Menjadi dewasa itu tak mudah. Harus menjaga pemikiran dan sikap. Yang paling krusial, ada banyak tantangan yang harus dihadapi saat kamu beranjak dewasa. Dan di usia 25 lah setiap orang diharuskan sekaligus dipercaya untuk menjadi dewasa. Jadi tak perlu heran, kalau di usia 25 kamu akan berhadapan langsung dengan persimpangan hidup yang memang cuma dirimu yang bisa menentukannya. Kamu mau berbelok ke kanan atau kiri, lurus saja ke depan atau diam di tempat sejenak. Semua pilihanmu.

Sementara momen perubahan yang sering disebut quarter life crisis ini kadang memicu kegalauan yang berkepanjangan. Bahkan ada yang sampai mempertanyakan arah tujuan hidupnya. Mengkhawatirkan? Jelas. Karena kamu mau memilih jalan kiri atau kanan, berlari maju atau berdiam sejenak, semua ada konsekuensinya.

1. Saat kamu harus memilih mengejar passion atau mempertahankan penghasilan dan jabatan yang aman

Gaji/passion? via www.pexels.com

Ingat saat masih kuliah? Kamu punya segudang rencana untuk mengejar mimpi dan passionmu kelak setelah sarjana. Namun semua berubah begitu kamu memasuki dunia kerja. Kamu justru memasuki dunia yang tidak kamu inginkan, namun menawarkan kenyamanan. Setelah bertahun-tahun kerja, kamu mulai teringat dan berpikir tentang passion yang sempat kamu mimpikan. Kamu pun akan bimbang untuk menentukan arah selanjutnya. Melanjutkan pekerjaan yang memberi keamanan finansial atau mulai mengejar passion meski harus mulai dari awal?

2. Ingin jalan-jalan keliling dunia tapi di sisi lain kamu perlu menabung juga. Masa depan dan peningkatan kebutuhan sudah di depan mata

mau traveling terpentok biaya via www.pexels.com

Usia 25 bisa dibilang masih masuk kategori usia muda. Usia yang masih haus akan pengalaman dan tantangan, salah satunya persoalan seberapa berani kamu melangkahkan kaki dari rumah. Lalu melihat dan berkenalan dengan dunia luar. Tak heran kalau kamu punya keinginan untuk bisa jalan-jalan melihat indahnya dunia.

Namun terkadang kenyataan berkata sebaliknya. Bukannya tak punya uang, tapi kebutuhanmu pun banyaknya tak karuan. Mulai dari tuntutan masa depan, keinginan membahagiakan orang tua, sampai rencana untuk lanjut sekolah lagi. Keinginan untuk jalan-jalan terhalang tuntutan untuk menambah nominal tabungan setiap bulannya.

3. Kebutuhan yang semakin meningkat karena tuntutan gaya hidup. Di sisi lain, kamu ingin tabunganmu bertambah setiap bulannya

Gaya hidup via www.pexels.com

Hidup hemat memang sulit, karena pasti ada saja kebutuhan tak terduga atau hasrat yang sulit untuk dibendung. Apalagi kalau kamu mengikuti tuntutan gaya hidup, seperti penampilan, kewajiban nongkrong fancy, sampai urusan gawai yang kalau tidak baru bakal dicap ketinggalan zaman. Sementara di usia 25 kamu harus memikirkan pegangan untuk masa depan. Kelak kamu punya kewajiban membahagiakan orangtua mungkin dengan bantu cukupi kebutuhan dihari tua mereka. Belum lagi kalau kamu menikah, jelas ada kebutuhan yang sangat besar menanti di depan.

Jadi, kamu mau terus menghambur-hamburkan uang, atau mulai mengencangkan sedikit lagi ikat pinggang?

4. Pertemanan yang mulai berubah haluan, mau mengikuti arus atau fokus mengejar masa depan

teman-teman mulai menghilang via unsplash.com

Jangan kaget kalau temanmu perlahan-lahan menghilang. Ada yang sudah memutuskan untuk lebih fokus dengan pekerjaannya. Ada yang waktunya berkurang karena memang sudah punya keluarga kecil yang harus diurus. Ada juga yang masih bisa diajak senang-senang. Kadang teman-teman yang setia di sisi ini pula yang mengajakmu main ke sana-kemari. Mengharuskanmu mengikuti gaya hidup mereka, yang kadang sulit untuk diikuti.

Maka di usia 25 ini, kamu memang sudah harus menentukan mau sampai kapan hidup cuma mengikuti arus? Atau mulai berpindah haluan, mencari teman-teman yang bisa diajak berkembang bersama. Setia pada teman yang telah lama menemani atau mulai mencari teman baru demi bisa memperbaiki diri. Pilihan yang mana?

5. Sibuk mengejar karier dan cita-cita, kamu mulai sadar bahwa waktumu berhubungan dengan orang tua semakin berkurang

memikirkan orangtua via www.123rf.com

Terlebih untuk anak rantau, kegalauan ini tak main-main beratnya. Sementara usiamu bertambah, uban di rambut orang tuamu pun bertambah. Kamu jauh di luar kota sibuk mengejar cita-cita, sampai terkadang menelepon ke rumah seminggu sekali saja lupa. Sebenarnya kamu ingin kembali ke rumah, menemani Ayah dan Ibu menjalani hari tua. Menjadi sandaran mereka ketika pinggul semakin gampang pegal. Namun itu artinya kamu harus meninggalkan pekerjaan dan kehidupan yang kamu jalani di tanah rantau, demi kembali ke kota kelahiran, dengan tanda tanya besar tentang apa yang bisa kamu lakukan. Mana yang kamu jadikan pilihan?

Di momen-momen ini, hidup bisa terasa begitu berat. Hilang motivasi setiap terbangun di pagi hari hal yang biasa. Sebab kamu sendiri pun bingung menentukan ingin membawa hidupmu ini ke mana. Namun ingatlah bahwa ini adalah sebuah proses yang harus dijalani. Kebimbangan itu memang menyiksa, namun bila kamu sanggup melewatinya, hidupmu akan naik satu tingkat lagi. Sebab kuncinya hanya satu: taklukkan bimbangmu #RaihSuksesmu.

Pada persimpangan itu, kamu akan belajar banyak hal. Belajar menganalisa setiap kemungkinan yang ada, dan belajar bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya. Dan yang terpenting, kamu belajar mengenali diri sendiri. Sebab dari sanalah, kamu bisa mengambil satu pilihan yang paling pas untuk diri sendiri.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya