“Aku mau jadi sopir truk, Kak.”

“Kalau aku jadi tukang bangunan.”

Sesederhana itu. Iya, itu adalah impian beberapa siswa yang pernah saya kunjungi di daerah pedalaman. Jujur, dua profesi itu yang sampai sekarang masih tertanam di benak saya. Saat yang lain berlomba-lomba mau jadi dokter, polisi, guru, atau astronot, mereka cuma mau itu, nggak mau aneh-aneh, nggak mau muluk-muluk. Sedih sih, karena sepertinya mereka masih takut bermimpi, takut harapannya ketinggian. Meskipun mulut saya sampai berbusa ngasih tahu mereka kalau di dunia ini ada sejuta profesi yang bisa diraih asal punya kemauan, mereka tetap kukuhmau jadi kayak orangtuanya. Jeng!

Advertisement

Cuplikan cerita di atas saya alami saat dapat kesempatan berkunjung ke sebuah sekolah pedalaman di Wonosobo. Yap, saat ini selain sibuk jadi budak wordpress (baca: penulis Hipwee), saya juga aktif di sebuah komunitas sosial yang fokus pada pendidikan di daerah pedalaman. Saya heran sendiri sih kenapa orang yang waktu KKN kalau didekati anak-anak malah sembunyi, sekarang jadi suka banget kluyuran ke SD-SD di pelosok buat ngajar! Tapi sejauh yang saya tahu, ‘jalaran saka kulina‘ ternyata nggak cuma berlaku bagi insan-insan muda penuh gelora asmara.

Nah, waktu giliran menulis Hipwee Jurnal tiba, saya kepikiran buat cerita soal seribu manfaat kulit manggis yang kini ada ekstraknya. Nggak deng. Saya ingin cerita soal keuntungan-keuntungan yang bisa diraih kalau gabung komunitas sosial meski udah jadi pekerja kantoran. Walau sebenarnya harus mati-matian penuh peluh dan darah buat bagi waktu, tapi sederet benefitnya ini jelas nggak bisa dibayar pakai semangkuk Marugame Udon sekalipun!

1. Nggak cuma menambah anak aja yang bisa nambah rezeki, menambah relasi juga bisa lho! Kamu juga jadi punya kesempatan belajar lebih banyak

Berpartisipasi di acara KKN mahasiswa UGM via Hipwee

Sebenarnya gabung di komunitas apapun asal bukan komunitas anti Ayu Ting Ting-Ayu Ting Ting Club bakal ngasih beragam keuntungan sih, salah satunya menambah relasi. Kalau relasi makin luas, tentu aja kesempatan kamu buat belajar bisa lebih banyak. Apalagi kalau itu bukan komunitas kampus. Orang yang ada di dalamnya bisa dari berbagai macam latar belakang, suku, agama, budaya, kebiasaan, dan cara pandang. Belum lagi kalau jadi anak komunitas tuh udah pasti jadi kenal sama banyak orang dari komunitas lain. Bisa dibayangkan betapa melimpahnya kesempatan buat cari jodoh (lho).

2. Kamu juga bisa belajar cara untuk bersyukur lewat kegiatan-kegiatan sosial seperti mengajar atau berbagi ke adik-adik di pelosok negeri

Belajar bersyukur lewat kegiatan sosial via Hipwee

Advertisement

Dibanding cuma sibuk mantengin galeri Instagram artis-artis yang kayaknya nggak pernah absen menjelajah luar negeri, mending kamu daftar komunitas sosial deh. Ya buat apa gitu punya kesempatan hidup sekali doang cuma dipakai buat berlomba-lomba beli tas baru, gara-gara habis lihat Kendall Jenner upload tas kece-nya. Atau jauh-jauhan liburan yang merogoh kocek sedalam samudera, setelah tahu temannya baru pulang dari Skotlandia. Wah selain nggak akan ada habisnya, menuruti nafsu tuh cuma bakal semakin membuat kita lupa caranya bersyukur.

3. Jadi anak komunitas itu bakal memperluas kesempatan bisa diundang ke radio atau jadi pembicara di banyak acara lho

Diundang ke radio via Hipwee

Apalagi kalau kamu menjabat sebagai anggota di divisi humas atau eksternal. Tentu kesempatanmu untuk bisa bicara di depan publik akan semakin besar. Banyak lho media massa yang tertarik buat ngobrol sama orang-orang komunitas sosial dan bikin liputan tentang kegiatan mereka. Begitu pun instansi pendidikan. Mereka juga sering minta bantuan kami buat ngasih materi motivasi dan sejenisnya. Nah kesempatan emas ini bisa kamu manfaatkan buat melatih kemampuan public speaking-mu. Biar nggak kagol saat suatu hari harus melamar pujaan hati. Ceileh!

4. Gabung di komunitas bisa bikin kamu jadi lebih peduli sama isu-isu sosial lho. Sesekali nggak cuma hidup sendiri aja yang dipikirin

Jadi peduli sama isu sosial via Hipwee

Terlalu sibuk sama dunia sendiri bakal bikin kamu ‘buta’ sama dunia sekitar. Kamu nggak akan sadar kalau ternyata masih banyak orang berkekurangan yang butuh dibantu. Kamu nggak akan sadar kalau pendidikan di negeri tercinta ini masih jauh dari kata baik. Kamu juga nggak akan sadar kalau adik-adik di pedalaman harus menunggu sumbangan sepatu dulu kalau mau punya sepatu baru. See? Dunia nggak melulu soal harga barang keluarga Raffi Ahmad lho!

5. Jadi pekerja kantoran yang juga aktif di komunitas sosial jelas menuntut buat bisa pintar-pintar bagi waktu. Di sini time-management skill-mu bakal otomatis terasah

Mengasah kemampuan time-management via essentialsofbusiness.ufexec.ufl.edu

Memang sih awal-awal bakal susah apalagi kalau sebelumnya kamu nggak terbiasa sibuk (kayak saya). Jadi berasanya waktu istirahat itu terpangkas gila-gilaan. Kalau dulu kita biasa disibukkan dengan leyeh-leyeh-yang-kalau-nggak-jam 12 siang-nggak-bangun saat weekend, sekarang kita harus rela melewatkannya karena kudu rapat atau blusukan. Kadang pulang kantor juga masih ada aja yang harus diurus. Dan baru bisa pulang jam 9-10an malam.

Capek sih, apalagi nggak dibayar kan. Tapi kalau lihat keuntungannya, bakal sebanding kok sama setiap usahamu. Ingat, di dunia ini yang instan itu cuma Indomie.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya