Hidup kita sebagai manusia sebenarnya sudah terprogram sedemikian rupa. Atau kita sendiri yang memang iseng sok menentukan jalannya. Sebut saja bagaimana kita menentukan jalan hidup linier yang kerap dilabeli sebagai jalan yang lurus. Kalau tidak mengikuti jalan macam ini berarti hidupmu kurang mulus.

Dari kecil kita sudah terlalu terbiasa percaya kalau hidup yang mulus adalah hidup yang berisi dari sequence sekolah, kuliah, kerja, cari duit yang banyak, membelikan orangtua macam-macam, menikah, lalu sudah.

Di balik label hidup mulus yang didapat pernahkah kamu berpikir kalau sebenarnya mengerikan sekali hidup macam ini? Saat pencapaian dalam hidup hanya diukur dari apa yang bisa dibeli, apakah bekerja pakai dasi, sampai sudahkah kamu punya suami atau istri?

Kalau dihitung– paling tidak 16 tahun kamu habiskan untuk belajar. Bakar duit orangtua demi SPP dan uang gedung

Belajar demi meraih masa depan yang lebih baik via www.tumblr.com

Kalau dihitung secara materi, sudah tak terhitung berapa banyak biaya yang dikeluarkan orangtua demi menyekolahkanmu hingga meraih pendidikan tinggi yang layak. Tak jarang kamu harus rela meninggalkan rumah demi mendapatkannya. Seandainya kamu hidup sampai usia 50 tahun sudah sepertiga waktu hidupmu habis di bangku sekolah!

Advertisement

Sudah bayar mahal, apakah yang kamu dapat juga nyaman? Jawabannya nggak. Sekolah dari SD sampai SMA seringnya hanya membekalimu dengan kemampuan menghapal. Sampai hampir lulus SMA kemampuan memprioritaskan sesuatu masih sering nol besar. Alhasil kamu berubah jadi kelelawar berbentuk manusia saat kuliah. Begadang demi meneyelesaikan tugas dengan berdarah-darah.

Kamu anggap ini perjuangan. Teman-teman melihatmu sebagai pekerja keras. Padahal kamunya saja yang tak bisa membagi waktu dengan pas.

Dapat ijazah, langkahmu selanjutnya lebih miris lagi. Kebanyakan dari kita diterima kerja di pekerjaan yang labelnya ‘Semua jurusan.’ Kamu harus mulai dari nol — belajar ulang!

Persaingan masuk perusahan besar sangat ketat. via news.okezone.com

Gelar sarjana yang kamu dapat bukan akhir dari perjuangan belajar. Setelah menempuh jenjang perkuliahan dan mendapat gelar sarjana dari kampus terkemuka, kamu sibuk mencari kerja. Membawa map berisi CV dan surat lamaran kesana kemari demi bisa mendapat penghasilan sendiri.

Karena lapangan pekerjaan yang makin sedikit kamu pun harus rela mendaftar kerja di pekerjaan yang nggak ada nyambung-nyambungnya dengan jurusan kuliahmu.

“Nggak papa lah, demi membanggakan orangtua dan nggak nganggur-nganggur amat. Jalani aja…”

Tapi ini artinya kamu harus belajar lagi. Pendidikan selama ini cuma membentukmu jadi tong yang siap diisi. Bukan jadi pekerja yang siap terjun ke lapangan dengan ilmu yang dimiliki.

Katanya udah kerja. Tapi kenyataannya masih sering merepotkan orangtua. Kenapa? Karena gaya hidup nggak disesuaikan sama level gaji sebagai pegawai muda

Bahkan minta uang ke orangtua pun hanya lewat telpon via www.huffingtonpost.com

Karena duniamu sudah beralih dari mahasiswa biasa ke the so called eksekutif muda, tuntutan gaya hidupmu juga semakin tinggi. Jika dulu kamu hanya seorang anak sederhana yang memakai kaos seadanya, sekarang pakaian branded jadi hal wajib dikehidupan sehari-harimu. Jalan-jalan bareng teman juga merupakan agenda wajibmu agar tak keluar dari lingkaran gaul yang teman-temanmu.

Padahal berapa sih gaji fresh graduates di dunia kerja? Kalau mau rasional itu cuma cukup buat makan sehari-hari, biaya kost, sama senang-senang sesekali. Sayang, seringnya kebalikannya yang terjadi. Kamu nggak mau kost di tempat yang tanpa AC karena di rumah terbiasa pakai AC. Walau bikin kantung bolong kamu juga nggak mikir dua kali buat mampir ke gerai kopi yang satu gelasnya dibanderol 50 ribu. Menjelang pertengahan bulan, duit di rekening sudah tiris dan minta diselamatkan.

Jalan satu-satunya adalah kembali menjadi seperti mahasiswa dengan meminta orangtua. Malu? Ada memang rasa malu terselip dibenakmu. Tapi apa mau dikata, tuntutan gaya hidup sudah terlalu besar untuk diacuhkan.

Pengeluaran impulsif kita layak dapat label, ‘Buat Apa?’ Buat apa beli baju baru, gadget baru, manjain pacarmu. Kalau intinya bukan itu yang jadi penanda settle nya hidupmu

Barang-barang bermerek menjadi tuntutan via mensfashionblog3r.tumblr.com

Dengan status anak muda yang udah punya duit sendiri kamu merasa punya kebebasan soal memanfaatkan gaji. Setiap tanggal 25 atau tanggal 1 kamu jadi amnesia kalau selama ini sebenarnya masih merepotkan orangtuamu.

Beli gadget baru, nongkrong dan makan di tempat baru, sampai traktir pacar demi menunjukkan rasa cintamu. Walau habis itu sedih kalau lihat saldo rekening sendiri.

Kalau ada sedikit sisa gaji, kamu akan mencoba untuk mengirimkannya kepada orangtua. Dengan harapan bisa membuat mereka bahagia. Bikin mereka bangga anaknya kini sudah bisa sedikit membantu. Tapi apa iya itu yang jadi definisi mapannya hidupmu? Sementara semua keriaan terunggah di media sosialmu sebenarnya cicilan KPR sampai auto debit tabungan rencana masih menunggu.

Apa iya tujuan akhir kita-kita ini sekolah lama-lama cuma buat jadi mesin pencetak uang? Apa nggak sayang?

Ingatlah ayah dan ibumu yang sangat menyayangimu via picterest.info

Sebenarnya apa sih yang paling kita ingin capai dan diharapkan oleh orang-orang terdekat? Apakah mereka hanya ingin cipratan materi? Atau mereka butuh kiriman kado dan hadiah agar mereka tahu bahwa kamu sudah sukses?

Itu pandangan orang. Sekarang tanya sendiri ke dirimu. Apa ‘cuma ini’ yang kamu cari? Apa ijazah, kartu nama, pass card masuk ke gedung tinggi, dan kubikel yang jadi tempat bernaungmu sehari-hari sudah membuatmu merasa tuntas jadi manusia? Atau masih ada pencapaian lain yang seharusnya masih kamu usahakan sekuat tenaga?
Kita ini kadang sombong sebagai anak muda. Merasa sudah bisa mengumpukan uang, lalu fokus ke itu saja. Lupa — kalau bukan cuma kado dan pemberian saja yang bisa membuat orang-orang tersayang bahagia.

Kita sekolah lama-lama, bakar uang orangtua (harusnya) bukan untuk berubah jadi mesin pencetak uang yang tak punya cinta.

Itu yang saya percaya. Kalau kamu bagaimana?