Pernikahan adalah impian semua pasangan dimabuk cinta untuk menunjukkan keberhasilan mereka menjalin kasih menuju bab kehidupan yang baru. Tak pandang usia, suku dan bangsa, semua pasangan pasti menginginkan kehidupan bahagia setelah pernikahan. Kenapa pernikahan menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan untuk dibayangkan?

Tentu saja karena pernikahan adalah tahap kehidupan baru bersama orang terkasih. Mulai dari kegiatan yang dilakukan bersama dalam satu rumah, seperti bobok bareng, sarapan bareng, bersih-bersih rumah bareng, ya kurang lebih seperti yang kamu lihat pada scene awal film animasi UP. Kamu pasti setuju untuk melakukan kegiatan bersama pasangan berada pada urutan nomor satu dalam to do list after marriage kamu.

Tetapi, sudahkah kamu memikirkan hal kecil lainnya, seperti lima poin di bawah ini?

1. Membagi dan Berbagi Waktu

Pillow talk is a must!

Pillow talk is a must! via https://pixabay.com

Memang menyenangkan memiliki kehidupan baru bersama kekasih yang sekarang naik jabatan menjadi seorang suami atau istri tetapi apakah kamu sudah memikirkan cara meluangkan waktu antara pekerjaan dan pasangan?

Advertisement

Mungkin untuk istri yang memilih menjadi ibu rumah tangga dapat mengatur waktu dengan lebih baik tetapi lain halnya dengan kamu pasangan workaholic. Bukan masalah banyaknya waktu yang kamu punya melainkan seberapa baik kamu memanfaatkan waktu yang ada bersama pasangan hanya untuk saling mengobrol atau bersenda gurau. Bahasa kecenya adalah quality time.

Pillow talk adalah salah satu cara efektif untuk berbicara dengan pasangan sebelum melakukan kegiatan lainnya, ehm, maksudnya tidur.

2. Kehadiran Buah Hati

Salah satu tujuan menikah adalah membuat generasi baru untuk masa depan bangsa. Ya, memiliki keturunan merupakan tujuan utama pasangan setelah menikah pada umumnya. Tetapi pikirkan dengan baik, apakah kalian sudah memiliki waktu yang cukup untuk hal itu?

Advertisement

Kalau urusan membagi dan berbagi waktu dengan pasangan sudah dapat kalian kuasai dengan baik hingga sudah menjadi suatu rutinitas, urusan selanjutnya adalah kesiapan kalian untuk membagi dan berbagi waktu dengan calon buah hati hingga ia lahir nanti.

Setelah menikmati waktu berdua sejak masa perkenalan hingga akhirnya menikah tentu kamu dan pasangan sudah dapat maklum dan memaklumi waktu yang dilupakan atau terlupakan karena kesibukan masing-masing. Namun hal ini tidak berlaku jika kamu sudah memutuskan untuk memiliki anak. Kamu dan pasangan akan naik jabatan lagi menjadi orang tua.

Secara psikologis, anak tidak membutuhkan harta dari hasilmu bekerja. Anak membutuhkan waktu dari kamu dan pasangan untuk memberikan kasih sayang padanya sejak dalam kandungan hingga ia lahir, tumbuh dan berkembang kelak. Kalau kamu dan pasangan masih lebih mencintai pekerjaan saat ini, buang jauh-jauh untuk berpikir memiliki anak. Sudah cukup banyak anak yang terlantar secara mental karena kesibukan orang tuanya.

Entah mengapa sosok mbak atau mbok lebih dekat dan begitu nyata bagi mereka dibandingkan orang tua kandungnya. Sudah begitu banyak cerita tentang anak yang lebih sayang si mbak atau mbok daripada mama papanya. Apakah kamu dan pasangan ingin menambah kisah panjang yang sama? Tentu saja tidak ‘kan?

“Jangan punya anak dulu jika kamu belum siap berbagi dan membagi lebih banyak waktu dan perhatian untuknya.” Kalimat itu tentu saja tidak berlaku kalau kamu sudah yakin untuk bisa memperhatikan buah hati tanpa mengabaikan pekerjaan, ya.

3. Keluarga dan Kerabat

Menikah tidak hanya menyatukan dua orang tetapi juga menyatukan dua keluarga. Kita pasti akan terhubung dan juga berhubungan dengan keluarga atau teman dari pasangan kita, mau tidak mau atau suka tidak suka. Menambah relasi baru bukanlah hal yang buruk namun kamu perlu memikirkan mengenai cara menyikapi hal-hal diluar dugaan namun kerap terjadi pada pasangan muda yang baru menikah.

Biasanya, ada saja teman atau kerabat yang ‘usil’ tentang ‘prestasi’ kita setelah menikah. Misalnya, baru beberapa bulan menikah, untuk perempuan biasanya akan dihadapkan pada pertanyaan apakah kita sudah isi atau belum. Kalau untuk laki-laki, selain pertanyaan soal istri yang sudah isi atau belum, pertanyaan lainnya adalah sudah pindah ke rumah sendiri atau masih bersama mertua atau orang tua, punya kendaraan baru atau tidak. Pertanyaan ‘usil’ semacam itu tidak usah dipusingkan, ya.

4. Kemandirian

Saving money

Saving money via https://www.pexels.com

Menjadi pengantin baru yang akan mengarungi bab kehidupan baru bersama pasangan pastinya menuntut adanya keterbukaan juga kemandirian dari pribadi masing-masing. Diharapkan kamu sudah mandiri secara mental maupun finansial sebelum memutuskan ‘naik’ ke jenjang pernikahan.

Bukan berarti kamu harus menjadi seorang kaya raya atau ahli psikologi, kamu hanya perlu membuktikan kalau kamu bisa mengurus diri sendiri dan tahu cara mengelola harta benda yang kamu miliki dengan bijak. Seperti, kamu bisa menghemat uang bulanan dengan menahan keinginan berbelanja selain kebutuhan pokok dan menabung.

Kamu juga bisa pergi ke pusat perbelanjaan tanpa merengek harus diantar-jemput pasangan atau supir pribadi. Kalau memang mereka sedang sibuk, kamu bisa memanfaatkan aplikasi ojek online bukan?

5. Menekan atau Mengelola Egosentrisme

Working together

Working together via https://www.pexels.com

Sebagai manusia yang masih tergolong berusia dewasa muda, tentu saja sisi ‘aku’ masih sering mendominasi diri dalam mengambil keputusan. Saat menikah, dirimu tidak lagi berpikir soal ‘aku’ saja melainkan memikirkan dia dan keluarga, mungkin juga calon buah hati.

Jadi, ketika kamu masih belum bisa mengendalikan sisi ‘aku’ dalam diri kamu berarti kamu masih perlu bersabar untuk belajar. Ingat, pernikahan itu bukan persinggahan melainkan pelabuhan, kamu tidak tinggal sementara dalam hubungan pernikahan melainkan seumur hidupmu, seharusnya. Pastikan kamu sudah memahami dirimu dengan baik sebelum memahami kepribadian pasangan kamu juga anakmu kelak.

Lima hal yang telah disebutkan di atas memang terlihat sepele namun perlu perhatian khusus sebagai bekal kamu untuk melangkah menuju bab baru kehidupan. Semua memang akan menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran tetapi tidak ada salahnya untuk mempelajarinya sejak awal.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang baik untuk pasangan dan juga menjadi contoh teladan untuk anak kita kelak. Selesaikan dan persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk menuju jenjang pernikahan yang kamu idam-idamkan, ya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya