Perubahan itu hal lumrah. Cenderung menegangkan, namun tak bisa dihindarkan. Banyak yang nggak suka perubahan, namun nggak sedikit juga yang nggak sabar menantikan. Tapi bagaimana kalau ternyata setelah usia mencapai 25-an, tak ada tanda-tanda perubahan signifikan dalam hidupmu? Flat, lurus nyaris terasa membosankan hidupmu. Sementara, kalau dilihat dari feed Instagram teman-temanmu seangkatan sudah beranjak menikah, pindah ke kantor baru yang lebih bergengsi atau foto-foto dengan latar pemandangan luar negeri.

Gelisah? Sedih? Iri?

Advertisement

Hmm. Sebelum kamu buru-buru berusaha mengingkari dalam hati, Hipwee ingin kamu tahu kalau hal yang kamu rasakan itu wajar adanya. Tapi jadi nggak positif kalau malah membuatmu sedih berlarut-larut, nggak bersyukur dan nggak produktif karena kebosanan ini. Wajar kok, jelang akhir usia 25, kamu mulai bertanya-tanya kenapa hidupmu masih mentok di tempat yang sama, sementara yang seumuran sudah beralih ke timeline hidup selangkah di depanmu. Tapi ingat, ada 7 alasan logis yang masih bisa kamu pegang erat untuk jadi bekal tetap kuat jalani hari-harimu yang terasa jalan di tempat, seperti yang akan Hipwee jabarkan untukmu kali ini.

1. Karena kamu masih diberi kesempatan untuk jadi sosok yang lebih baik lagi saat membuka mata, merasakan matahari pagi dan berangkat kerja

Bersyukur lo, masih bisa bangun pagi ini~ via www.pexels.com

Ada 105 orang meninggal setiap 1 menit dan bisa saja kamu jadi salah satunya. Tapi buktinya, kamu masih bisa bernafas dan masih bisa membaca undangan nikah di grup hari ini kan? Atau membaca ada satu lagi berita di grup, tentang teman yang baru keterima beasiswa idamannya. Nggak apa, toh kamu masih diberi kesempatan hidup untuk juga meraihnya di waktumu yang terbaik.

2. Menikah bukan perlombaan. Kalau menikah adalah perlombaan, lantas apa hadiahnya? Jangan khawatir, jodoh sudah diatur di waktu terbaik dan nggak perlu diburu sebelum waktunya

Teman nikah duluan? Ikut happy aja~ via www.lenzo.com.au

Tanya deh ke setiap mereka, yang sudah menikah lebih dari setahun atau 2 tahun. Apakah mereka akan menceritakan pernikahan seindah bayanganmu? Bayangkan kalau kamu terburu-buru mencari pasangan dan terjebak dengan orang yang salah selamanya, pasti nggak bakalan asyik dan ujung-ujungnya berantakan. Daripada mengutuki nasib, karena ‘ketinggalan’ nikah dari teman seangkatan, mending bersyukur kamu masih dikasih waktu ‘main’ lebih banyak. Nggak semua orang punya timeline berkeluarga yang sama kan?

3. Dibandingkan dengan Si ABCD yang seangkatan denganmu di lingkaran keluarga, memang mengesalkan. Tapi ingat, perjuangan dan lika liku masalah setiap orang kan berbeda

Bodo amat aja yuk~ via www.pexels.com

Advertisement

Ada yang pacaran gonta-ganti semasa SMA, ternyata nikahnya di atas kepala 3. Ada pula yang nggak pernah pacaran semasa kuliah, begitu wisuda langsung nikah. Ada yang lulus kuliahnya Summa Cumlaude pas 4 tahun, tapi belum dapat kerja (atau jadi kutu loncat tempat kerja). Ada pula yang kuliah lama sampai nyaris jadi MA (Mahasiswa Abadi) tapi begitu lulus langsung keterima kerja. Tenang, semua punya timeline hidup masing-masing. Nggak usah pusingin atau jadi berusaha ngejar ‘waktu’ orang lain sampai membabi buta. Boleh dijadikan motivasi, tapi nggak usah sampai jadi dengki. Toh hidupmu kamu kan yang jalani?

4. Nggak usah sedih lihat unggahan teman-teman seangkatan yang bolak balik keluar negeri, karena kamu pun bisa berpergian jauh mencari pengalaman dengan modal niat dan nekat sesekali

Mau liburan juga? Ya usaha dong! via www.pexels.com

Lebih mudah mengatur feed di Instagram daripada mengatuh hidup sungguhan. Jadi nggak usah jadi dengki, lihat foto-foto bahagia teman seangkatan yang seolah tak ada habisnya. Itu artinya, mereka sudah pandai memilah mana yang pantas dibagikan dan mana yang sebaiknya disimpan. Bukankah berbagi kebahagiaan itu lebih berfaedah daripada berbagi kesedihan dan keluhan? Nggak ada yang suka lihat, kecil pula kemungkinan orang berminat bantu. Kalau kamu bijak, harusnya itu jadi pemacu, biar bisa nabung lebih cermat dan jalan-jalan tahun depan!

5. Masih bertahan di perusahaan yang sama, atau nggak meraih beasiswa idaman itu bukan salah siapa-siapa. Bisa jadi, temanmu ini sudah mencoba berkali-kali dan lebih keras darimu

Kerjakan yang buatmu merasa bahagia dan bermanfaat! via www.pexels.com

Jangan salahkan siapa-siapa, kalau kamu merasa masih mentok di posisi yang sama, gaji yang sama, lingkaran pertemanan yang sama bahkan nggak bisa dapat beasiswa kayak si anu anu itu di luar sana. Bisa jadi, mereka berdoa lebih keras, mencoba lebih banyak, berjuang lebih kuat untuk bisa meraih apa yang sekarang kamu lihat. Kalau kamu masih ogah beranjak dari zona nyaman, apa mungkin hidupmu bakal bisa maju dari yang sekarang?

Hidup itu pilihan. Kamu yang menentukan, di usia 25 mau jadi apa seperti siapa. Nggak usah takut mencoba hal baru, selama itu positif dan bisa membuatmu merasa tertantang. #ManusiaBolehBerencana tapi tantangan akan memberikan pembelajaran baru dalam hidupmu, entah berhasil mencapai gol hidup atau belum. Mumpung masih 25-an, yuk jangan sedih doang tiap lihat perkembangan teman seangkatan yang selangkah di depan. Move on dan berusaha juga jangan mau ketinggalan. Orang sukses bukan tak pernah gagal. Tapi dia mencoba lebih gigih dari orang normal. Jatuh 1000 kali, bangkit 1001 kali. Semangat yuk, jangan sedih lagi~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya