidupan anaknya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur

CLOSE